Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Bedah Buku Ungkap Makna Tradisi Slametan di Kabupaten Magelang

Bedah Buku Ungkap Makna Tradisi Slametan di Kabupaten Magelang

  • calendar_month Kam, 21 Agu 2025

BNews–MAGELANG – Tradisi Slametan di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menjadi salah satu ritual adat yang sarat makna dan terus dilestarikan oleh masyarakat setempat.

Tradisi ini dipahami sebagai wujud syukur, doa keselamatan, serta pengikat ikatan sosial yang kuat di tengah kehidupan bermasyarakat.

Slametan hadir dalam berbagai tahapan kehidupan, mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga kematian. Pada momen kelahiran, ritual ini; dilakukan sejak masa kehamilan empat bulan (ngapati), tujuh bulan (mitoni); hingga setelah bayi lahir seperti brokohan, sepasaran, puputan, selapanan, dan tedak siten sebagai penanda perkembangan anak.

Dalam prosesi pernikahan, slametan menjadi sarana memohon berkah melalui ritual kumbakarnan, pasang tarub, ijab qabul, hingga resepsi; yang juga mempererat solidaritas sosial antarwarga.

Sementara dalam kematian, slametan seperti surtanah, nelung dina, matang puluh dina, hingga haul berfungsi sebagai; pendamping proses spiritual sekaligus dukungan sosial bagi keluarga yang ditinggalkan.

Tak hanya itu, keberagaman tradisi di Magelang juga diperkaya dengan ritual unik Nikah Tembakau yang berkembang di Dusun Gopakan, Desa Genito, Kecamatan Windusari.

Hal ini terungkap dalam acara Bedah Buku “Tradisi Slametan” (Ritual, Makna, dan Nilai-Nilai Kearifan Lokal di Kabupaten Magelang) karya Makruf Sodikin; yang berlangsung di Graha Seba Pustaka, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Magelang pada Kamis (21/8/2025).

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

Makruf menjelaskan bahwa slametan bukan sekadar ritual adat, tetapi juga mengandung nilai religius dan sosial.

“Buku ini membahas tentang Tradisi Slametan yang menjadi bagian penting dari kearifan lokal budaya masyarakat Kabupaten Magelang. Slametan adalah ritual keagamaan dan sosial yang mengandung nilai-nilai kearifan lokal yang kuat, seperti kebersamaan, solidaritas, rasa syukur, penghormatan, dan toleransi dalam beragama. Tradisi ini merupakan wujud penghormatan dan permohonan keselamatan serta keberkahan dari Tuhan, yang dilakukan dalam berbagai momen penting kehidupan seperti kelahiran, pernikahan, dan kematian,” ujar Makruf, yang juga seorang pengawas di Koordinator Wilayah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Kajoran Kabupaten Magelang.

Dalam kesempatan itu hadir pula Triman Laksono, seorang sastrawan asal Magelang yang ikut serta membahas buku tersebut. Ia menekankan bahwa tradisi Jawa memiliki nilai luhur yang tidak tergantikan.

“Tradisi Jawa itu memiliki nilai-nilai yang sangat luhur dan tidak akan tergantikan oleh teknologi. Orang Jawa itu juga sangat titen dalam berbagai aktivitas di masyarakat. Dan yang terpenting adalah adab itu lebih tinggi daripada ilmu. Makanya orang Jawa itu sangat menjunjung tinggi unggah-ungguh,” katanya.

Triman mencontohkan perubahan cara mengundang dalam tradisi slametan.

“Misalnya dalam acara slametan atau kenduri, tidak bisa lalu undangan hanya melalui pesan singkat WhatsApp. Mungkin bagi generasi Z dan generasi alpha undangan melalui pesan singkat hal yang biasa. Tapi tidak demikian dengan generasi Baby Boomer yang lahir antara 1946–1964 dan Generasi X yang lahir tahun 1965–1980-an. Undangan melalui datang langsung ke rumah akan lebih memiliki nilai,” ujar penulis buku Sang Pewaris yang membawanya meraih penghargaan Buku Gerakan Literasi Nasional dari Kemdikbud RI pada 2016.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

Ia menambahkan, tradisi slametan di Magelang telah menjadi bagian melekat dari kehidupan masyarakat.

“Buku ini bisa menjadi salah satu referensi bahwa ternyata, budaya tradisi Slametan khususnya di Kabupaten Magelang itu sangat melekat di masyarakat,” pungkasnya.

Dukungan Komunitas Literasi

Acara bedah buku ini diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Magelang dengan dukungan komunitas Kajoran Sinau, sebuah wadah belajar yang digagas para guru di Kecamatan Kajoran. Selama kurang lebih tiga jam, peserta mengikuti jalannya acara dengan antusias hingga selesai. (fiq)

About The Author

  • Penulis: BNews 2

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less