Alnusa Regional Jateng & DIJ Dideklarasikan, Siap Garap Potensi Buah Alpukat yang Menjanjikan

BNews—BOROBUDUR— Pengurus Pusat Alpukat Nusantara (Alnusa) resmi mengukuhkan kepengurusan Alnusa Regional Jawa Tengah dan DI Jogjakarta Periode 2021-2024, Minggu (6/6). Komunitas ini bertujuan melestarikan dan mengembangkan potensi perkebunan aplukat yang ada di nusantara, khususnya Jateng dan DIJ.

Penetapan pengurus Alnusa Regional Jawa Tengah dan DI Jogjakarta Periode 2021-2024 berdasarkan Surat Edaran (SE) nomor 006/00/IV/2021. Dalam SE tersebut, diputuskan Muhammad Salman Chalimi SE didapuk menjadi Ketua 1; Ketua 2 Jumat SIP; Sekretaris Heri Susanto SPsi dan Bendahara Suryono Pratikno SH.

”Untuk selanjutnya akan bertugas dan mengembangkan komunitas Alnusa di wilayah Jateng dan DIJ,” ucap pengurus pusat Alnusa Sugito Abdul Hamid saat melantik para pengurus di Balkondes Ngargogondo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang.

Pengukuhan kepengurusan Alnusa Regional Jawa Tengah dan DI Jogjakarta Periode 2021-2024.

Ketua 2 Jumat menuturkan, aplukat dimasa setelah kehidupan normal yang dibutuhkan masyarakat adalah kesehatan. Artinya, gaya hidup bersih dan sehat saat ini menjadi sangat penting.

”Alpukat itu salah satu buah yang kandungannya sangat komplit karena kadar protein dan gizinya tinggi,” tuturnya.

Menangkap potensi alpukat yang tinggi, maka peluang tersebut harus digarap. Tentunya dengan pengelolaan dan manajemen yang baik dan tertata. Sementara di Indonesia masih sangat sedikit yang menggarap dilain sisi permintaan ekspor tinggi sehingga sudah banyak perkebunan yang beralih ke buah tropika tersebut.

”Percontohan paling banyak di Kajoran. Jadi penanaman aplukat bisa di nol hingga 700 di atas permukaan laut (MDPL),” ungkapnya.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DI SINI)

”Borobudur itu cocok karena sekitar 200MDPL dan Kajoran sekitar 700MDPL itu sangat bisa. Apalagi kita harus bangga karena di Kabupaten Magelang diberi tanah yang subur,” sambungnya.

Ketua 2 Alnusa Regional Jawa Tengah dan DI Jogjakarta, Jumat SIP.

Pria yang juga merupakan anggota DPRD Kabupaten Magelang ini menjelaskan, produktivitas tanaman tergantung varietas. Tergantung letak daerah rendah, sedang dan tinggi.

”Untuk tanaman yang paling cepat itu dua tahun dari kira-kira satu meter suah mulai belajar berbuah. Jadi cepat,” ujarnya.

Terkait profit, berkebun alpukat sangat menjanjikan. Semakin panjang umur pohon, misal setelah umur empat hingga puluhan tahun, maka otomatis buah semakin banyak.

Jika diambil rata-rata, satu kuintal saja jika hitung kasar harga termurah Rp10 ribu untuk satu pohon bisa menghasilkan Rp1 juta. Sedang umur yang sudah delapan tahun banyak yang sampai dua hingga tiga kuintal dengan jarak ideal tanam tujuh hingga sepuluh meter antarpohon.

”Khusus alpukat nusantara, itu yang digali adalah alpukat jenis lokal. Taruh misal satu hektare bisa 200 tanaman. Artinya pertahun akan menghasilkan 200 juta,” urainya.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DI SINI)

Lanjut Jumat, potensi alpukat jika dikelola dengan apik dapat menambah nilai ekonomi. Selain bisa dikonsumi, buahnya ternyata bisa dikreasikan menjadi olahan jus atau keripik. Belum daunnya juga bermanfaat untuk pengobatan.

”Nanti yang laku agak tinggi itu yang kadar oil-nya banyak seperti untuk bahan make up (kecantikan). Kalau di Tiongkok, isi buah aplukat sudah diolah menjadi kerajinan tangan yang harganya lumayan tinggi. Itu di Indonesia belum terolah. Jadi alpukat mulai dari daunnya, isinya, apalagi buahnya tidak ada yang terbuang,” terangnya.

Maka dari itu, deklarasi Alnusa Regional Jawa Tengah dan DI Jogjakarta dan kopi darat ini bertujuan disamping menyamakan persepsi, edukasi, juga memberikan tambahan nilai kesejahteraan. Baik oleh pembibit atau perkebunan.

”Ya, menambah nilai kesejahteraan masyarakat. Katakanlah untuk Magelang, untuk Jateng, untuk Indonesia, karena potensinya bagus,” pungkasnya.

Para peseta menerapkan protokol kesehatan ketat di masa pandemi.

Sebagai tambahan, para tamu undangan kopi darat ini diikuti para pengusaha, pembibit, pekebun, akademisi dan eksportir. Dalam pelaksanaan, panitia menerapkan prosedur kesehatan ketat seperti menjaga jarak, menggunakan masker dan rajin mencuci tangan.

Sementara materi yang disampaikan narasumber yakni budidaya, penjualan untuk memenuhi kebutuhan nasional dan permintaan pasar internasional serta pembibitan varietas yang bisa dipercaya.(han)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: