72 Hotel & Restoran Jogja Tutup Permanen Imbas Perpanjangan PPKM Level 4

BNews—JOGJAKARTA— Pelaku usaha maupun tenaga kerja bisnis perhotelan baik bintang maupun nonbintang dan restoran di DIJ semakin terpuruk. Hal ini tidak lain dari biang kembali diperpanjangnya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 hingga 30 Agustus 2021.

Kebijakan yang masih belum memperbolehkan tempat wisata dibuka ini membuat sebanyak 72 pelaku usaha hotel dan restoran gulung tikar alias tutup permanen. Ketua BPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Deddy Pranowo Eryono mengakui hotel dan restoran yang tutup permanen semakin bertambah cukup banyak.

”Akibat kebijakan PPKM. Sebelumnya dilaporkan sebanyak 50-an hotel dan restoran yang tutup permanen. Kini bertambah semakin banyak menjadi 72 hotel dan restoran di DIJ,” katanya, belum lama ini, (26/8).

”Sebanyak 72 hotel dan restoran anggota PHRI DIJ melaporkan diri secara lisan, mereka menyatakan tutup permanen karena PPKM ini. Dampak kebijakan pengetatan sampai belum dibukanya tempat wisata tersebut sangatlah luar biasa,” sambungnya.

Deddy mengatakan dari jumlah hotel dan restoran yang dilaporkan tutup permanen tersebut rinciannya 42 hotel dan 30 restoran. Mayoritas hotel yang tutup permanen di DIJ adalah hotel nonbintang, sedang restoran mayoritas yang kecil.

”Laporan tersebut baru dari anggota PHRI DIJ, diperkirakan hotel dan restoran yang bukan anggotanya lebih banyak lagi,” jelasnya.

”Selain banyak pelaku usaha hotel dan restoran yang gulung tikar, jumlah karyawan hotel dan restoran yang terdampak pun tinggi. Dari sekitar 60 ribu karyawan, 70 persen diantaranya sudah dirumahkan sejak awal pandemi sampai sekarang,” tambahnya.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DI SINI)

General Manager Hotel Ruba Grha Yogyakarta ini menyatakan nasib yang dialami sektor akomodasi dan restoran ini pun terjadi. Dan berimbas terhadap supplier dalam hal ini pelaku UMKM atau industri kreatif lainnya.

Di sisi lain, uji buka pembukaan mal setidaknya memberikan sedikit angin segar. Meskipun tempat wisata belum boleh beroperasional sejak awal PPKM sampai sekarang.

’Kami telah meminta ada kejelasan kapan tempat wisata benar-benar dibuka karena berhubungan budgeting planning bagi pelaku usaha hotel dan restoran di DIJ. Bisnis itu perlu persiapan matang dan rencana, tidak langsung asal-asalan butuh kepastian dan data,” pungkasnya. (ifa/han)

Sumber: KR Jogja

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: