Digital Marketing Dioptimalkan Dalam Pemasaran Produk Sagon Kering Magelang

BNews–MAGELANG– Srumbung adalah sebuah Kecamatan di Kabupaten Magelang. Pusat pemerintahannya berada di Desa Srumbung, dimana desa tersebut terdiri dari 12 dusun.

Masyarakat Desa Srumbung mayoritas bermata pencaharian sebagai wiraswasta. Dimana pekerjaan yang mereka tekuni bukanlah pekerjaan dengan gaji atau pendapatan yang tidak menentu.

Sebagai seorang Indonesia tentu pemandangan dan aktivitas kita sehari-hari tidak lepas dari berbagai layanan dan barang hasil kreasi. Salah satunya dari para pelaku UMKM ( Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah).

Salah satu UMKM di Desa Srumbung yaitu usaha makanan ringan bernama sagon kering. Dan kali ini Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) kembali menerjunkan mahasiswanya untuk melakukan pendampingan.

Pendampingan tersebut masuk dalam kegiatan Pengabdian Pada Masyarakat Terpadu (PPMT). Dan mereka menjalin mitra dengan pengusaha sagon kering dengan nama produknya “Safitri”.

Usaha makanan ringan tersebut berlokasi di Dusun Srumbung Krajan, Desa Srumbung, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang.

Untuk kelompok PPMT ini, diketuai sekaligus sebagai dosen pembimbing yakni Arif Wiyat Purnanto, M.Pd. Sedangkan anggota terdiri dari 5 mahasiswa yakni Ardian Rahmad Nursetya, Arif Khoirudin, Septiyani Supriyati; Yanuar Aji Waskito, dan Rofikhof.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Mereka melakukan pendampingan sekaligus menjalin mitra dengan UMKM Sagon tersebut. Dan diketahui, usaha tersebut mampu memproduksi 30 bal/2,5kg, jadi jika dihitung dapat menghasilkan 75kg sagon per harinya.

Namun jumlah itu semua tergantung dengan jumlah karyawan yang berangkat kerja. Yang menjadi permasalahan adalah jika jumlah karyawan yang berangkat sedikit maka hasil produksinya juga sedikit, sebaliknya jika yang berangkat semua maka hasil produksinya juga akan banyak.

Produk Sagon kering
Produk Sagon kering

Saat ini jumlah karyawan yang bekerja ada 15 orang, namun pada saat menjelang lebaran dapat mencapai 18-20 karyawan. Setiap hari dapat menghabiskan 200-250 kelapa dalam produksinya.

Sagon ini termasuk makanan yang masih tradisional dibandingkan dengan makanan ringan lainnya. Hal ini karena bahan dasarnya murni dari alam yakni kelapa dan gula.

Riyadi, pemilik UMKM Sagon tersebut mengatakan untuk bahwa baku dimulai dari pemilihan buah kelapa yang harus diperhatikan. Yankni kelapa yang sudah tua menjadi pilihan, artinya daging kelapa yang benar-benar sudah keras dan sudah bisa di kupas.

Menurutnya, kika produksinya banyak yang menggunakan kelapa muda hasil matangnya akan terlihat coklat. Hal ini karena kelapa muda cepat berubah warna ketika di oven. Gula juga harus yang teksturnya tidak lembut, karena jika menggunakan gula yang lembut adonan kelapa akan mudah berair.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

“Kalau pandemi ini sangat berdampak bagi kegiatan produksi maupun penjualan yang jelas-jelas menurun. Saya berharap bisa mencari solusi yang baik menghadapi masalah ini,” imbuhnya.

Daya saing dan manajemen produksi perlu ditingkatkan lagi, karena di dusun lain sekarang juga ada yang membuat sagon kering. Untuk itu kelompok PPMT UNIMMA hadir untuk membantu pengusaha sagon tersebut.

Dalam hal ini guna membangun daya saing terhadap pelaku usaha lainnya tanpa merugikan pihak yang lain. Metode yang digunakan yaitu melakukan branding, menjaga kualitas produksi, memasarkan produk secara offline maupun online agar cepat dikenal oleh masyarakat luas.

“Para mahasiswa melihat peluang yang terdapat di era global saat ini yang banyak penjualan memakai media online. Meraka melakukan pelatihan mulai dari bagaimana proses pengemasan dan bagaimana penjualan yang baik di era saat ini,” ujar Ketua Kelompok PPMU Arif Wiyat Purnanto, M.Pd.

Namun, lanjutnya terdapat masalah yang menjadi fokus utama dalam proses pemasaran produk. Yakni belum bisanya cara memasarkan produk dengan baik karena rendahnya kesadaran pada teknologi.

“Dilihat dari permasalahan tersebut, maka dengan adanya PPMT ini akan membantu masyarakat dalam bidang teknologi. Hal ini agar masyarakat mampu menguasai teknologi di era digital dan dapat bersaing di pasar global dengan baik dan tepat,” paparnya.

Dia juga berharap, jika pengusaha ini mampu dan dilihat  dari  kondisi permasalahan tadi maka akan menumbuhkan ide untuk mereka. “Yakni akan lebih bisa memanfaatkan digital marketing sebagai media pemasaran produknya. Sehingga produk mereka akan semakin laku dan mampu meningkatkan perekonomian merekan,” pungkasnya. (adv)

Kaos Deglang

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: