WOW… Peyek Petho Asal Magelang Go Internasional Hingga Belanda

BNews—MAGELANG— Indonesia dikenal tidak hanya memiliki kekayaan budaya dan sumber daya alam, namun juga memiliki ragam kuliner dengan ciri khas di setiap daerah. Salah satu penganan atau camilan yang kepopulerannya nyaris menyamai kerupuk sebagai teman makan adalah peyek.

Jenis peyek, utamanya bagi masyarakat Magelang dikenal sangat beragam. Mulai Peyek Paru, Peyek Kacang, Peyek Teri, Peyak Bayam hingga Peyek Petho. Peyek yang terakhir ini bahkan dikabarkan sudah Go Internasional hingga Belanda.

Bagi yang belum tahu, dinamakan Peyek Petho karena camilan renyah ini berbahan campuran ikan berukuran kecil yang ditemukan di aliran sungai perdesaan. Belakangan, gencarnya pembangunan rumah hingga pencemaran limbah membuat Ikan Cempli atau Petho, begitu masyarakat menyebut, kian sulit ditemui di alam bebas.

Apalagi, Ikan Petho merupakan jenis ikan air tawar yang sulit bahkan tidak bisa dibudidayakan. Sebab, ikan mungil ini hidupnya bergerombol di air jernih mengalir, bukan di genangan air.

Salah satu pelaku usaha pembuatan Peyek Petho ada di Dusun Mertan, Desa Paremono, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. Daroyah, warga setempat ini mengaku menjadi perintis atau yang pertama kali memproduksi peyek jenis tersebut di kampungnya.

Peyek Petho Ibu Daroyah yang renyah nan guru ini diketahui sudah eksis sejak tahun 1990. Ia mengatakan, awal mula merintis usaha peyek dimana bisnis kuliner ini berangkat dari ketidaksengajaan.

Daroyah mengungkapkan, saat itu sang suami, Nasipah, mencari ikan pesanan si juragan di desa lain. Suatu hari si juragan tersebut sedang tidak ada dirumah karena ada acara di luar kota sehingga ikan pesanan dikembalikan.

”Terus dibawa pulang, sama Saya digoreng jadi peyek. Ternyata malah laku dijual,” ungkapnya.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DI SINI)

Sejak itu, dirinya mulai serius menggeluti bisnis Peyek Pethol. Hingga kini, dalam sehari ia membuat satu adonan peyek sebanyak sepuluh kilogram dan digoreng jadi peyek petho menjadi 13 kilogram.

”Satu adonan itu memerlukan enam kilogram Ikan Petho,” terangnya.

Ia menerangkan, peyek produksinya ini diakui tidak pernah disetor kemanapun. Ia hanya menerima konsumen yang datang ke rumahnya atau via pesan daring yang dikelola anaknya, Solikhin, 28.

”Kebanyakan orang tahu dari saudara-saudara yang bawa oleh-oleh, kemudian mereka malah beli langsung ke sini,” ujarnya.

Ucap dia, selain banyak pemesan dari berbagai daerah seperti Malang hingga Jakarta, ternyata peyek buatannya sudah diekspor hingga mancanegara. ”Ini (peyek) sudah sampai Belanda. ada orang Secang yang kerja di sana, tiap pulang ke sini bawa peyek ke sana. Di sana bisa sampai setahun kok tidak apa-apa katanya,” ucapnya. Padahal, Peyek Petho miliknya bisa bertahan sampai lima bulan jika disimpan dalam wadah tertutup.

Jelang Ramadan, pesanan Peyek Petho Bu Daroyah selalu banjir pesanan. Bahkan, saat ini ia mengaku sudah menutup pesanan untuk Hari Raya Idul Fitri karena jumlahnya sudah sangat banyak.

”Kalau diladeni semua pesanan lebaran bisa sampai 1 ton,” pungkasnya. (ifa/han)

.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: