Alasan Masyarakat Jawa Menggunakan Hitungan Weton Dalam Perjodohan

BNews–MAGELANG– Kebanyakan orang dalam mencari jodoh harusnya  memperhitungkan beberapa hal terlebih dahulu sebelum melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius.

Perhitungan untuk memilih calon pendamping hidup kita tak akan lepas dari yang namanya bibit, bebet, dan bobot-nya.

Ketiga hal itu merupakan suatu istilah sebagai pertimbangan untuk melakukan seleksi tahap awal dalam memilih pasangan yang berkualitas.

Bibit merujuk kepada asal usul, bebet merujuk kepada tingkah laku dan bobot diartikan dengan mutu dari calon pasangan kita.

 Setelah mendapatkan calon pasangan yang sesuai dengan bibit, bebet, dan bobot tersebut, masyarakat Jawa biasanya melangkah lebih lanjut menuju perhitungan weton.

Menurut www.anneahira.com, masyarakat Jawa memiliki berbagai alasan untuk membuat mereka tetap memegang teguh kepercayaan tentang weton ini.

Alasan tersebut antara lain adalah karena weton merupkan sebuah kepercayaan. Ramalan ini sangat erat kaitannya dengan kepercayaan yang secara turun temurun telah dianut sejak lama.

Karena telah dipercayai secara turun temurun, kepercayaan ini telah mendarah daging dalam jiwa dan hati masyarakat Jawa.

 Akan sangat sulit untuk menghilangkan sebuah kepercayaaan yang telah tertanama lekat di hati dan jiwa mereka. Namun jika itu memungkinkan, maka akan membutuhkan waktu yang sangat lama.

Alasan kedua mengapa kepercayaan tentang weton ini masih digunakan adalah, karena hal ini telah semakin berkembang menjadi sebuah kebiasaan masyarakat.

Karena kepercayaan ini telah dianut oleh banyak orang maka, hal ini akan berubah menjadi sebuah kebiasaan yang nantinya berkembang menjadi adat istiadat. (*)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: