Ini Penghuni Rumah “Aneh” di Jogja Terbuat Dari Batu Beratap Plastik

BNews—JOGJA— Yang pernah melintas di daerah Dusun Geden Desa Sidorejo Kecamatan Lendah Kabupaten Kulonprogo Jogja pasti sempat heran. Disana kalian akan melihat dari kejauah, didalam sebuah hutan terdapat sebuah rumah aneh.

Tidak aneh bagaimana, sebuah rumah dengan hanya batu disusun dan beratapkan plastik. Jarak dari perkampungan sendiri atau tetangga terdekat yakni 200 meter.

Advertisements


Ternyata rumah tersebut ditinggali oleh seorang kakek sebatang kara bernama Yatiman. Dirinya mengaku tinggal disitu sejak tahun 1971 dan hanya ditemai pohon trembesi di sekitarnya.


Meski sederhana, rumah setinggi dua meter dengan lebar tiga kali tujuh meter tersebut tampak tetap kokoh berdiri. Padahal, kontruksi bangunan tersebut tanpa tambahan perekat bangunan seperti semen.Dengan atap terpal, Yatiman berlindung dari panas dan hujan di rumah tersebut.

“Saya membangun rumah ini sejak tahun 1971 setelah saya pulang merantau dari luar pulau jawa,” katanya.

Saat ditanya tentang pilihannya tinggal sebatang kara di tengah hutan, Yatiman menjawab dengan santai tanpa beban bahwa ini merupakan pilihannya. Panas dan dinginya cuaca serta gelapnya malam dianggap hal yang biasa baginya.

Nggih temandange ngeten niki, urip karepe dewe (ya seperti ini, hidup semaunya sendiri). Rasane kepenak turu nang gunung silir (rasanya enak tidur di gunung, sejuk),” imbuhnya.

Ia juga menyatakan tidak takut dengan ancaman binatang buas maupun hal-hal lainya. Untuk bertahan hidup, ia juga terbiasa mencari makan di hutan. “Ya paling cuman suara kecoak dan cicak. Serta suara katak yang menemani hari-harinya,” paparnya.

Terlepas dari apakah Yatiman menderita gangguan jiwa atau tidak, sebagian warga menganggap Yatiman itu pintar. Bahkan terlalu pintar, kepintarannya tersebut dianggap malah membuatnya bertingkah aneh.

“Sebenarnya Yatiman itu pintar,” jelas Daliyem, salah seorang warga sekitar.

Daliyem pun menjelaskan bahwa Yatiman tidak pernah mengganggu tetangga. Yatiman malah tergolong seorang yang dermawan. Ketika mendapat makanan dari hutan ia tidak segan membagikannya.

“Kadang kalau mendapat umbi-umbian ia bagikan ke tetangga yang disenangi,” tambahnya.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS DI HANDPHONE KALIAN ( KLIK DISINI )

Daliyem pun mengaku tidak mengetahui pasti kapan Yatiman mulai tinggal di rumah batu tersebut. Sejak dulu yang ia tahu Yatiman sudah hidup seperti itu.

Sementara Agus Triyono, Kepala Dusun Gaden menjelaskan bahwa sebenarnya pernah ada rencana untuk membuatkan rumah yang layak bagi Yatiman. Namun, karena keterbatasan komunikasi dan kebiasaan Yatiman yang jarang bersosialisasi dengan warga, niatan itu pun urung dilaksanakan.

“Dengan warga sekitar jarang komunikasi. Dulu pernah akan di bikinkan rumah cuma dia tidak komunikatif dan kemungkinan juga tidak mau,” jelasnya.

Kehidupan Bung Timan yang semaunya sendiri seperti mengambil hasil pertanian warga dan menanami lahan warga pun sudah dianggap lumrah menurut Agus. “Hanya ambil, masyarakat tidak terganggu dan hanya menganggap lumrah. Cuma memang yang menjadi keprihatinan hidup sendiri dan jauh dari tetangga. Misalnya sakit nggak ada yang tahu. Mau kasih makanan juga jauh,” ungkapnya.

Agus menjelaskan, bahwa tanah yang ditempati lelaki yang berusia 69 tahun tersebut merupakan milik sah Yatiman. Hanya, sertifikat tanah tersebut masih atas nama orangtua atau kakek Yatiman.

“Kalau dari silsilah itu tanah keluarga, cuma sertifikat belum dia. Dan pajak yang bayar saudara-saudaranya yang tinggal du Dusun lain,” pungkasnya. (bsn)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: