Awan yang Menyerupai Topi di Merbabu Ternyata Berbahaya, Ini Penjelasannya

BNews—NGABLAK— Warga di sekitar Lereng Gunung Merbabu dikejutkan dengan kemunculan awan berbentuk topi di puncak Gunung Merbabu pagi tadi (3/10). Namun, menurut para ahli awan tersebut ternyata berbahaya.

Merbabu bertopi viral di media sosial sejak pagi tadi. Kemunculan awan tersebut juga terjadi di Gunung Sumbing. Foto-foto cantik gunung bertopi pun viral di media sosial.

Fenomena gunung bertopi awan bukanlah fenomena baru. Hal seperti ini cukup sering terjadi dan pernah terlihat di gunung Semeru, Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing.

Dalam dunia astronomi, topi awan disebut sebagai awan lentikular. Awan ini terbentuk hanya di kawasan puncak gunung.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin pernah menjelaskan, awan lentikular memiliki bentuk menyerupai lensa. Awan lentikular yang menutupi puncak gunung muncul sebagai akibat dari aliran naik udara hangat yang membawa uap air mengalami pusaran.

Marufin Sudibyo, astronom amatir Indonesia mengatakan, awan lentikular memiliki sifat statis alias tidak bergerak, atau selalu menetap di satu tempat. “Awan ini terbentuk saat aliran udara lembab menubruk suatu penghalang besar, sehingga membentuk putaran stasioner,” kata dia.

Saat putaran stasioner terjadi, awan lentikular dapat bertahan di atas puncak gunung selama beberapa jam hingga berhari-hari.

Loading...

Meski indah, topi awan berbahaya Awan lentikular seperti yang nampak dalam foto memang indah dan memukai, tapi jangan salah, awan jenis ini justru berbahaya. Awan lentikular yang terbentuk di puncak gunung menandakan sedang terjadi pusaran angin laksana badai di sana.

Hal ini pun memiliki dampak bagi pendaki maupun pesawat yang melintas di atasnya. Bagi pendaki gunung, hembusan angin saat terjadi awan lentikular bisa mendatangkan momok hipotermia. Sedang untuk pesawat, awan dan pusaran angin bersifat turbulen yang membuat pesawat terguncang hingga bisa kehilangan altitudenya dengan cepat. (bn/wan)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: