Beras Analog Bisa Jadi Makanan Pokok Pengganti Masyarakat Indonesia

BNews–NASIONAL-– Ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap bahan pokok jenis beras dinilai sangat tinggi. Menurut data tahun 2015 konsumsi masyarakat Indonesia mencapai 93.4 kg/kapita/tahun.

Oleh sebab itu, dalam rangka menurunkan tingkat konsumsi beras dan mewujudkan diversifikasi pangan, subtansi atau pergantian bahan pokok lainnya dilakukan sebagian masyarakat. Mereka manfaatkan umbi-umbian sebagai penggantinya.

Karena kebiasaan mangkonsumsi bahan pokok beras, maka beras analog dibuat. Beras analog merupakan tiruan dari beras yang terbuat dari bahan-bahan seperti umbi-umbian dan serealia yang bentuk mirip seperti beras (Samad, 2003).

Namun, umbi-umbian rendah akan protein sehingga beras analog umumnya tidak memiliki kandungan protein setara beras padi. Penambahan kedelai dalam formulasi beras analog ternyata mampu meningkatkan kandungan proteinnya.

Seperti yang disampaikan Dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) Slamet Budijanto yang terdorong untuk berinovasi dengan mengembangkan produk beras analog atau beras tiruan. Ia inovasi membuatnya dari bahan jagung, singkong, hingga sagu.

“Beras analog bisa dibuat dari jagung, sorgum, singkong, ubi jalar, hingga sagu. Intinya untuk menyajikan karbohidrat dengan cara lebih simpel. Lebih mudah diolah dan dikonsumsi,” katanya dikutip Detik 2015.

Ia mengawali risetnya pada 2011. Hingga saat ini masih terus memperbaharui hasil risetnya dan terus produksi beras analog meski jumlahnya masih terbatas.

Loading...
DOWNLOAD MUSIK KEREN (KLIK DISINI)

“Kami riset terus-menerus untuk pengembangan. Saat ini memang produksinya masih terbatas dan dilakukan di kampus. Hari ini mestinya saya instal uji coba alat produksi beras dengan kapasitas 250 kg/jam. Kalau alat itu berhasil, kami bisa produksi 2 ton per hari,” jelas Slamet.

Slamet menambahkan, Indonesia merupakan negara dengan penduduk pemakan beras terbesar dunia. Konsumsinya mencapai 124 kg/kapita. Substitusi karbohidrat terbesar berasal dari tepung terigu yang 100% masih impor.

Selama ini, menurut Slamet, sebetulnya masyarakat bisa melepas ketergantungan dari beras. Hanya saja, sudah melekat bahwa belum makan kalau belum makan nasi.

“Bahkan kalau di suatu daerah nggak bisa makan nasi, langsung diasosiasikan dengan kemiskinan. Saya ingin terjadi pergeseran. Introduction rame-rame ke sumber karbohidrat lain. Sebab negara ini dianugerahi nikmat kekayaan sumber karbohidrat. Ini challenge dari pangan pokok kita. Mbok ya jangan dipermasalahkan kalau orang makanan pokoknya singkong. Lihat dulu lauknya, bisa sama enaknya dengan yang makan nasi,” terangnya.

Beras analog ini, meski terbuat dari umbi-umbian namun secara fisik sangat mirip beras. Wujudnya bulir-bulir seukuran beras hanya beda warna agak kekuningan menyesuaikan warna bahan pokok yang dipakai.

Bedanya, cara memasak beras analog tidak perlu rice cooker atau dikukus. “Cara masaknya mudah sekali. Tidak seperti memasak beras. Tetapi seperti masak mie instan. Hanya diberi air panas saja direbus sebentar. Praktis kan,” terangnya.

Tidak hanya kenyang, makan nasi dari beras analog kaya nilai fungsionalnya. “Banyak nilai fungsionalnya seperti tinggi serat, kaya antioksidan, dan vehicle fortifikasi,” imbuh Slamet.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Slamet pernah melakukan survey ke 3.600 mahasiswa IPB untuk mencoba makan nasi dari beras analog buatannya. Kemudian diminta mengisi kuisioner.

“Hasilnya kurang dari 1% yang menyatakan tidak suka. Paling banyak menjawab suka dan sangat suka. Itu artinya produk ini bisa diterima dengan baik. Orang-orang suka,” katanya.

Slamet pun tidak hanya ingin membuat sebatas beras buatan atau beras analog saja. “Saya tidak hanya ingin buat beras analog saja. Ke depan, goalnya ingin membuat beras analog fortifikasi (diberi beberapa kandungan zat gizi tambahan) hingga bubur beras analog instan siap seduh,” jelasnya.

Keunggulannya, beras analog ini punya indeks glikemik lebih rendah dari beras biasa sehingga aman bagi penderita diabetes. “Beras analog juga kandungan seratnya lebih tinggi dan lebih praktis karena tidak perlu dicuci terlebih dahulu,” tambahnya.

Soal harga, Slamet mengaku memang ingin dibuat mahal. “Harganya memang didesain agar mahal. Jadi orang berfikir, kenapa mesti mahal? Karena itu justru supaya orang beli. Sebab mereka beli manfaat. Harganya setara beras merah Rp 20.000/kg,” jelasnya.

Beras analog kini mulai populer. Tidak hanya Slamet yang membuat tetapi juga para peneliti IPB lainnya termasuk dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). “Beras analog mulai populer kan sekarang. Inginnya supaya bisa diterima masyarakat luas. Kemudian bisa diproduksi secara massal,” imbuhnya.

Slamet bahkan menyebut, inovasi beras analog, Indonesia menjadi pioneernya. “Negara tetangga itu yang ada beras menir atau beras pecah diubah jadi beras utuh. Kalo boleh klaim, beras analog sumber karbohidrat non beras, Indonesia yang pertama.

Produk beras analognya saat ini Ia berikan hak untuk menjual ke entitas bisnis bentukan IPB yaitu PT Bogor Live Science Technology.

“Penjualannya lewat Serambi Botani. Jadi urusan penjualan sudah saya serahkan ke PT BLST. Saya hanya pembuat dan pengembang teknologi saja,” pungkasnya. (*/islh)

Kaos Deglang

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: