Komunitas Yahudi Tondano Ditawari Pindah ke Israel? Rabbi Yaakov Ungkap Alasannya Tetap di Indonesia
- calendar_month Ming, 30 Nov 2025

Komunitas Yahudi di Tondano_foto Adhi Wicaksono
BNEWS—NASIONAL— Kehadiran komunitas Yahudi di Indonesia memang tidak sebesar enam agama resmi yang dianut masyarakat.
Selain populasinya yang kecil, aktivitas mereka juga tidak menonjol. Komunitas Yahudi Tondano di Sulawesi Utara bahkan menjadi satu-satunya kelompok yang kerap muncul dalam pemberitaan.
Belakangan, setelah komunitas Yahudi India Bnei Menashe diajak ke Israel, komunitas Yahudi Tondano juga menerima tawaran serupa.
Rabbi Yaakov Baruch mengungkapkan adanya ajakan pindah ke Israel tersebut.
“Tawaran itu ada tapi tidak secara formal hanya non-formal saja,” kata Yaakov melalui pesan singkat, dikutip dari CNNIndonesia, Rabu (26/11).
Namun, Yaakov menegaskan dirinya memilih tetap tinggal di Indonesia demi mengurus komunitas Yahudi yang jumlahnya sangat sedikit.
Sejarah Awal Kehadiran Yahudi di Nusantara
Kehadiran komunitas Yahudi di Indonesia sudah terjadi jauh sebelum kemerdekaan. Mereka datang bersamaan dengan para pedagang rempah yang memasuki kepulauan Nusantara.
Dalam jurnal Religio Universitas Gadjah Mada tahun 2012, Leonard Chrysostomos Epafras menulis sejarah tersebut dalam artikel berjudul Realitas Sejarah dan Dinamika Identitas Yahudi Nusantara. Ia menjelaskan bahwa orang Yahudi hadir sejak bangsa Portugis masuk ke Asia Tenggara, termasuk Hindia Belanda.
Leonard mencatat laporan misionaris Fransiskus Xaverius pada 1547 yang berjumpa dengan komunitas Yahudi Sefardi di Malaka, berikut keberadaan sinagogenya.
Selain berdagang, sebagian Yahudi menetap di India dan Malaka untuk menghindari Pengadilan Inkuisisi, yaitu peradilan gereja Katolik yang memerangi pemurtadan, terutama terhadap Yahudi dan Muslim.
Ketika Belanda datang dengan misi dagang, jumlah komunitas Yahudi di Hindia Belanda makin bertambah melalui Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang didirikan pada 20 Maret 1602. Bahkan salah satu pemegang saham terbesar VOC adalah Isaac Le Maire, investor keturunan Yahudi dari Wallonia.
Upaya Pembentukan Komunitas Yahudi pada Era Kolonial
Pada 1857, dua rabi dari Den Haag serta seorang rabi dari Rotterdam bernama Bernstein, Ferares, dan Isaacsohn mengajukan petisi kepada Kerajaan Belanda. Mereka mendukung tokoh Yahudi, Israel Benjamin, untuk berangkat ke Hindia Belanda dan membentuk komunitas Yahudi yang lebih kokoh.
Namun, para rabi menilai komunitas Yahudi di Hindia Belanda sulit berkembang karena status sosial yang rendah. Meski petisi diajukan, pemerintah Belanda menolak permintaan Benjamin.
Empat tahun kemudian, pada 1861, utusan rabinikal Yerusalem, Jacob Halevy Saphir, tiba di Batavia. Ia melaporkan keberadaan sekitar 20 keluarga Yahudi Ashkenazi di Batavia, Surabaya, dan Semarang. Namun Saphir prihatin karena banyak dari mereka tidak menjalankan tradisi Yahudi dan menikah dengan wanita non-Yahudi.
Dalam catatan Ayala Klemperer-Markman dari situs The Indo Project, Saphir menyebut komunitas Amsterdam pernah mengirim seorang rabi ke Hindia Belanda, tetapi rabi tersebut meninggal sebelum menyelesaikan tugasnya.
Zaman Keemasan Yahudi di Hindia Belanda
Pada 1920-an, komunitas Yahudi semakin terlihat dengan munculnya Association for Jewish Interests in the Dutch East Indies dan aktivitas World Zionist Conference (WZC) di berbagai kota, seperti Batavia, Bandung, Malang, Medan, Padang, Semarang, dan Yogyakarta.
Penelitian skripsi Wardani Dwi Jayanti (Universitas Sebelas Maret) menyebut periode 1926–1942 sebagai masa emas komunitas Yahudi di Indonesia. Mereka dapat beribadah dan mengadakan pertemuan secara bebas tanpa tekanan antisemitisme.
Sensus 1930 mencatat 1.095 orang Yahudi, sementara pada akhir dekade 1930-an jumlah itu meningkat menjadi 2.500 orang yang tersebar di Jawa, Sumatera, dan beberapa wilayah lainnya.
Sebagian besar Yahudi Bagdad bermukim di Surabaya, dengan populasi mencapai sekitar 500 orang. Pada masa itu, sentimen antisemit di Eropa justru membuat Yahudi di Hindia Belanda dapat beribadah dengan lebih tenang.
Surabaya bahkan pernah memiliki sinagoge yang aktif digunakan.
Masa Pendudukan Jepang dan Dampaknya
Ketika Jepang menduduki wilayah Nusantara, kenyamanan komunitas Yahudi terganggu.
Aliansi Jepang dengan Jerman di bawah Adolf Hitler membuat Jepang menerapkan perlakuan antisemit terhadap komunitas Yahudi di Indonesia, baik Ashkenazi, Sephardic, maupun Mizrahi.
Banyak dari mereka kemudian masuk kamp interniran Jepang.
Setelah Indonesia merdeka dan Israel berdiri pada 1948, konflik Arab–Israel membuat kebijakan luar negeri Indonesia tidak membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Kondisi ini berdampak pada penurunan jumlah komunitas Yahudi di Indonesia.
Sebagian Yahudi keturunan Belanda akhirnya pulang ke negeri asal atau pindah ke Australia dan Amerika Serikat. Ada juga yang kemudian hijrah ke Israel.
Komunitas Yahudi Tondano dan Kebebasan Beragama
Meski kecil, komunitas Yahudi tetap bertahan di Indonesia. Di Tondano, Minahasa, satu-satunya sinagoge di Indonesia masih berdiri dan digunakan untuk ibadah setiap shabbat. Jemaat dari Manado rutin datang untuk beribadah.
Konstitusi Indonesia menjamin kebebasan beragama melalui Pasal 29 UUD 1945. Meskipun hanya enam agama diakui pemerintah, keyakinan di luar itu tetap boleh dijalankan.
Ajakan Pindah ke Israel untuk Yahudi Tondano
Serangan Israel ke Gaza yang menewaskan lebih dari 60 ribu warga Palestina dalam dua tahun terakhir membuat hubungan komunitas Yahudi dengan masyarakat Indonesia turut terdampak.
Komunitas Yahudi Tondano disebut-sebut mendapat ajakan pindah ke Israel. Namun Rabbi Yaakov menegaskan bahwa ia tetap bertahan.
“Kalau saya sempat ditawari dari dulu tapi dari awal mengatakan bahwa karena masih ada hal penting yang harus saya lakukan yaitu mengurusi Synagogue dan Komunitas Yahudi Indonesia maka belum bisa melakukannya saat ini,” kata Yaakov. (*/Sumber: CNN Indonesia)
About The Author
- Penulis: Borobudur News





Saat ini belum ada komentar