Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Gedung Ponpes Ambruk, Empat Keponakan Tewas! Paman Korban: “Kalau Ada Kelalaian, Hukum Harus Tegak!”

Gedung Ponpes Ambruk, Empat Keponakan Tewas! Paman Korban: “Kalau Ada Kelalaian, Hukum Harus Tegak!”

  • calendar_month Rab, 8 Okt 2025

BNews—NASIONAL— Duka mendalam menyelimuti keluarga korban ambruknya gedung Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur.

Fauzi (48), warga Depok asal Bangkalan, kehilangan empat keponakannya sekaligus dalam tragedi memilukan tersebut. Ia mengaku kecewa, marah, dan menuntut agar kasus ini diusut tuntas.

“Kalau memang di situ ada human error atau kelalaian manusia dalam hal pembangunan, ya harus diproses. Penegakan hukum itu harus ditegakkan,” kata Fauzi dikutip dari CNNIndonesia, Selasa (7/10/2025).

Empat keponakan Fauzi—MH, MS, BD, dan A—tewas tertimpa reruntuhan gedung bertingkat itu.

Sementara anak kandungnya, TM, yang juga menjadi santri di pondok tersebut, selamat dari maut. Fauzi mengungkap, keempat keponakannya berada di saf tengah saat Salat Ashar, sedangkan anaknya berada di saf pertama yang tak terdampak.

Ia menduga konstruksi bangunan ponpes tersebut memang tidak memenuhi standar keamanan. “Saya sudah konsultasi dengan yang lebih ahli. Dilihat dari konstruksinya memang tidak standar untuk pembangunan,” ujarnya.

Selain itu, Fauzi juga menyinggung adanya dugaan santri ikut membantu proses pembangunan dan pengecoran gedung.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

Ia menilai hal itu bisa mengarah pada eksploitasi anak. “Santri pada saat itu dipekerjakan. Nanti bukan tidak mungkin ada eksploitasi anak di sana. APH jangan berhenti di evakuasi saja, tapi juga proses hukumnya harus jalan,” tegasnya.

Menurutnya, siapa pun yang bertanggung jawab atas pembangunan gedung tersebut, termasuk pengurus hingga kiai sekalipun, harus diproses secara hukum. “Meskipun statusnya kiai, kalau memang bersalah ya harus diproses. Masa hukum kalah sama status sosial seseorang,” tambahnya.

Fauzi menegaskan bahwa meski tragedi ini bisa dianggap sebagai takdir, unsur kelalaian manusia tetap harus diselesaikan secara hukum agar kejadian serupa tidak terulang.

“Kalau masalah ikhlas, benar kita ikhlas, itu namanya takdir. Tapi kalau kelalaian, ya harus diproses. Hukum harus ditegakkan supaya ke depan adik-adik kita bisa belajar dengan aman,” katanya.

Ia juga mengungkap bahwa sebagian wali santri enggan menuntut karena faktor budaya menghormati kiai. Namun, ia berharap publik ikut mengawal jalannya proses hukum ini.

“Banyak wali murid tidak ingin melanjutkan, karena kultur kami itu hormat sekali kepada guru. Tapi menurut saya pribadi, kalau ada kelalaian dan ada dasar hukum, ya harus diproses,” ujarnya.

Hingga kini, Fauzi masih menunggu proses identifikasi jenazah keempat keponakannya di RS Bhayangkara Polda Jatim, Surabaya.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

Sementara itu, keluarga korban lainnya, Muhammad Ma’ruf (50), ayah dari santri MA (13), memilih ikhlas dan menyebut musibah tersebut sebagai takdir. “Kami titipkan di pondok ini agar anak kami kenal dengan Tuhannya. Andaikan ada kejadian yang tidak diinginkan, itu semua takdir dan kami siap menerima,” katanya.

Pengasuh Ponpes Al Khoziny, KH Abdus Salam Mujib, juga menyebut peristiwa ini sebagai cobaan dari Tuhan. “Ya saya kira ini takdir dari Allah, jadi semuanya harus bisa bersabar. Mudah-mudahan diberi ganti oleh Allah yang lebih baik,” ucapnya.

Kapolda Jawa Timur Irjen Nanang Avianto menegaskan pihaknya akan memproses hukum kasus ini setelah evakuasi selesai dilakukan.

“Jelas tetap nanti akan melakukan kegiatan proses hukum, tapi yang utama sekarang ini adalah masalah kemanusiaannya dulu,” kata Nanang, Jumat (3/10/2025).

Ia menyebut polisi telah mengumpulkan bukti dan data terkait dugaan kegagalan konstruksi. “Kita sudah file-kan dan dokumentasikan semuanya. Kami juga akan melibatkan ahli konstruksi untuk mengurai penyebabnya,” ujarnya.

Nanang menambahkan, penyelidikan akan dilakukan secara menyeluruh mulai dari struktur lantai dasar hingga atap yang menjadi titik ambruk. “Kami akan usut secara saintis, berdasarkan pandangan para ahli,” katanya.

Diketahui, gedung tiga lantai termasuk musala di asrama putra Ponpes Al Khoziny ambruk pada Senin (29/9/2025) sore saat ratusan santri melaksanakan Salat Ashar berjemaah. Berdasarkan data Basarnas, hingga Selasa (7/10/2025), jumlah korban mencapai 171 orang, dengan rincian 104 selamat, 67 meninggal dunia, termasuk 8 bagian tubuh yang teridentifikasi. (*/sumber : CNN)

About The Author

  • Penulis: Borobudur News

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less