Mengenal Mie Lethek Khas Borobudur Magelang

BNews–MAGELANG–Sebuah kuliner khas Borobudur yang hampir punah tertelan zaman. Bermula dari sebuah adonan kalis berwarna kecoklatan yang dimasak di dalam wadah besar. Dan masih menggunakan tungku berbahan bakar kayu untuk memasaknya.

Lalu tampak diangkat dan dimasukkan ke dalam mesin. Asap pun terlihat mengepul di udara menandakan adonan itu sangat panas. Saat mesin dihidupkan langsung menekan adonan hingga membuatnya menjadi pipih.

Lalu adonan pun keluar melalui cetakan yang terdapat di bawah mesin dengan bentuk sulur-sulur panjang dan lebih tipis. Kemudian, ditampung pada wadah seng untuk dijemur.

Rutinitas dan pemandangan itulah yang dikerjakan perajin mie lethek sehari-hari yang berlokasi di Dusun Tuksongo, Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Pemilik produksi sekaligus perajin mi lethek, Sofyan Khudori (37), mengatakan usahanya itu sudah berjalan sejak 35 tahun yang lalu.

Bahkan, mi lethek produksinya menjadi satu-satunya yang tersisa di Kecamatan Borobudur.

“Dulunya, produksi mi lethek diolah oleh ayah saya, Suwandi. Namun, karena sudah berumur jadi yang lebih banyak ke sini, saya anaknya. Ya, benar tinggal satu ini saja yang masih berproduksi. Dulu itu ada dua tempat yang memproduksi mi lethek seperti ini, tapi sudah tutup lama,” katanya.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Meskipun sudah berdiri sejak puluhan tahun silam, lanjutnya, pembuatan mi lethek masih mempertahankan cara tradisiona serta memakai bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan pengawet.

“Sebagian besar masih dikerjakan manual, bahkan saat penjemurannya (mi) cuma memakai sinar matahari tanpa bantuan mesin pengering. Sedangkan untuk bahan baku, kami tetap menggunakan batang pohon aren yang direbus kemudian diambil sari patinya. Kemudian, dicampur dengan air dijadikan adonan yang berwarna kecoklatan tadi,”ungkapnya.

Ia mengatakan, dalam sehari dirinya mampu memproduksi mi lethek hingga mencapai 1 kuintal.

Bahkan, bisa lebih jika didukung dengan cuaca yang bagus dan jumlah pekerja yang memadai.

” Ya satu kuintal bisa, itu standarnya. Tetapi, tetap melihat kondisi karena sistem pembuatannya tergantung cuaca dan jumlah pekerja. Kalau, saling mendukung bisa dalam sehari ya itu satu kuintal bahkan bisa lebih,”ujarnya.

Pemberian nama mi lethek, jelas Sofyan, sebenarnya berasal dari penamaan para konsumennya.

Karena, warna mi yang dihasilkan berwarna kecoklatan yang memiliki kesan kusam berbeda dengan mi sejenis pada umumnya yang cenderung berwarna putih.

“Sebenarnya nama aslinya itu Mi Soon Gilang. Sedangkan, pemberian nama mi lethek dari konsumen. Karena, warna mi-nya agak kecoklat-coklatan  berbeda dengan mi lain. Jadi, istilah mi lethek itu aslinya bukan dari sini memang dari konsumen. Pernah coba buat yang berwarna putih tetapi konsumen tidak begitu suka, jadi tetap produksi yang seperti ini sudah jadi ciri khas juga,”tuturnya.

Tetap mempertahankan kualitas dan cita rasa membuat mi lethek buatannya terjual hingga luar kota.

Mulai dari Purworejo, Temanggung, Wonosobo, Purwokerto, bahkan Surabaya.

“Kalau dulu, pembeli mi lethek kebanyakan pedagang bakso. Tapi, lama-kelamaan konsumen punya kreativitas akhirnya mi lethek juga dibuat untuk makanan seperti mi goreng, soto, atau masak kuah, ya macam-macam lah kalau sekarang,” terangnya.

Ia menambahkan, untuk harga mi lethek dijual dalam satuan bal atau sama dengan lima kilogram.

Namun, jika konsumen meminta  dalam jumlah yang lebih sedikit atau lebih banyak tetap dilayani.

“Kalau satu balnya itu sekarang Rp120 ribu. Memang ada kenaikan harga sedikit karena kondisi BBM yang juga saat ini naik,”tutupnya. (*/tribun)

About The Author

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!