Makin Banyak Keunikan di Pasar Tradisi Lembah Merapi

BNews-DUKUN– Ada yang menarik di Pasar Tradisi Lembah Merapi, mulai dari kuliner unik hingga pijat. Tempat ini merupakan salah satu lokasi wisata di Magelang yang menyuguhkan pemandangan indah Merapi Merbabu dan kuliner jadul.

Pasar Tradisi lembah Merapi yang berada di Gununggono, Desa Banyubiru, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang ini memang unik. Seluruh pembayarannya tidak menggunakan mata uang rupiah, melainkan dengan Dhono.

Kali ini kita akan mereview salah satu kuliner khas di Pasar Tradisi Lembah Merapi. Namanya Bunthil dan bothok yang setiap pasaran pasti diserbu pengunjung.

Buntil di Pasar Tradisi Lembah Merapi terbuat dari parutan kelapa dicampur dengan pindang dan bumbu-bumbu yang Kemudian dibungkus daun talas atau papaya. Racikannya pas, dan tanpa bahan pengawet. Untuk mendapatkan makanan ini, wisatawan hanya membayar dengan dua Dhono.

Sedangkan bothok dengan harga tiga Dhono, lele yang dibumbui kemudian dikukus di buat langsung oleh ibu-ibu Desa Banyubiru. Penyajian makanan di pasar ini tidak menggunakan plastik. Pedagang memanfaatkan daun pisang, bathok, dan gerabah.

Jika merasa lelah setelah mengitari pasar Tradisional Lembah Merapi. Tidak usah khawatir, cukup dengan pijat capek dan refleksi rasa lelah bisa hilang. Selain itu, pengunjung juga bisa melakukan cek kesehatan.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)
Loading...

Pengunjung yang melakukan pijat cukup membayar dengan lima dhono untuk pijat refleksi dan sepuluh dhono untuk pijat capek. Cek kesehatan yang tersedia yakni cek gula darah, cek kolesterol dan cek asam urat.

NEWS: Mau pijat refleksi dan lain lain bisa di pasar Tradisi Lembah Merapi (12/1)-(Foto-Amel)
NEWS: Mau pijat refleksi dan lain lain bisa di pasar Tradisi Lembah Merapi (12/1)-(Foto-Amel)

Riyanto, sebagai tukang pijat mengatakan setiap cek kesehatan mempunyai harga yang berbeda-beda. Pengunjung juga bisa memilih satu paket komplit.

”Untuk cek gula darah wisatawan hanya membayar enam dhono, cek kolesterol 13 dhono, dan cek asam urat delapan dhono. Untuk satu paket komplit cukup 35 dhono,” katanya.

Hanya dengan durasi 5-15 menit, wisatawan bisa menghilangkan rasa capeknya. Menurut Susilo salah satu wisatawan, ia merasa puas dan ingin mencobanya lagi.

”Setelah dipijat, badan saya jadi tambah enteng dan capeknya hilang,” Ungkap Susilo, wisatawan asal Klaten. (*/bsn)

Penulis : Amelia Yuniar dan Fitri Hidayatun-Universitas Negeri Semarang

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: