Asal Usul Sendang Hageng Mungkid, Sudah Ada Sejak Majapahit

BNews–MUNGKID– Tempat wisata di Kabupaten Magelang ini layak dikunjungi. Sendang Hageng Tirta Kecana, sebuah kolam pemandian yang memiliki banyak sejarah.

Lokasinya di Dusun Gatak, Kelurahan Mungkid, Kabupaten Magelang.  Persisnya di belakang Pabrik Kertas Blabak.

Wisata pemandian ini berserta bangunannya memiliki luas sekitar 50 x 30 Meter persegi. Sedang areal asli pelataran depan pemandian kurang lebih 30 x 30 Meter persegi.

Ada dua kolam sementara ini,  Kolam untuk orang dewasa dengan kedalaman 2,3 Meter dan luas 24 x 17 Meter. Sedangkan kolam untuk anak dengan kedalaman 1,5 Meter dan luas 12 x 6 Meter.

Tempat satu ini ternyata memiliki banyak kisah sejarah dari era ke eranya. Mulai dari era abad 16 dan 18 Masehi hingga era milineal.

Mulai dari Era Abad 16 Masehi diceritakan dari berbagai sumber, Pemandian Klasik ini dalam riwayatnya berkaitan dengan pengaruh dua kekuasaan. Mereka yakni kekuasaan Keraton Mataram dan kekuasaan modern penjajah Belanda.

Konon dulu antara tahun 1613 hingga 1645 dikisahkan ada seorang Petani yang sedang menggarap sawah dengan peralatannya luku, garu, dan sepasang kerbau sebagai penariknya. Tak luput pula cemeti, caping, serta cangkul yang menemani. Ditengah proses pembajakan tanah itu tiba-tiba ia menghilang tanpa jejak gejala dan suara tersisa.

Penduduk sekitar pun berusaha mencari-cari ke mana ia pergi. Timbullah beragam prasangka dan perkiraan yang kemudian beredar di masyarakat. Hingga pada saat yang sama di tempat yang digarap pembajak tadi tampaklah air mulai memancar keluar dengan debit yang semakin besar dan deras hingga meluber menggenangi lahan sekitar.

Dalam bahasa Jawa, orang biasa menyebut peristiwa air yang keluar atau hewan yang keluar dalam jumlah banyak dari satu sumber yang kemudian memancar atau bertabaran disebut dengan mubal atau mudal. Terjadilah kemudian kesepakatan warga, tempat fenomena alam itu muncul dinamakan Mudal.

Disinyalir Pak Tani dan kerbaunya itu tersedot air. Setelah berselang waktu yang tidak lama Pak Tani, Kerbau beserta seluruh peralatannya ditemukan utuh namun sudah tidak bernyawa di hilir sungai Opak di daerah Kretek, Parangtritis, Bantul, Yogyakarta Hadiningrat.

Masyarakat yang menemukan jenazah tersebut melaporkan kepada penguasa Mataram dibawah kekuasaan Sultan Agung. Sultan Agung pun memerintahkan untuk merawat jenazah seperti adat keraton dengan upacara sebagaimana mestinya.  Sehingga kalau ditelisik itu terjadi kisaran waktu antara tahun 1613 hingga 1645, Kala Sultan Agung memerintah Mataram.

 
Laporan masyarakat pun ditindaklanjuti oleh Sultan. Beliau berkunjung ke Mudal Blabak,  terlihat mata air mulai melebar sehingga dibentuklah saluran pembuangan (prototipe irigasi), berupa parit yang lambat laun menyerupai kali, sampai sekarang disebut Kali Agung atau kaligung, bermuara di kali Elo. Tetenger lain yang dibubuhkan oleh Sultan adalah penanaman Ringin Putih di seberang atas mata air sebagai pelindung dari erosi tanah di atasnya.

Pada perkembangannya yang alamiah, ringin putih ini dikitari oleh Ringin Kurung dan Ringin Tali/oyot, sehingga tampak rimbun dan rindang.

 Sultan Agung pun menisbatkan mata air Mudal Blabak sebagai tempat khusus kasepuhan Mataram. Beliau memberikan amanat kepada seorang punggawanya bernama Kyai Sempani untuk mengelola sekaligus menjadi juru kunci Mudal Blabak.  

Di tempat ini pula sering digunakan untuk pertapaan para pesakti dari keraton Solo maupun Yogya. Belakangan diketahui Kyai Sempani yang dikenal dengan nama Kyai Bendho-Pacul, makamnya terdapat di puncak gunung Lemah wilayah Desa Bojong Kecamatan Mungkid.

 
Sedangkan pada  Era Abad 18 Masehi, Konon kisah ini terjadi antara tahun 1893 sampai 1939. Tepatnya tahun 1911 M dimana pemandian masih dibawah pemerintahan Susuhunan Pakubuwana X. Berkenaan belum terlaksananya konfirmasi mengenai situs peninggalan ke Kraton Solo.

Berdasarkan bukti folklore rakyat berupa diktum turun-temurun serta telaah rasional obyektif. Pertama, kisah berlangsung pada masa juru kunci sekaligus pengelola Mudal dipegang oleh Mbah Tejo, pada saat yang sama pemerintahan formal atau pamong keprajan wilayah Blabak Mungkid dijabat oleh Lurah Ngloji.

Kedua, peristiwa itu terjadi masih dalam masa cengkeraman kolonial Belanda, hal ini dibuktikan dengan hadirnya asisten residen jenderal. Sebagaimana diketahui, antara Mbah Tejo dan Lurah Ngloji mempunyai ikatan batin dan kewiraan yang erat.

Dalam suatu hari yang berulang-ulang, Mbah Tejo selalu bermimpi mendengar suara yang nadanya menghiba. Kalau dinarasikan berbunyi, “Kembalikan aku ke Sunan Solo !”

Menghadapi fenomena ini, Mbah Tejo menjadi cemas dan gelisah. Beliau berpikir keras guna mendapatkan solusi terbaik.

Masih dalam kegundahan jiwanya, Mbah Tejo membawa badan untuk menyampaikan anekdot tersebut kepada Lurah Ngloji. Belum sampai tujuan, di tengah perjalanan tanpa diduga sebelumnya bertemu langsung dengan Lurah Ngloji yang sedang berjalan-jalan.

 
Setelah isi hati dan perkaranya disampaikan, rupanya kejadian mimpi yang dialami kedua tokoh itu sama. Sehingga disimpulkan bahwa persoalan ini harus dipecahkan secara serius.

Kesepakatan dicapai, alhasil keduanya berangkat menaiki kendaraan oplet menuju Solo menghadap Sri Susuhunan. Pembicaraan berlangsung dengan baik, bahkan dari Sri Susuhunan keduanya mendapatkan berita pembenaran bahwa salah satu pusaka kraton hilang belum ditemukan; yaitu bernama Baderbang Sisik Kencana.

Diskusi pun berlangsung berkisar bagaimana caranya mengembalikan pusaka dimaksud ke kraton. Maka atas kehendak Sang Raja, diputuskan agar masalah ini tidak disebarluaskan di tengah masyarakat. Untuk menelesik keberadaan pusaka ini akan diselenggarakan sayembara memancing di kolam mata air Mudal tersebut pada hari yang telah ditentukan.

Beberapa bulan sebelum hari H, maklumat dan publikasi sudah dilaksanakan. Hal ini mempunyai makna agar para calon peserta sayembara mempunyai cukup waktu untuk mempersiapkan diri, begitu ketat persyaratan perhelatan akbar ini, di antaranya calon peserta harus terlebih dahulu berpuasa empat puluh hari.

Tatkala hari yang ditetapkan tiba, yakni pada Senin di bulan Safar, ramai masyarakat berbondong-bondong ingin menyaksikan berlangsungnya sayembara itu.

Sepanjang jalan yang dilalui orang-orang berjajar mengelu-elukan kehadiran kirab kereta kencana Sri Susuhunan beserta para putri kedaton. Saat itu dikomandoi pasukan berkuda punggawa keraton dan diiringi tunggangan-tunggangan para prajurit dan kerabat raja.

Suasana hingar bingar penuh getar sorak sorai tanda hormat, perpaduan emosional di antara raja dan kawula. Sementara penguasa formal pihak Belanda yang diwakili oleh Asisten Residen J.Mier Koentoeleueer telah pun menyambut kehadiran iring-iringan Susuhunan di pintu masuk kolam Mudal.

Upacara pembukaan sayembara pun dilaksanakan, sambutan-sambutan diperagakan di samping disuguhkan hidangan berupa Bakmi Pecel, Sambal goreng Bader, Gurami goreng dan menu khas lainnya. Sampai kini Bakmi Pecel merupakan jajanan khas di Pemandian Mudal, Blabak.

Pesertanya hadir dari berbagai elemen masyarakat dan dari berbagai daerah. Masing-masing berlomba mengail ikan dengan hasil sebanyak-banyaknya dan disertai upaya mendapatkan Baderbang yang telah disebutkan dalam sambutan pembukaan semula.

Kala itu, sejarah menulis, di hadapan Sang Raja beserta punggawa dan kerabat kraton juga masyarakat luas yang menyaksikan secara seksama. Seorang peserta—kemudian diketahui sebagai Lurah Blondo, kailnya berhasil menyangkut seekor ikan bersisik besarnya hanya setara dengan ibu jari.

SriSusuhunan pun mengetahui, di saat Lurah Blondo hendak melepaskan ikan dari kail secara konvensional, seorang punggawa menegur sapa agar pengailnya menahan dulu. Adegan demikian menjadi fragmen tersendiri yang mendapat perhatian khalayak yang hadir. Rupanya sang Raja sudah menyiapkan Bokor Mas yang berisi air.

Begitu bokor diletakkan di bawah kail, tiba-tiba ikan bersisik tadi terlepas sendiri dan meluncur masuk dalam bokor. Ternyata ikan bersisik inilah Pusaka Baderbang Sisik Kencana yang dinanti-nantikan pulang ke peraduan di Surakarta Hadiningrat.

Di samping hadiah reguler, Sang Raja pun memberikan hadiah khusus kepada Lurah Blondo berupa titah bahwa keturunannya akan memegang tongkat kepemimpinan masyarakat sampai kelak di kemudian hari.

 Dan pada Era Millennial, tepatnya sekitar tahun 1887 juru kunci Mudal dipegang oleh Mbah Tejo. Beliau mengemban tugas dari Sultan mengelola keberadaan Mudal sampai akhir hayatnya.

Sedang tokoh cikal desa yang lain seperti Kyai Madu Sirad dengan pusara di dusun Sirad, Kyai Tunggul Wulung yang dimakamkan di dusun Kadipiro di belakang kantor kecamatan. Untuk Tumenggung Wongsonegoro yang pesareannya di dusun Karanggayam, Ki Mungkin yang makamnya di belakang masjid Jami dusun Mungkid, dan Kyai Umar Sirodjudin.

 
Penerusnya kemudian ialah Mbah Rekso berasal dari dusun Sirad. Beliau mengemban tugas sampai sekitar tahun 1969 kemudian digantikan oleh Mbah Bajuri yang bermukim di dusun Jetak II, menjabat hingga tahun 1999.

Lepas dari sini tampuk pengelolaan Mudal Blambangan Blabak dipegang langsung oleh Pemerintah Desa Mungkid.

 
Saat itu kehadiran Raja dan Ratu Keraton Surakarta pada kurang lebih 1911 semakin mempertegas fakta sendang yang eksistensinya sendiri adalah berkah kultural dan juga berkah ekonomi kepada masyarakat sekitar. Sendang Hageng Tirta Kencana berangkat dari masa silam, tapi selalu dan akan terus menjadi masa depan peradaban Desa Mungkid.

Dikisahkan ada 2 makam tua yang nisannya sudah dihilangkan yang berlokasi di sekitar pohon beringin besar depan Sendang. Dulunya ada dua Pohon Beringin kurung seperti di alun2 lor dan kidul kraton yogyakarta, tapi sudah dibongkar dan sekarang sudah masuk areal SD Mungkid 2.

Dua pohon Beringin kurung tersebut mengapit Beringin besar yang dulu ditanam Sultan Agung dari Mataram untuk menandai keberadaan dan kekeramatan mata air, Beringin besar tersebut masih ada hingga kini. Dulu bangunan utama pemandian memiliki banyak ornamen lawas seperti meja cermin, jam duduk besar, meja besar beserta kursinya, lampu-lampu hias, dsb, semua terbuat dari kayu jati.

Bangunan pemandian juga selain arsitekturnya lawas namun materialnya juga lawas seperti batu bata besar untuk temboknya dan kayu jati asli pada bagian atap. Ornamen lawas ini sudah habis tidak diketahui rimbanya, ada kemungkinan dirampeti kontraktor yang sempat akan menggarap pemandian namun mangkrak di tengah jalan.

Soko bagian dalam belakang dekat kolam yang sekarang dari bahan pipa besi juga dulunya adalah soko kayu jati, namun diganti oleh kontraktor tersebut.

Tembok benteng yang mengitari pemandian adalah asli peninggalan jaman kolonial. Kecuali di bagian selatan dan barat yang ketinggiannya ditambah 1 meter, tapi tembok bawah masih asli, bangunan pemandian masih asli, genteng pun masih asli kecuali beberapa yang diganti karena kebocoran.

Dulu diceritakan juga ada tangga berundak di sekitar sumber, tampak indah artistik namun sangat fungsional untuk dipakai oleh masyarakat. Areal sumber dan tangga berundak tersebut sudah tidak bisa diakses karena ditutup cor.

 
Masyhur di masa lalu Sendang ini setiap Bulan Sapar pasti membuat hajat, Saparan Merti Desa. Syukuran besar-besaran dan melibatkan masyarakat banyak.

Tersedia disana Tumpeng besar diarak keliling desa kemudian untuk dikembul atau dimakan bersamaan dalam satu nampan. Lalu itik bebek mentok dibuat rayahan di kolam, semacam melepas bebek di kolam dan dibuat rebutan warga. Ada juga ikan air seperti lele,  ikan baderbang, dan koin receh juga banyak disebar di kolam untuk diselam dirayah masyarakat.

Hadir pula kesenian daerah seperti jathilan yang turut menghibur segenap hadirin. Hajatan ini dulunya memang sangat ditunggu-tunggu oleh warga.

Karena bagi sebagian kalangan hajatan ini menjadi kesempatan untuk bisa ‘makan enak’. Hal tersebut menunjukkan bagaimana keadaan sosial masyarakat jaman dulu, serta betapa Sendang Hageng Tirta Kencana menjadi berkah yang besar tiada kira. (*/bsn)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: