Kisah Anak Anak di Borobudur Kesusahan Belajar Secara Daring

BNews—BOROBUDUR—Pemerintah mengimbau anak didik untuk melaksanakan pembelajaran secara daring di rumah sejak beberapa waktu lalu akibat adanya pandemi Covid-19. Namun kenyataannya masih ada yang terkendala akses internet bahkan tidak memiliki smartphone.

Hal tersebut menjadi salah satu alasan bagi Henricus Suroto, 59, seorang guru SD Kanisius Kenalan, Borobudur, Kabupaten Magelang. Untuk mendatangi rumah anak didiknya dan melakukan pembelajaran tatap muka dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Dia menyebut, banyak anak didiknya yang tidak bisa mengakses internet karena kondisi rumahnya di daerah pegunungan. ”Ada juga orang tua siswa yang tidak memiliki android sehingga tidak bisa melakukan pembelajaran daring,” kata dia, kemarin (21/7/2020) dikutip dari Antara.

Sementara untuk pembelajaran tersebut, kata dia, dilakukan dengan pertemuan secara kelompok siswa dalam satu dusun agar lebih efisien. Namun ada juga yang mendatangi satu anak karena tempatnya berjauhan dengan siswa yang lain.

”Dalam satu hari, saya bisa mendatangi dua kelompok. Untuk rentang waktu belajarnya sekitar dua hingga tiga jam setiap kelompok,” imbuh Suroto.

Dia menjelaskan, ia bersama teman-teman guru lain memutuskan mendatangi rumah murid untuk belajar bersama. Sekitar satu minggu setelah anak didik belajar dirumah pada pertengahan Maret 2020 lalu.

”Selain terkendala sinyal, juga kadang ada orang tua yang kurang memahami materi yang disampaikan guru dalam pembelajaran daring. Dengan kedatangan kami ini, bisa menjelaskan materi secara langsung dan jika ada kesulitan langsung bisa ditanyakan,” jelas Suroto.

Sebagai informasi, SD Kanisius Kenalan berada di Kawasan Pegunungan Menoreh yang letaknya berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kulonprogo. Sehingga beberapa siswa juga berasal dari Desa Banjaroyo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo.

Karenanya, Guru yang sudah 35 tahun mengajar di SD Kanisius Kenalan ini juga mendatangi murid-muridnya yang tinggal di wilayah Kabupaten Kulonprogo. Suroto yang merupakan guru kelas 3 mengampu 15 anak, yang terdiri atas 10 anak dari wilayah Kecamatan Borobudur dan lima anak dari wilayah Kalibawang.

Download Musik Keren Disini

 ”Kendalanya ketika musim hujan kemarin. Sering kehujanan, bahkan waktu mau ke rumah siswa juga pernah mengalami ban bocor,” aku Suroto.

Tambah dia, inisiatif dirinya mengunjungi muridnya, bukan hanya karena susah sinyal telepon seluler. Namun juga tanggung jawab sebagai guru pendamping karena pengalaman belajar secara daring kurang maksimal. (mta)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: