Mobilitas Tinggi Kasus Covid-19 di Sleman Tertinggi

BNews—SLEMAN— Kasus Covid-19 di Jogjakarta masih didominasi oleh Kabupaten Sleman. Kondisi ini diduga dipengaruhi oleh mobilitas warganya yang masih tinggi.

Pemerintah Kabupaten Sleman mencatat 1010 orang dalam pemantauan (ODP), 113 pasien dalam pengawasan (ODP) serta 20 kasus positif COVID-19. Jumlah ODP tertinggi di Kabupaten Sleman ditempati oleh Kecamatan Sleman.

Melihat data yang ada, jumlah ODP COVID-19 di Kabupaten Sleman tertinggi ditempati oleh Kecamatan Sleman, yakni terdapat 185 orang. Posisi kedua, ditempati oleh Kecamatan Depok, yang mencapai 184 orang.

Untuk posisi ketiga, ditempati oleh Kecamatan Kalasan yang mencapai 102 orang. Sedangkan kecamatan lain, jumlah kasus ODP tidak sampai mencapai 100 orang.

Untuk kasus PDP, jumlah kasus terbanyak ditempati oleh Kecamatan Depok yang mencapai 25 orang. Kedua ditempati Kecamatan Ngaglik yang mencapai 23 orang. Sedangkan posisi ketiga, ditempati oleh Kecamatan Kalasan dan Mlati yang mencapai 11 orang.


Untuk kasus positif COVID-19, jumlah tertinggi ditempati oleh Kecamatan Ngaglik, yang mencapai 5 kasus. Kedua, Kecamatan Depok yang mencapai 4 kasus dan ketiga Kecamatan Mlati yang mencapai 3 kasus.

Kabag Humas dan Protokol Setda Kabupaten Sleman Shavitri N. Dewi menyebutkan, ada beberapa faktor yang menyebabkan tingginya jumlah ODP, PDP maupun positif COVID-19. Faktor tersebut bukan hanya dikarenakan banyaknya jumlah pemudik, namun juga karena mobilitas tinggi di wilayah yang bersangkutan.


“Jadi asumsinya tidak semua sebagai pemudik. Sebagian kemungkinan karena mobilitas warganya yang cukup tinggi,” ungkapnya.

Shavitri menyebutkan, jika dilihat, masyarakat Sleman sudah cukup bagus bahu membahu dalam menangani COVID-19. Hal tersebut bisa dilihat dari banyaknya masyarakat yang secara sukarela melakukan karantina wilayah di tingkat padukuhan, penyemprotan disinfektan secara mandiri maupun memantau pemudik dan mengingatkan untuk ke faskes bila ada gejala.

Akan tetapi, ada hal lain yang menjadi catatan, seperti masih banyaknya yang keluar rumah tanpa menggunakan masker maupun masih ada yang bergerombol.


“Sayang masih cukup banyak yang keluar rumah gak pakai masker, masih belum jaga jarak, masih banyak bergerombol,” ungkapnya. (her/wan)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: