Cerita Warga Muntilan “Ribut” dengan Petugas Pemasang Patok Jalan Tol

BNews—MUNTILAN— Seorang petani, Hasan Afandi, 39, sempat mendapati sekelompok pria yang diduga petugas Kementerian Pekerjaan Umum. Saat itu, sekitar lima orang sedang memasang patok bambu dan balok di lahan miliknya. Peristiwa itu terjadi kurang lebih tiga bulan lalu.

Hasan mendatangi mereka karena curiga karena membawa beberapa patok. Sebagian orang mengenakan seragam rompi lengkap dengan helm proyek. Sisanya berpakaian bebas sambil membawa alat ukur.

”Mereka masuk ke sawah saya tidak ada permisi dan dengan tiba-tiba memasang patok di tengah-tengah sawah,” katanya, kemarin (7/1).

Dia lantas menghampiri dan mempertanyakan maksud dan tujuan pemancangan patok. Apakah untuk keperluan pembangunan jalur rel kereta api atau jalan tol. Namun petugas hanya memberikan jawaban secara diplomatis.

”Salah satu petugas hanya menjawab ’Saya petugas dari Dinas Pekerjaan Umum’. Berulangkali saya tanya, jawabnya tetap sama. Mereka tidak terbuka,” geram Hasan. Imbuhnya, petugas menjawab dengan bahasa Indonesia berlogat Sunda.

Tidak mendapat jawaban memuaskan, dirinya lantas merasa keberatan dengan kehadiran rombongan yang mengaku petugas PU tersebut. Sempat terjadi sedikit perdebatan antarkeduanya. Hasan tidak berkenan bila patok yang ditanam di tengah sawah karena akan mengganggu aktivitas bertani.

Loading...

”Saya minta patok jangan dipasang di tengah. Petugas mengalah dan memundurkan patok. Setelah itu saya suruh pergi” ujarnya.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Ternyata kedatangan mereka bukan sekali itu saja. Beberapa waktu sebelum pemancangan patok, mereka sudah empat hingga lima kali datang ke Dusun Keniten. Sambil membawa alat ukur, menyusuri sawah demi sawah. Dari Desa Keji menuju ke Tamanagung.

”Waktu itu datangnya random. Pernah mengukur saat pagi, siang dan sore. Sempat beberapa kali saya datangi tapi mereka seakan seperti menghindar. Mereka langsung pergi,” aku Hasan.

Kendati di kampungnya mulai beredar rumor, tujuan pemancangan untuk kepentingan pembangunan tol, Hasan meminta pihak terkait segera memberikan kejelasan. Minimal ada sosialisasi bagi pemilik lahan yang terlanjur dipasang patok.

”Kami minta segera ada sosialisasi agar jauh hari bisa mempersiapkan diri. Karena mayoritas warga hidup dari bertani. Jangan sampai kami kehilangan matapencaharian,” pinta dia.

Diberitakan sebelumnya, 46 desa di Kabupaten Magelang dan dua desa di Kota Magelang bakal terkena dampak pembangunan jalan tol Jogjakarta-Bawen. Sedang proses pembangunan jalan tol tersebut masih revisi minor DED karena ada tempat tertentu yang harus digeser. (*/han)

Penulis: Wahid Fahrur Annas (Mahasiswa Magang IAIN Purwokerto)

Kaos Deglang

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: