Tujuh Mitos Pernikahan Orang Jawa

BNews—MAGELANG— Masyarakat jawa biasanya sangat memperhatikan hal kecil hingga yang besar. Termasuk salah satunya terkait perihal pernikahan, mulai dari jodoh, persiapan waktu dan saat pelaksaan biasanya sangat diperhatikan melalui sebuah hitungan.

Banyak pantangan-pantangan juga yang biasanya harus dilaksanakan. Hal ini sering disebut Mitos yang belum jelas kebenarannya. Dan kali ini kita coba rangkum beberapa Mitos Jawa terkait pernikahan.

Tidak Boleh Menikah di Bulan Syuro (Muharram)

Ini sola waktu pelaksaan pernikahan, dimana masyarakat Jawa untuk menikah di bulan Syuro atau Muharram itu biasanya dihindari. Bulan tersebut dipercaya sebagai bulan keramat bagi masyarakat di Jawa, sehingga mereka jangan sampai melanggarnya untuk menggelar hajatan apalagi pernikahan di bulan ini. Jika larangan ini dilanggar, masyarakat percaya akan datang malapetaka atau musibah bagi pasangan yang menggelar pernikahan serta kedua keluarga besar mereka. Oleh sebab itu di Jawa khususnya Jawa Tengah hampir tidak ada prosesi pernikahan pada waktu ini.

Loading...

Pernikahan Jilu/Lusan (Siji karo Telu/Katelu dan Sepisan)

Masyarakat jawa juga menilai bahwa pernikahan Jilu atau Siji karo Telu yakni pernikahan anak nomor satu dan anak nomor tiga sebaiknya dihindari. Beberapa masyarakat percaya jika pernikahan ini bisa mendatangkan banyak cobaan dan masalah di dalamnya jika tetap dilangsungkan. Perbedaan karakter yang terlalu jauh dari anak nomor 1 dan 3 juga menjadi pertimbangan penuh kenapa pernikahan ini sebaiknya dihindari.

Posisi Rumah Calon Pengantin Tidak Boleh Berhadapan

Hal ini banyak di percaya di daerah Jawa Timur, posisi rumah calon mempelai yang saling berhadapan dilarang untuk menikah. Jika kedua calon mempelai tetap menikah, dikhawatirkan akan datang berbagai masalah di kehidupan rumah tangga mereka. Jika memang keduanya tetap ingin menikah, solusinya adalah salah satu rumah calon mempelai direnovasi hingga posisinya tidak lagi berhadapan. Atau, salah satu calon mempelai dibuang dari keluarganya dan diangkat oleh kerabat mereka yang posisi rumahnya tidak berhadapan dengan calon mempelai lainnya.


Pernikahan Siji Jejer Telu (Pernikahan Satu Berjejer Tiga)

Dimaksud pernikahan siji jejer telu adalah ketika kedua calon mempelai sama-sama anak nomor 1 dan salah satu orang tua mereka juga anak nomor 1 di keluarganya. Jika pernikahan ini tetap dilangsungkan, sebagian masyarakat percaya bahwa pernikahan ini akan mendatangkan sial dan malapetaka. Oleh sebab itu banyak orang tua di Jawa sering banyak bertanya terkait keluarga calon menantunya termasuk urutan anak keberapa si calon menantu ataupun calon besannya.


 
Weton Jodoh

Ketika hendak melangsungkan pernikahan, di masyarakat Jawa akan ada yang namanya perhitungan weton jodoh atau kecocokan pasangan. Ada beberapa weton yang nantinya tidak bisa cocok atau berjodoh.

Karena ketidakcocokan ini, beberapa masyarakat percaya jika pernikahan tersebut sebaiknya tidak dilangsungkan atau dibatalkan saja. Sebenarnya untuk weton ini juga berlaku dalam keseharian mereka, weton menjadi hal yang sangat penting bagi orang Jawa, kebanyakan mereka melakukan suatu hal harus berdasarkan wetonnya. Ini yang sering menggagalkan pernikahan beberapa pasangan di Jawa.


 
Tidak Boleh Menikah di Tanggal Lahir

Menentukan tanggal pernikahan bagi orang Jawa sangatlah penting, karena jika salah dalam memilih tanggal pernikahan, diyakini akan mendapatkan kesialan. Namun sebaliknya, jika tepat dalam memilih tanggal pernikahan maka pernikahan tersebut diyakini akan berjalan dengan lancar dan mendapatkan keberuntungan.

Selain tanggal dan bulan-bulan tertentu, orang Jawa juga  meyakini bahwa jika acara pernikahan dilaksanakan pada tanggal kelahiran mempelai pria, maka pernikahan tersebut akan membawa keberuntungan bagi kedua mempelai dan juga terhindar dari malapetaka.

Kado Pernikahan

Di setiap pernikahan, banyak tamu yang hadir dengan membawa kado untuk diberikan kepada kedua mempelai sebagai doa dan ucapan selamat. Menurut mitos Jawa, hendaklah kado pertama yang dibuka adalah sesuatu yang dipakai pertama kali ketika akan mulai menapaki kehidupan berkeluarga. Bila hal tersebut dilakukan, maka diyakini keluarga baru tersebut akan mendapatkan keberuntungan.

Ke tujuh hal tersebut merupakan beberapa Mitos pernikahan di Jawa dari ratusan bahkan ribuan mitos yang beredar di masyarakat. Kepercayaan kepada hal tersebut kembali ke masing-masing individu itu sendiri, karena kebanyakan hal tersebut sudah masuk dalam adat dan budaya atau kebiasaan masyarakat di jawa. (Internet/bsn)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: