Dugaan Rekayasa Kasus Perkelahian Pemuda di Dukun Semakin Kuat

BNews–MAGELANG– Enam terdakwa kasus perkelahian di Pasar Talun Kecamatan Dukun 25 Juni lalu menghadirkan saksi meringankan (A de Charge). Keterangan mereka semakin menguatkan kasus dugaan rekayasa oleh penyidik Polres Magelang. Mereka mengurai kejadian tersebut berbeda jauh dari keterangan korban di berita acara pemeriksaan (BAP).
Empat orang saksi meringankan yang diajukan oleh terdakwa dalam sidang lanjutan yang diketuai oleh Sulistiyanto Rokhmad, B SH. Diantaranya Kades Banyudono Nurhadi, pedagang Pasar Talun Subur, Tukang Ojek Purwaka, dan Iko, rekan terdakwa.
            Subur salah satu saksi menyebut banyak kejadian yang tidak ada dalam BAP tersebut. Diantaranya adanya ulah dari kelompok korban yang membuat situasi usai kejadian semakin panas.
            ”Dia (Siyo) datang sambil menggedor-gedor toko di dekat Pasar Talun kemudian menantang semua orang,” katanya dibenarkan saksi Purwaka.
            Merasa terpancing, salah satu terdakwa Fery Dwi Antoro, warga Talun Dukun, datang menghampiri. Kemudian, terjadi adu pukul diantara keduanya. ”Ini mematahkan keterangan saksi Siyo yang disana mengaku mencari keponakannya,” kata Penasehat Hukum Terdakwa Halimah Ginting usai sidang, kemarin.
            Kades Banyudono Nurhadi menambahkan pascakejadian tersebut pihaknya mencoba melakukan mediasi. Namun, oleh pihak korban ditolak karena lebih memilih untuk mengajukan kasus tersebut ke kepolisian.
            Sebenarnya, lanjut dia, para terdakwa ini juga mengalami pemukulan dari pihak korban. Namun, hal itu juga tidak masuk ke dalam berita acara pemeriksaan.
            Menurutnya, banyak kejadian yang tidak tertulis di BAP karena dinilai akan meringankan para terdakwa. ”Jelas ini semakin rancu. Apalagi setelah banyak saksi yang mencabut BAP,” tutur dia.
            Sementara itu, Iptu Trihadi Utaya penyidik Polres Magelang mengaku banyaknya saksi yang mencabut BAP karena takut. ”Karena disini (sidang) banyak pereman bertato yang membuat saksi takut,” kata dia.
            Ketua Sulistiyanto Rokhmad, B SH, langsung memberikan pelurusan. ”Pengadilan adalah lembaga negara. Anda kan penyidik, jika menurut anda ada orang yang memberikan ancaman tangkap saja lalu diproses di sini. Akan saya terima,” kata Sulistiyanto.
            Sidang sendiri akan dilanjutkan hari ini (5/11) dengan agenda pembacaaan tuntutan oleh JPU. ”Kami berharap JPU bisa melihat kasus ini secara utuh,” harap Halimah GInting.
            ntuk diketahui, kasus tersebut bermula dari aksi bentrokan yang dilakukan dua kelompok pemuda dari Sengi Kecamatan Dukun dan warga Muntilan, 25 Juni 2015 lalu. Peristiwa berawal dari rencana balapan antara kedua kelompok tersebut.
        Saat itu, tersangka Angga H, 23 warga Banyudono datang ke sebuah warung makan di dekat Pasar Talun Dukun sambil berbuka puasa pada 25 Juni petang.
          Kelompok lain dari Dusun/Desa Sengi kemudian datang menyusul dan menanyakan kesediaan rencana balapan sembari membawa uang taruhan. Namun, Angga menolak dan terjadilah keributan. Saat itu, Angga yang sendirian kalah.
         Kemudian, datang rekannya yakni Fery Dwi Antoro, warga Talun Dukun, Puput Handoko, Rizky Agung, keduanya warga Banyudono Dukun,  dan Kristian Danis warga Pucungrejo Kecamatan Muntilan. Disana, kedua kelompok pemuda terlibat saling pukul.
          Kelima pemuda itu kemudian justru dijadikan tersangka oleh polisi. Berkas penyidikan beberapa kali ditolak kejaksaan hingga akhirnya diantar langsung oleh Kapolres Magelang AKBP Dwi Zain di hari terakhir pelimpahan berkas tahap kedua 24 Agustus pukul 23.30 malam. (yan)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: