Kangen Suasana Pawon Simbah, Yuk Datang ke Pasar Tradisi Lembah Merapi

0
838
JADUL : Inilah penampak samping luar Pawon Mbah Buyut di Pasar Tradisi Lembah Merapi (24/2)--(Foto--Magang 1)
JADUL : Inilah penampak samping luar Pawon Mbah Buyut di Pasar Tradisi Lembah Merapi (24/2)--(Foto--Magang 1)

BNews—DUKUN— Pasar Tradisi Lembah Merapi yang selalu buka saban hari Minggu tidak hanya terkenal dengan ragam kuliner khas ”tempoe doeloe”. Salah satu yang juga cukup terkenal dan menarik perhatian pengunjung adalah sebuah bangunan rumah kuno yang berfungsi sebagai dapur umum.

 

Bangunan yang terletak di sudut pasar unik ini dikenal sebagai Pawon Mbah Buyut. Selain digunakan tempat untuk memasak dan menyimpan peralatannya, ternyata juga bebas digunakan bagi pengunjung pasar.

 

”Di rumah joglo ini, ada ruang tamu cukup luas yang memang diperuntukkan bagi para pengunjung. Jadi mereka bisa menikmati hidangan beralas amben atau duduk di bangku kayu serasa di rumah sendiri,” terang Kepala Desa Banyubiru, Wintoro melalui Kepala Dusun Banyubiru, Yadi, Minggu (24/2).

 

JADUL : Para wisatawan asal luar kota yang hadir dalam PasarTradisi Lembah Merapi menyempatkan diri makan dan berkumpul di atas amben Pawon Mbah Buyut (24/2)--(Foto--Magang 1)
JADUL : Para wisatawan asal luar kota yang hadir dalam PasarTradisi Lembah Merapi menyempatkan diri makan dan berkumpul di atas amben Pawon Mbah Buyut (24/2)–(Foto–Magang 1)

 

Dijabarkan Yadi, Pawon Mbah Buyut diambil dari bahasa Jawa ”Pawon” yang artinya dapur dan ”Mbah Buyut” memiliki arti Simbah atau Kakek Nenek. Sesuai dengan namanya, bangunan tempo dulu ini dibuat untuk melestarikan warisan turun temurun.

 

”Konsep budaya Jawa dari tradisi Lembah Merapi semakin kental ketika memasuki pawon ini,” ucapnya.

 

JADUL :Penampang pawon/dapur mbah buyut yang di tata sedemikian rupa menonjolkan kesan tempo doloe, dimana pengunjung bebas untuk masuk dan berfoto (24/2)--(foto--Magang1)
JADUL :Penampang pawon/dapur mbah buyut yang di tata sedemikian rupa menonjolkan kesan tempo doloe, dimana pengunjung bebas untuk masuk dan berfoto (24/2)–(foto–Magang1)

 

Dia mengatakan, pawon tersebut merupakan perwujudan murni dari swadaya masyarakat Desa Banyubiru. Arsitektur disetiap sudut bangunan ini memiliki daya pikat bagi setiap pengunjung yang ingin bernostalgia.

 

”Sebelum memasuki pawon terdapat kentongan yang digunakan oleh orang zaman dahulu sebagai alat komunikasi di daerah pedesaan,” katanya.

JADUL : Kentongan peninggalan simbah ini menjadi salah satu ornamen menarik di depan pawon mbah buyut (24/2)--(Foto--Magang 1)
JADUL : Kentongan peninggalan simbah ini menjadi salah satu ornamen menarik di depan pawon mbah buyut (24/2)–(Foto–Magang 1)

Nilai lebih dari pawon ini adalah rancangan yang sama persis seperti desain rumah zaman dulu. Lantai masih berupa tanah, dinding berbahan anyaman bambu, kerangka bangunan saling mengait kokoh sehingga terbukti tahan gempa dibanding bangunan saat ini.

 

”Di sini ada dua kamar tidur, ruang pertemuan lengkap dengan meja kursi dan amben. Spot utama disini adalah bisa melihat aktivitas simbok-simbok memasak menggunakan tungku tanah liat dengan bahan bakar kayu,” imbuh Yadi.

 

Pengunjung asal Jogjakarta, Dainty Dheanara mengaku, baru pertama kali berkunjung ke pasar yang dibuka perdana pada tanggal 27 Januari 2019. Selain diakui konsep pasarnya unik, salah satu yang paling berkesan bagi Dhea adalah panorama sunrise yang bisa dilihat dari bukti Gununggono.

 

”Sengaja datang pagi-pagi untuk berburu sunrise yang terbit dari balik Gunung Merapi dan Merbabu. Indah banget. Rencana minggu depan pengen ajak keluarga ke sini,” ujar mahasiswi semester 6 Universitas Negeri Yogyakarta itu. (magang1/han)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here