Jumlah Kematian Covid-19 1.000 Orang di Indonesia

BNews—NASIONAL— Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengungkapkan, jumlah kematian pasien covid-19 di tanah air mencapai seribu orang. Angka tersebut jauh lebih banyak dibanding data kematian yang dirilis pemerintah perhari Sabtu (18/4) sejumlah 535 orang.

Menurut Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Daeng M. Faqih, laporan rumah sakit di seluruh Indonesia mencatat ada seribu kematian virus corona. Baik itu pasien yang terkonfirmasi positif maupun yang masih berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP).

”Saya melihat langsung data tersebut dari Pusat Pengendalian Operasi BNPB yang segera diupdate dari rumah sakit seluruh Indonesia,” ungkap Daeng, kemarin (18/4).

Menurut Daeng, data itu bukan hanya yang dinyatakan hasil PCR-nya positif. Tetapi data kematian yang status PDP juga masuk di situ.

”Jadi, semua data kematian yang pasien itu dirawat dengan tata laksana covid-19. Baik itu yang sudah dinyatakan positif PCR maupun yang masih PDP yang belum diperiksa PCR-nya. Itu seribu lebih datanya,” katanya. Ia menerangkan, data tersebut didapatkan tiga hari lalu.

Dikonfirmasi terpisah, menurut Juru Bicara Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto, pemerintah hanya menghitung jumlah kematian pasien corona yang telah terkonfirmasi positif covid-19. Dengan demikian, kematian pasien dalam pengawasan tidak dihitung oleh pemerintah sebagai kematian akibat covid-19.

Baca juga: Prihatin Warga Masih Nongkrong Larut Malam, Ganjar Dorong Kemungkinan PSBB

”Kasus yang kita sampaikan terkait dengan meninggal karena covid-19 itu adalah kasus yang meninggal dengan konfirmasi laboratorium positif (virus corona),” tegas Yuri.

”Kasus PDP yang belum terkonfirmasi covid-19, maka tidak akan kita catat sebagai jenazah covid-19,” imbuhnya. Jelas dia, masyarakat harus memahami hal tersebut agar tidak semua kematian di masa sekarang dikaitkan dengan virus corona.

Kembali diutarakan Daeng, syarat tersebut bisa menjadi masalah untuk mengetahui jumlah sebenarnya dari kematian pasien covud-19 di Indonesia. Kematian virus corona dari PDP bisa jadi relevan karena uji diagnostik PCR membutuhkan waktu yang lama.

”Misalnya, ada PDP tercatat meninggal bukan karena covid-19. Setelah dilakukan PCR hasinya positif corona. Ini menunjukkan kecepatan pemeriksaan kita masih kurang,” jelasnya.

Selain itu, perbedaan data kematian pasien covid-19 antara pemerintah daerah atau provinsi dengan pemerintah pusat. Menurutnya, fenomena tersebut disebabkan masuknya pasien PDP ke dalam catatan pasien meninggal karena covid-19.

”Pemerintah perlu mempercepat proses pemeriksaan tes PCR agar tidak ada perbedaan data,” pungkasnya. (han)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: