Jangan Anggap Remeh, Ini 6 Dampak Overthinking Bagi Kesehatan Mental
- calendar_month Sen, 30 Okt 2023

ilustrasi orang merasa cemas (Foto oleh Andrea Piacquadio dari pexels.com)
BNews—KESEHATAN— Ada banyak penyebab mengapa orang bisa overthinking. Bisa jadi pengalaman masa lalu, terlalu khawatir jika yang kamu rencanakan tidak sesuai ekspektasi, dan lain sebagainya.
Terlalu memikirkan persoalan hidup memang bisa menyebabkan stres dan kecemasan. Berikut ini beberapa dampak overthinking pada kesehatan mental yang perlu kamu ketahui.
1. Berdampak pada Pola Tidur dan Nafsu Makan
Overthinking bisa membuat orang mengalami susah tidur dan memberikan gangguan pada kontrol nafsu makan. Bisa jadi seseorang yang mengalaminya tidak punya selera makan atau justru malah makan secara berlebihan.
Gangguan tidur akibat overthinking pada akhirnya juga bisa mengganggu kualitas aktivitas harian dan juga produktivitas kerja. Orang yang tidak mendapatkan istirahat cukup, lebih sensitif dan mudah marah.
2. Mengganggu Hubungan Interpersonal
Dampak overthinking juga bisa mengganggu hubungan interpersonal karena terlalu banyak curiga dan kekhawatiran kalau teman, pasangan, ataupun rekan kerja tidak bertindak sesuai dengan yang kamu harapkan.
Pada akhirnya, karena terlalu banyak berpikir hal-hal yang belum pasti, ini bisa memicu kesalahpahaman dan membuat hubungan menjadi renggang. Hubungan yang renggang ini bisa memicu rasa sedih, amarah, kekecewaan, yang bisa membuat emosi menjadi tidak stabil.
3. Mengurangi Rasa Percaya Diri
Dampak overthinking lainnya adalah menurunnya rasa percaya diri. Ketika kamu mulai memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi, lalu berpikir kalau orang-orang tertentu punya niat yang tidak baik denganmu.
Bila pemikiran-pemikiran semacam ini terus tertanamkan dalam pikiran, ini bisa menjadi bumerang yang menyerang balik rasa percaya diri. Kamu jadi takut memberikan respons spontan, takut bila ide orang lain tolak, atau takut bila ternyata teman atau rekan kerjamu menjelek-jelekkanmu di belakang.
4. Mencegah Berpikir Positif dan Produktif
Overthinking hanya akan menjauhkan kamu dari melakukan hal-hal produktif. Pasalnya, pikiran berlebihan akan membawa pada kemungkinan-kemungkinan terburuk, sehingga kamu tidak akan melakukan aksi ataupun tindakan dengan solusi.
Kamu malah hanya memikirkan kegagalan, kesedihan, kecurigaan jika sesuatu ini tidak akan berhasil dan malah memikirkan rencana selanjutnya. Mempersiapkan beberapa rencana adalah tindakan bagus.
Mamun bila terlalu fokus pada rencana B dan C tapi belum mencoba rencana A, itu hanya akan membuat kamu jalan di tempat.
5. Isolasi Sosial
Selain memicu kerenggangan hubungan, dampak overthinking pada kesehatan mental adalah memicu isolasi sosial. Sebab, orang yang terlalu banyak berpikir seringkali menarik diri dari interaksi sosial.
Alasannya, mereka terus fokus pada pikirannya. Kondisi ini dapat menyebabkan isolasi sosial dan kurangnya dukungan emosional.
6. Memicu Kecemasan dan Depresi
Dampak overthinking berkepanjangan pada kesehatan mental selanjutnya adalah memicu kecemasan dan depresi. Sebab, overthinking dapat memengaruhi cara seseorang dalam menjalani dan berinteraksi dengan dunia di sekitarnya.
Penelitian menunjukkan bahwa merenungkan peristiwa yang membuat stres lama kelamaan dapat menyebabkan kecemasan dan depresi. Dari sudut pandang kesehatan mental, kecemasan dapat memengaruhi kemampuan untuk mengatasi stres sehari-hari.
Sementara itu, depresi menyebabkan kesedihan, kesepian, dan perasaan hampa. Kecemasan dan depresi juga menimbulkan gejala fisik, termasuk:
- Kelelahan.
- Sakit kepala.
- Mual.
- Kesulitan berkonsentrasi.
- Kesulitan tidur.
- Perubahan nafsu makan.
Bila overthinking terus mengganggu hari-harimu atau ada anggota keluargamu yang mengalami kondisi tersebut, cobalah untuk melakukan hal-hal yang bisa membuat terhindar dari berpikir terlalu banyak.
Kamu dan keluarga bisa melakukan olahraga seperti berenang, trekking, joging, sebab aktivitas-aktivitas fisik semacam ini bisa membawa fokus ke arah yang lebih positif. Jika tak kunjung membaik, segeralah berdiskusi dengan psikolog.
Sumber: halodoc
About The Author
- Penulis: BNews 7



Saat ini belum ada komentar