Mengancam Tak Diluluskan, Kepsek Mesum Cabuli 6 Murid SD

BNews—NASIONAL— Kepala Sekolah SD di Kapuas, Kalimantan Tengah, GPA, ditangkap polisi karena diduga mencabuli beberapa siswanya yang masih beusia 11-13 tahun. Tersangka mengancam tidak akan meluluskan bahkan tidak memberikan ijazah jika lulus.

Kasat Reskrim Polres Kapuas AKP Kristanto Situmeang mengatakan, peristiwa ini terjadi pada Mei 2021. Sementara tersangka melancarkan perbuatan bejatnya di ruang kepala sekolah.

”Untuk melancarkan aksinya, korban disuruh berjanji dan bersumpah agar tidak menceritakan kepada orang tuanya. Apabila korban menceritakan maka tidak akan diluluskan dan ijazahnya akan ditahan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dugaan pencabulan terbongkar pada Jumat, (21/6), sekitar pukul 14.00WIB. Dimana tersangka memanggil satu persatu para korban ke ruangan kepala sekolah dengan alasan untuk menyampaikan perbaikan nilai.

Korban pun kemudian disuruh masuk secara bergantian ke dalam ruangan kepala sekolah. Setelah masuk korban malah di ajak nonton film dewasa, namun korban menolak.

”Tapi pada saat itu terlapor sempat memegang payudara dan kemaluan korban. Kemudian orang tua korban melapor kepada kita setelah mendapat laporan dari anak-anaknya,” jelasnya.

Dalam kasus ini ada empat orang siswi yang menjadi korban ulah oknum Kepsek cabul yang mengajar di sebuah sekolah dasar di wilayah Kecamatan Pasak Talawang, Kapuas tersebut.

“Korbanya sebenarnya ada enam orang, cuma yang sudah kita periksa baru empat orang dan sisanya dua orang belum diperiksa karena sakit,” terangnya.

Terkait barang bukti meteran pita jahit, menurut Kristanto meteran itu digunakan terduga pelaku untuk mengukur payudara korban. Sedangkan barang bukti laktop digunakan untuk menonton film porno.

Atas perbuatan tersebut, terduga pelaku disangkakan pasal 82 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang RI Nomor 17 Tahun 2016. Tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016. Tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan.

”Adapun ancaman hukumannya paling lama 15 tahun penjara dan paling singkat lima tahun penjara,” pungkas Kristanto Situmeang. (ifa/han)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: