Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Kita Bisa Hidup Tanpa Internet, Tapi Tidak Tanpa Petani

Kita Bisa Hidup Tanpa Internet, Tapi Tidak Tanpa Petani

  • calendar_month Sel, 10 Mar 2026

BNews-OPINI-Dalam ruang lingkup kehidupan, sektor pertanian merupakan salah satu faktor penentu dalam menjaga kelangsungan peradaban sebuah bangsa.

Seorang petani sayuran di lereng Gunung Merbabu, jika dilihat sekilas, hanya menjalani rutinitas sederhana: menanam benih sayur; merawat tanaman setiap hari, memberi pupuk dan nutrisi, lalu memanen hasilnya untuk dijual ke pasar.

Uang hasil panen tersebut kemudian diputar kembali untuk memenuhi kebutuhan hidup selama tiga hingga empat bulan masa kerja di ladang.

Untuk mempertahankan hidup dan mencukupi kebutuhan lainnya, para petani gunung rela menjalani kehidupan yang sangat sederhana.

Mereka tidak nongkrong di kafe, tidak rutin berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan setiap akhir pekan, atau melakukan berbagai aktivitas “healing” yang kini populer agar terlihat bahagia.

Cara makan mereka pun sederhana. Ngramban—memetik sayur di pekarangan rumah atau ladang—kemudian disantap dengan sambal korek, ikan asin, tahu tempe bacem, dan sesekali mie instan yang mereknya akrab di lidah mereka.

Cara hidup tersebut justru menjadi strategi paling efektif untuk menjaga keseimbangan ekonomi rumah tangga, sekaligus memastikan kebutuhan pangan tetap terpenuhi hingga masa panen berikutnya tiba.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

Bagi para perempuan yang hidup di kawasan pegunungan, mereka juga rela tampil sederhana. Mungkin mereka belum pernah merasakan perawatan di salon kecantikan terkenal atau menggunakan serum wajah mahal agar tampak glowing.

Pakaian dan kerudung yang mereka kenakan pun kadang memiliki kombinasi warna yang tidak lazim dalam perspektif mode perkotaan. Namun mereka tetap percaya diri. Fokus mereka hanya pada pekerjaan, bukan mencari sorak sorai atau validasi, baik di dunia nyata maupun media sosial.

Sikap hidup seperti ini membutuhkan keteguhan hati dan jiwa yang luas. Seolah konsep nrimo ing pandum memang tidak pernah hilang dari prinsip kehidupan mereka.

Jika dilihat dari sisi spiritual, sesungguhnya mereka berada pada tingkat yang sangat tinggi. Sebab kehidupan seperti itu hanya bisa dijalani oleh orang-orang yang hatinya bersih dan tidak haus validasi.

Mengapa demikian? Karena sejatinya mereka sangat mampu. Mereka bisa saja meniru gaya hidup kota—tampil klimis, wangi, mengenakan pakaian model terbaru, aktif mengunggah foto di media sosial, bahkan mengedit wajah agar tampak lebih menarik.

Namun mereka memilih jalan yang berbeda.

Dari sini kita belajar bahwa petani adalah orang-orang yang sangat tangguh dan berdedikasi terhadap tugasnya. Kita bisa membayangkan, jika para petani di lereng-lereng gunung berhenti mengolah tanah dan mogok kerja, apa yang akan terjadi?

Falsafah Pacul

Salah satu persoalan bangsa ini adalah semakin tercerabutnya generasi sekarang dari akar budaya.

Dalam pengertian luas, budaya merupakan cara manusia mbudi daya kehidupan melalui cipta, rasa, dan karsa.

Cipta memungkinkan manusia berkreasi dan menciptakan sesuatu yang mendukung kehidupannya.

Rasa menyelaraskan pikiran, hati, dan semesta.

Karsa merupakan pengejawantahan nyata dari ide dan gagasan dalam kehidupan.

Dalam sistem mata pencaharian, para leluhur Nusantara menciptakan berbagai alat pertanian, salah satunya cangkul atau pacul.

Pacul menjadi alat yang sangat penting bagi para petani, bahkan bisa dikatakan sebagai alat wajib dalam kegiatan bercocok tanam.

Ketika penyebaran agama Islam masuk ke tanah Jawa, alat-alat pertanian ini juga digunakan sebagai simbol dakwah agar ajaran agama lebih mudah diterima oleh masyarakat petani.

Kanjeng Sunan Kalijaga memfalsafahkan pacul sebagai “perkoro papat ojo nganti ucul.”

Sekilas tampak seperti kerata basa biasa, namun memiliki makna mendalam: manusia harus menjaga empat indera penting dalam kehidupan.

Jika empat hal ini lepas dari kendali kebijaksanaan, seorang pemimpin akan kehilangan kehormatannya, digambarkan seperti orang gundul yang kehilangan mahkota kehidupan.

Empat unsur tersebut adalah:

  • Mata: digunakan untuk melihat kesulitan rakyat.
  • Telinga: digunakan untuk mendengar keluhan rakyat dan nasihat para agamawan.
  • Hidung: digunakan untuk mencium dan merasakan penderitaan rakyat.
  • Mulut: digunakan untuk mengatakan kejujuran, keadilan, dan kebijaksanaan.

Nilai ini masih sangat relevan sebagai kritik sosial, yang dikemas dalam lagu “Gundul-Gundul Pacul” karya Kanjeng Sunan Kalijaga (1450–1580 M). Lagu tersebut diciptakan untuk mengingatkan para pemimpin agar tidak berlaku gembelengan dalam menjalankan amanah rakyat, terutama terkait kesejahteraan sosial.

Mengapa Sunan Kalijaga memilih pacul sebagai simbol gerakan moral?

Karena petani adalah kekuatan sebuah peradaban. Petani adalah penopang berdirinya sebuah bangsa. Petani adalah kehidupan.

Kita mungkin masih bisa hidup tanpa internet, tetapi kita tidak bisa hidup tanpa makanan.

Indonesia dalam Geopolitik Internasional

Indonesia merupakan negara yang menganut prinsip politik luar negeri bebas dan aktif.

Artinya, Indonesia tidak memihak blok kekuatan dunia tertentu (bebas), namun tetap aktif menciptakan perdamaian dunia dan memperjuangkan kepentingan nasional.

Prinsip tersebut secara konstitusional tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 alinea keempat, serta diatur secara operasional dalam UU Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri.

Sebagai negara netral, Indonesia memang tidak berada dalam kondisi siaga perang akibat konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Namun tidak ada salahnya kita belajar dari sejarah bahwa salah satu faktor utama keberlangsungan sebuah peradaban adalah ketahanan pangan.

Sebagian masyarakat Indonesia mungkin pesimis ketika melihat negara lain berlomba-lomba mengembangkan rudal dan teknologi pertahanan, sementara Indonesia justru sibuk mengurus program makan bergizi.

Namun dalam konteks geopolitik internasional, Presiden Prabowo Subianto memilih prinsip:

“Satu musuh terlalu banyak, seribu kawan terlalu sedikit.”

Prinsip ini menegaskan bahwa Indonesia tidak akan terlibat langsung dalam peperangan jika tidak ada ancaman serius terhadap kedaulatan negara.

Indonesia adalah bangsa yang menjunjung tinggi perdamaian, meskipun bukan berarti bangsa yang penakut.

Ompreng MBG dan Ancaman Perang Dunia

Sebagai warga negara, kita tentu pernah membayangkan bagaimana kondisi ekonomi jika perang dunia benar-benar terjadi.

Saat ini saja, ketika terjadi pembatasan di Selat Hormuz, para ekonom sudah memperingatkan kemungkinan gejolak harga global akibat berkurangnya pasokan energi dari Timur Tengah.

Dalam sudut pandang militer, langkah Presiden Prabowo Subianto menjalankan program seperti Food Estate atau lumbung pangan nasional sebenarnya bukan tanpa alasan.

Program ini meliputi:

  • Pengembangan pertanian terpadu dari hulu hingga hilir
  • Perluasan lahan sawah, jagung, dan komoditas pangan lainnya

Selain itu, terdapat program Cetak Sawah 1 Juta Hektar di Merauke yang didukung Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 2025 untuk memperkuat swasembada pangan nasional.

Program lainnya adalah Koperasi Desa Merah Putih, yang diharapkan menjadi pos penjaga keamanan pangan masyarakat desa sekaligus penyedia bahan pokok bagi program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Jika program-program ini berhasil, Indonesia akan berada dalam kondisi relatif aman dalam hal pangan, bahkan jika terjadi krisis global.

  • Program MBG dan Kepentingan Rakyat

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sering menjadi bahan perdebatan. Namun jika melihat dari sisi kesejahteraan petani dan peternak, program ini sebenarnya memiliki tujuan strategis.

Beberapa tahun lalu, harga sayuran, telur, dan hasil peternakan sempat anjlok karena lemahnya daya beli masyarakat. Bahkan susu terpaksa dibuang karena tidak terserap pasar.

Dari kondisi tersebut muncul gagasan untuk menyerap hasil pertanian dan peternakan melalui dapur MBG.

Bagi sebagian orang yang ekonominya mapan, program ini mungkin tidak terasa penting. Namun bagi sebagian masyarakat Indonesia yang masih kesulitan memenuhi kebutuhan makan, program ini memiliki arti besar.

Tentu saja, jika ada oknum penyedia makanan atau SPPG yang menyalahgunakan program, masyarakat berhak marah dan mengkritik.

Namun kritik seharusnya diarahkan pada pelaksana yang bermasalah, bukan pada programnya secara keseluruhan.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

Indonesia sangat mampu membiayai program ini. Pemerintah tentu memiliki perhitungan matang sebelum menjalankannya.

Sebagai masyarakat, kita perlu bersikap bijak:
kritisi jika ada penyimpangan, laporkan jika terjadi pelanggaran, tetapi jangan mudah terprovokasi oleh framing negatif yang dapat memecah belah.

Sebagai rakyat yang baik, kita juga harus waspada terhadap kelompok-kelompok yang memanfaatkan program MBG sebagai amunisi politik.

Jangan sampai tangan kanan menerima manfaat program, sementara tangan kiri justru menyebarkan kebencian terhadapnya.

Jangan ya, dik. !!

Penulis : Abbet Nugroho, M.A.P- (Penulis adalah seniman, budayawan, dan aktivis kebangsaan).

About The Author

  • Penulis: BNews 2

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less