Magelang Siaga Kemarau Panjang! BMKG Ingatkan Ancaman El Nino, Relawan Jadi Garda Terdepan
- calendar_month 59 menit yang lalu

Waspada Kemarau Panjang, Relawan Diharapkan Jadi Ujung Tombak Dan Garda Terdepan
BNews-MAGELANG– Pemerintah Kabupaten Magelang mulai memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi musim kemarau panjang tahun 2026 dengan menggandeng relawan bencana melalui konsep kolaborasi Pentahelix. Langkah ini dilakukan menyusul prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut wilayah Kabupaten Magelang berpotensi mengalami musim kemarau lebih panjang akibat fenomena El Nino.
Wakil Bupati Magelang, Sahid, mengatakan dampak musim kemarau panjang tidak boleh dianggap remeh karena berpotensi memicu krisis air bersih, kekeringan lahan pertanian, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di kawasan lereng pegunungan di Kabupaten Magelang.
Hal tersebut disampaikan Sahid saat memberikan arahan pada kegiatan sosialisasi dan pelatihan relawan bertajuk Kolaborasi Pemerintah dan Relawan dalam Menghadapi Musim Kemarau, yang digelar di Pendopo Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang, Kamis (25/6/2026).
Menurut Sahid, pemerintah daerah tidak dapat bekerja sendiri dalam menghadapi potensi bencana akibat musim kemarau. Keterbatasan anggaran dan personel membuat kolaborasi dengan berbagai pihak, khususnya relawan, menjadi sangat penting.
“Relawan adalah ujung tombak, mata dan telinga pemerintah di garda terdepan,” kata Sahid.
Ia berharap para relawan dapat memanfaatkan kegiatan tersebut untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mitigasi bencana kekeringan. Selain itu, relawan juga diharapkan mampu memperkuat koordinasi dengan BPBD dan instansi terkait agar penanganan bencana dapat dilakukan secara cepat dan tepat.
Menurutnya, relawan memiliki peran penting sebagai agen edukasi di tengah masyarakat, terutama dalam mengajak warga menggunakan air bersih secara bijak serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
Ia menegaskan bahwa menghadapi fenomena El Nino bukan hanya tentang merespons ketika bencana terjadi, tetapi lebih pada membangun kesiapsiagaan melalui langkah-langkah mitigasi sejak dini.
“Maka kuncinya gotong royong adalah kekuatan terbesar Kabupaten Magelang,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang, Bambang Hermanto, mengatakan berdasarkan prakiraan BMKG, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026. Oleh karena itu, berbagai langkah antisipasi dan mitigasi perlu segera dilakukan agar dampaknya dapat diminimalkan.
Menurut Bambang, relawan memiliki peran strategis dalam penanggulangan bencana karena lebih dekat dengan masyarakat serta memahami kondisi wilayah yang berpotensi terdampak.
Kegiatan tersebut, lanjutnya, menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap visi Bupati Magelang ANYAR GRESS, khususnya pada misi kelima Panca Darma, yakni meningkatkan pelestarian lingkungan hidup, pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan, serta memperkuat ketangguhan menghadapi bencana melalui program Sapta Cipta “Lestari Alame”.
Dalam mendukung program tersebut, BPBD Kabupaten Magelang telah menjalankan tujuh program prioritas atau Sapta Aksi, yakni pembentukan; Desa Tangguh Bencana, pengelolaan Early Warning System (EWS), sosialisasi dan edukasi kebencanaan, pembentukan Kecamatan Tangguh Bencana; kolaborasi logistik kebencanaan, peningkatan kapasitas relawan, serta pemulihan ekonomi masyarakat; terdampak bencana, khususnya warga kurang mampu.
Bambang menjelaskan, kegiatan sosialisasi tersebut bertujuan memberikan edukasi sekaligus memperkuat konsolidasi relawan bencana; dalam menghadapi potensi dampak musim kemarau tahun 2026.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
“Peserta sosialisasi ini berjumlah 150 orang relawan bencana dari 10 Kecamatan pada Eks Kawedanan Salam, Salaman, dan Bandongan. Atau dari wilayah yang rawan bencana,” terang Bambang.
Salah seorang relawan asal Kecamatan Windusari, Sulis, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, sosialisasi sangat penting untuk menambah wawasan serta meningkatkan kesiapsiagaan relawan dalam menghadapi potensi bencana saat musim kemarau.
Ia mengatakan wilayah Kecamatan Windusari termasuk kawasan yang rawan terjadi kebakaran hutan, terutama di daerah pegunungan. Karena itu, edukasi kepada masyarakat perlu dilakukan sejak dini agar risiko kebakaran dapat ditekan.
“Kami sebagai relawan mengucapkan terima kasih kepada pemerintah utamanya kepada BPBD atas terselenggaranya kegiatan sosialisasi ini,” ucap Sulis.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, relawan, dan masyarakat, Pemerintah Kabupaten Magelang berharap dampak musim kemarau panjang tahun 2026; dapat diantisipasi sejak dini sehingga risiko krisis air bersih, kekeringan pertanian, maupun kebakaran hutan dan lahan dapat diminimalkan. (bsn)
About The Author
- Penulis: BNews 2





Saat ini belum ada komentar