Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Rupiah Diprediksi Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Analis Ungkap Dampak yang Harus Diwaspadai

Rupiah Diprediksi Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Analis Ungkap Dampak yang Harus Diwaspadai

  • calendar_month 8 menit yang lalu

BNews-EKONOMI – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa waktu ke depan. Bahkan, sejumlah analis memprediksi kurs dolar berpotensi menembus level Rp18.000 per dolar AS jika tren pelemahan rupiah terus berlanjut.

Analis komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi menilai level Rp18.000 per dolar AS kini semakin dekat. Bahkan apabila batas tersebut terlewati, rupiah berpotensi melemah lebih dalam lagi.

“Untuk harga rupiah dalam minggu ini kalau tidak kena minggu depan ya itu Rp 18.000 sudah di depan mata. Karena saya melihat kalau Rp 18.000 ini tembus, kemungkinan besar ya ini akan menuju di Rp 18.200,” kata Ibrahim Assuaibi kepada detikcom, Jumat (29/5/2026).

Menurut Ibrahim, jika dolar AS menembus level Rp18.000, dampaknya tidak hanya dirasakan pada sektor keuangan, tetapi juga berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap perekonomian nasional. Salah satunya adalah dampak psikologis bagi investor dan pelaku pasar yang dapat memilih mengalihkan asetnya ke mata uang asing.

Ia menilai, meskipun dolar AS di pasar global mengalami pelemahan, kondisi tersebut belum mampu mendorong penguatan rupiah.

“Walaupun dolar mengalami pelemahan, tetapi tidak berdampak terhadap penguatan mata uang rupiah. Rupiah terus mengalami pelemahan,” ujarnya.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

Ibrahim menjelaskan, masyarakat juga cenderung mengalihkan simpanannya ke tabungan valuta asing ketika melihat peluang penguatan dolar AS semakin besar.

“Pada saat masyarakat melihat bahwa peluang untuk dolar yang terus mengalami penguatan, membuat masyarakat itu mengalihkan tabungannya dari tabungan konvensional ke tabungan valuta asing,” sambung Ibrahim.

Selain berdampak pada sektor keuangan, pelemahan rupiah juga diperkirakan akan meningkatkan harga berbagai komoditas impor maupun produk dalam negeri yang masih bergantung pada bahan baku dari luar negeri.

Sebagai contoh, Indonesia masih mengimpor sebagian besar kebutuhan kedelai. Ketika rupiah melemah, harga kedelai impor akan meningkat dan berdampak pada kenaikan harga berbagai produk olahannya.

“Kita melihat bahwa dampak dari pelemahan mata uang rupiah, ini semua harga-harga itu mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Nah kenaikan inilah yang membuat masyarakat menjerit,” papar Ibrahim.

Pandangan serupa disampaikan Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira. Ia menilai peluang dolar AS menembus level Rp18.000 masih terbuka apabila tekanan terhadap rupiah terus berlangsung.

Menurut Bhima, kondisi tersebut berisiko meningkatkan harga barang impor sekaligus menambah biaya logistik dan distribusi. Padahal banyak industri dalam negeri yang masih mengandalkan bahan baku impor untuk proses produksinya.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

Akibatnya, biaya produksi akan meningkat dan pada akhirnya berdampak pada kenaikan harga barang di tingkat konsumen.

“Nah efek dari ekonomi Indonesia kalau dolarnya menembus Rp 18.000, yang jelas transmisi antara biaya bahan baku dan biaya produksi yang naik kepada harga-harga retail di level masyarakat dan rumah tangga akan semakin cepat gitu,” kata Bhima.

Ia menjelaskan, selama ini kenaikan biaya akibat perubahan nilai tukar biasanya tidak langsung dirasakan masyarakat karena pelaku usaha masih berusaha menahan kenaikan harga produk. Namun ketika pelemahan rupiah semakin dalam, penyesuaian harga menjadi sulit dihindari.

“Tadinya ada lag ya, misalnya 2-3 bulan, tapi sekarang semakin melemah maka pelaku usaha juga akan mengganti price list atau daftar harga barang-barang yang dijual lebih cepat lagi,” paparnya.

Bhima menambahkan, kondisi tersebut berpotensi memicu inflasi impor yang semakin menekan daya beli masyarakat, khususnya kelompok menengah ke bawah.

“Ini yang membuat ketidakpastian tinggi sehingga transmisi ke masyarakat dalam bentuk harga-harga barang yang lebih mahal, imported inflation atau inflasi yang didorong karena biaya impor semakin mahal ya. Itu makin menekan daya beli masyarakat terutama kelompok menengah ke bawah,” sambung Bhima.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa pelemahan rupiah yang berkepanjangan juga dapat memicu efisiensi di sektor industri, terutama perusahaan padat karya yang bergantung pada bahan baku impor. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan angka pemutusan hubungan kerja (PHK) dan memperlemah konsumsi masyarakat.

Di sisi lain, melemahnya rupiah juga dapat mendorong masyarakat kelas menengah atas untuk mengalihkan asetnya ke dolar AS sebagai langkah antisipasi terhadap ketidakpastian ekonomi.

“Yang dilakukan oleh masyarakat, kelas menengah ke atas berjaga-jaga terhadap situasi yang terus memburuk dengan membeli dolar AS. Makin menekan, jadi ada spiral down effect di mana kecenderungan untuk menjual rupiah dan membeli dolar AS itu akan menekan nilai tukar rupiah lebih dalam lagi,” ujarnya.

Bhima menilai kelompok masyarakat yang paling rentan terdampak adalah kalangan pekerja dan kelas menengah ke bawah. Selain menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok, mereka juga berpotensi menghadapi risiko kehilangan pekerjaan di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat.

“Sementara kelompok menengah ke bawahnya hampir dipastikan tidak punya persiapan ketika rupiahnya menembus 18.000. Masyarakat menengah ke bawah lah yang sebenarnya paling dirugikan saat ini karena mereka hampir tidak lagi memiliki tabungan hidupnya sudah dari pinjaman dan sekarang sudah mode survival bahkan di kelompok menengah,” jelasnya.

“Nah inilah saya kira angka kemiskinan bisa kembali meningkat, angka pengangguran kembali naik, dan semakin banyak pekerja di sektor informal yang sebenarnya rapuh. Nah itu efek dari dolar sentuh Rp 18.000,” pungkas Bhima. (Sumber : Detik Finance)

About The Author

  • Penulis: BNews 2

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less