KEREN !!! Pemuda Magelang Ini Budidaya Unggas Hias Bernilai Puluhan Juta

BNews–MAGELANG– Seorang pemuda di Prajenan Mertoyudan Magelang ini sukses dengan usahanya yakni budidaya unggas hias dari luar negeri. Omsetnya tidak tanggung-tanggung, bisa capai puluhan juta.

Ia adalah Aditia Permana pria kelahiran tahun 1998 ini merintis usahanya sejak masuk bangku perkuliahan. Yakni tahun 2016 dan hingga kini 2022 masih berjalan, bahkan sampai dia lulus kuliah Sarjana Akutansi.

Saat ditemui di kandang unggas hiasnya, Aditia mengatakan bahwa sejak duduk di bangku SMA, hobinya memang beternak unggas. Dulu, sang ayah juga memelihara unggas namun jenis kalkun potong.

Namun, lanjutnya ketika ayaknya hendak menjual kalkun potongnya sedikit sudah di pasaran. Dan berawal dari itu Aditia mencoba peruntungan dengan beternak unggas hias.

“Ternyata, banyak konsumen yang menanyakan jenis unggas jenis lainnya, selain kalkun. Sehingga saya mencari unggas dari importir,” imbuhnya.

Setelah pemasarannya cukup meluas, Aditia mulai menambah beberapa koleksi unggasnya. Kini, ia mempunyai 10 jenis unggas hias.

Mulai dari ayam jenis ringnek pheasant, golden pheasant, hingga silver pheasant yang berasal dari China. Selain itu Ia juga membudidayakan jenis unggas ayam kate, brahma dan lainnya.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Untuk jenis unggas hiasnya, dilihar dari keindahan bulu dan bentuknya yang unik. Dan hal itulah yang membuat harga jual unggas bisa menyentuh hingga Rp 40 juta perpasang.

“Kalau jenis Ringnek Pheasant dewasa, harganya Rp 2 juta perpasang. Kalau telurnya, Rp 100 ribu perbutir. Itu yang paling murah jenis unggas hias cina,” jelasnya.

Sedangkan Golden Pheasant remaja dijual dengan harga Rp 6,5 juta perpasang. Untuk telurnya, Aditia tidak menjualnya. Lantaran masa bertelur ayam jenis tersebut hanya setahun sekali.

Selain jenisnya yang membuat harga mahal, tapi juga karena produksinya yang masih minim. Aditia menjelaskan, yang membedakan harga adalah dari segi warna unggasnya. Komplit atau tidak.

“Yang paling murah ayam brahma. Kalo yang bagus itu ayam Lady. Harganya Rp 20-25 juta perpasang,” tuturnya.

Dalam satu bulan, penjualannya tidak menentu. Rata-rata bisa mencapai 40 hingga 60 ekor. Mulai dari anakan hingga dewasa.

“Sebelum pandemi, penjualan rata-rata hanya 30 ekor. Saat pandemi sampai sekarang, penjualannya meningkat,” kata Aditia.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Dalam setahun, seekor betina unggas hias bisa bertelur antara 25 hingga 30. Sedangkan yang menetas antara 18 hingga 20 telur.

Aditia menjelaskan, telur yang baru menetas, tidak bisa diprediksi jenis kelaminnya. Jantan atau betina. Ia menambahkan, baru terlihat ketika umur 5 sampai 6 bulan.

“Kalau jantan, bulunya warna-warni. Kalau betina, cenderung coklat,” ujarnya.

Tidak hanya perorangan, konsumen Aditia juga berasal dari tempat wisata. Bahkan, tidak hanya masyarakat sekitar, tapi juga luar kota. Seperti Jakarta, Bandung, Banjarnegara, Pekalongan, Lampung, Kalimantan, hingga Palu.

Meski memiliki bentuk yang indah, namun perawatan unggas hias ini terbilang mudah. Sama dengan unggas jenis lainnya. Unggas hias hanya perlu diberi makan biji-bijian dan sayur, serta kandangnya rutin dibersihkan setiap hari.

“Perawatannya sama, yang membedakan harga jualnya,” jelas pria yang masih single saat diwawancarai.

Selain perawatan yang sama, penyakit yang dimiliki unggas hias juga sama. Flu. Cuaca menjadi faktor utama jika unggas tersebut sakit.

Bagi Aditia, kini puluhan unggas hias yang dimilikinya bukan hanya jadi koleksi, namun juga usaha yang menjanjikan keuntungan. “Ada rencana pengembangan untuk jenis Pheasant dan merak. Semoga ke depan bisa mengembangkan usaha ini,” pungkasnya. (bsn)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: