Dana Desa Belum Cair, Pemdes di Magelang Terpaksa Berhutang dan Gadaikan Kendaraan

BNews—MUNGKID— Dana desa di Kabupaten Magelang tak kunjung cair dari APBD tahun anggaran 2020. Kondisi ini membuat sejumlah kepala desa terpaksa berhutang dan menggunakan uang pribadi untuk kegiatan-kegiatan penanggulangan Covid-19.

Seperti yang dilakukan Kepala Desa Krincing Secang, Heri Purwanto. Dia mengaku harus hutang dan mengeluarkan uang pribadi untuk keperluan penanganan Covid-19. Apalagi, wilayahnya termasuk zona merah pemantuan sejumlah orang yang baru pulang dari Gowa Sulawesi.

Heri mengaku sudah menghabiskan dana lebih dari Rp 40 juta untuk berbagai kegiatan. Diantarnaya hutang dari sejumlah toko untuk membeli peralatan penanggulangan Covid-19.

“Sebagian dana kegiatan saya dapatkan dengan menggadaikan mobil pribadi,” ujarnya, kemarin (8/4/2020).

Sejauh ini, Pemdes Krincing mengaku sudah melakukan berbagai kegiatan. Antara lain membeli obat-obatan antiseptik, melakukan pengadaan thermo gun, alat semprot dan seinfektan, serta membangun bilik-bilik isolasi di gedung olahraga dan aula desa. Seminggu mendatang, bilik-bilik tersebut akan siap dipakai.

Jumlah bilik isolasi yang dibangun mencapai 20 bilik. Keseluruhan bilik tersebut dimaksudkan menjadi tempat isolasi mandiri bagi semua perantau, yang mudik ke Desa Krincing tanpa melaporkan kedatangannya.

Kepala Desa Windusari Yusup Hidayat juga melakukan hal serupa. Dia membuat program paket bantuan pangan untuk 760 kepala keluarga terdampak Covid-19.

Dia mengaku harus berhutang ke Bulog untuk memenuhi kebutuhan bantuan tersebut. Paket bantuan pangan tersebut terdiri dari tujuh kilogram (kg) beras, satu kg telur, dan tujuh bungkus mi instant.

Paket tersebut direncanakan akan mulai dibagikan sebelum bulan Ramadhan. Selama 14 hari, sebanyak 760 keluarga tersebut, masing-masing akan menerima satu paket bantuan pangan per hari.

Sekalipun terkendala keterbatasan dana, pemerintah desa tetap melakukan upaya antisipasi Covid-19 secara optimal. Ketua Posko Induk Covid-19 Desa Windusari, Betty Kurniawati, mengatakan, pihaknya terus intens mendata jumlah warga Desa Windusari yang merantau kerja di luar kota, dan mencatat kedatangan mereka yang sudah pulang mudik ke desa.

“Saat ini, kami pun sudah kembali mengintensifkan kegiatan ronda untuk memantau kedatangan pemudik di malam hari,” ujarnya. (wan/her)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: