KEREN !!! Awal Disepelekan, Pria Di Muntilan Magelang Sukses Budidaya Burung Pipit Zebra

BNews–MAGELANG– Seorang pria 35 tahun di Muntilan Kabupaten Magelang memiliki usaha ternak burung yang lain daripada yang lain. Ia membudidayakan Zebra Finch (Taeniopygia Guttata Castanotis) atau dikenal burung Pipit Zebra.

Pria tersebut adalah Sofyan Niti Negoro. Ia merupakan warga Dusun Ketaron Desa Tamanagung Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang.

Ia mencerikan awal mulausahanya yang dianggap sepele oleh orang lain. Namun dirinya yakin dna paham betul burung itu punya pasar tersendiri dan elit.

Sofyan mengaku sepuluh tahun berkecimpung dalam budidaya tersebut. Ia juga berhasil melakukan mutasi hingga proses ke empat hingga sering menang kontes, dan meraup puluhan juta.

Burung Pipit Zebra, tampak mungil dan cantik,terutama perpaduan warna bulunya. Burung tersebut terbang kesana kemarin dalam sebuah kurangan di ruangan tertutup.

“Ini semua adalah hasil mutasi genetik melalui perkawinan silang (cross breeding) dari satu jenis burung yaitu Zebra Finch,” kata Sofyan Niti Negoro.

Sofyan menegaskan, bahwa burung Pipit Zebra dilahirkan bukan untuk kontes menyanyi. Namun untuk kontes kecantikan melalui proses mutasi ke mutasi.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Bisa dikatakan, di Kabupaten Magelang dirinya yang paling besar. Sudah beragam mutasi yang dihasilkan. Saat ini terjauh hingga mutasi keempat. Bahkan sudah dibidik dan ditawar oleh peminat dengan harga Rp. 37 juta.

 “Ini hasil mutasi keempat (puncaknya). Warnanya full black dan full orange,” ucap pria yang akrab disapa Sofyan itu.

Ia juga kerap mengikuti kontes. Melintang ke berbagai kota. Mulai dari Jakarta, Bandung, Solo, Jogjakarta, hingga Surabaya. “Di Jakarta pernah mwnjadi best champion. Terakhir di Sleman City Hall juara 1,” tuturnya.

Ia mengaku, biasanya kalau juara kontes bisa dibanderol hingga Rp 85 juta.

Sementara, harga yang paling murah yang ia jual mulai dari Rp. 350 ribu. Bisa mendapatkan satu pasang jenis mutasi dengan warna dasar. Yakni normal grey, fawn, dan black yang masih berumur empat hingga lima bulan.

Selain itu juga ada kisaran harga Rp. 500-800 ribu dengan warna oranye atau black dipunggungnya. “Harga dipengaruhi oleh size dan jenis mutasi. Kalau ukuran semakin besar dan mutasinya banyak maka lebih mahal,” ujarnya.

Sejauh ini, kata dia, di Indonesia hanya bisa sampai empat mutasi. Ia juga menunjukkan hasil mutasi ke empat dengan warna padat (ngeblok) full oranye dan full black. “Lamanya  ini (mutasi keempat) lima tahun. Kalau dikawinkan lagi belum tentu sama dengan indukannya. Bisa saja kembali ke mutasi dasar atau double mutasi,” terang Sofyan.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Meski tergolong burung show kecantikan, namun perawatannya cukup mudah. Yaitu dengan menjaga pola makan, lingkungan yang nyaman, dan gizi yang cukup. Biasanya setiap hari minuman selalu ganti. Diberikan suplemen atau vitamin untuk mwnjaga kondisi stamina.

Isi ulang pakan 3 sampai 4 hari sekali. Kandangnya juga tidak harus box, bisa seperti kandang Lovebird.

“Sebenarnya mudah asal teliti dan telaten. Ada juga jenis lain Gould Amadin tapi rentan dengan cuaca sehingga mudah ngedrop. Lebih tangguh Zebra Finch,” jelasnya.

Berdasarkan pengalamannya, orang akan mencari jenis mutasi yang langka. Selain memiliki keunikan, juga tidak banyak orang mempunyai. Sehingga punya kebanggan dalam koleksinya. “Saat ini yang dicari kebanyakan warna pastel atau tompel putih,” tuturnya.

Burung Pipit Zebra

Hasil mutasinya pun dikenal hingga ke Malaysia dan Thailand. Namun karena terkendala pengiriman dan transportasi, dan surat izin permintaannya tidak bisa dipenuhi. “Karena minimal satu box isinya 50 pasang. Jadi belum mampu,” ucapnya. Kendati demikian ia sudah sering mengirim hasil mutasinya ke Aceh, Medan, dan kota-kota besar di Jawa.

Ia mendapatkan indukan dengan cara impor dari Jerman, Italia, dan Belanda melalui koneksi khusus komunitasnya. Awalnya hanya 5-7 pasang belajar dari jenis-jenis yang mudah. Kemudian ketika sudah menguasai, bermain ke mutasi.

Pemasaran je medan aceh , jakarta bandung sering. Sebenarnya malaysia dan thailand sudah ada permintaan tapi kendalanya dalam pengirimannya transportasi harus resmi pakai surat iizin. Belum 5oernah ngirim. Minimal 1 boc 50 ekor. Belum mampu. Orang sana nyarunya memang yang berkualitas.

Meski saat ini punya puluhan pasang, tak sedikit Sofyan menjumpai kegagalan. Sebab tidak pasti telur berisi dan menetas. Sehingga tidak bisa ditargetkan atau di kalkulasi secara pasti. “Perkiraan pahitnya, 20 ekor per sapihan setiap bulannya. Kan ada 35 pasang, ada yang 3 ada yang 2 per pasang,” jelasnya.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Perasaan girang tatkala harga pasaran berlaku dan memiliki stok banyak di kandangnya. Sementara ia akan menelan pil pahit jika harga pasar turun sementara harga pakan naik. “Pakannya impor belum ada di Indonesia. Ada tiga macam millet putih, kenari seed, dan jemawut. Kalau masih anakan pakai telur rebus bisa,” pungkasnya. (*)

About The Author

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!