Mengenang Tragedi Kerusuhan Mei 1998 di Magelang

BNews—MUNTILAN— Bulan Mei mencatat sejarah penting bagi Indonesia. Salah satu peristiwa paling mencekam dan membekas diingatan masyarakat adalah Kerusuhan Mei ’98.

Tahun ini, Kerusuhan Mei ’98 telah berusia dua dekade lebih. 22 tahun lalu, sejarah mencatat gelombang unjuk rasa dari gerakan mahasiswa dan berbagai elemen masyarakat tumpah ruah di jalanan Jakarta.

Gedung Senayan Jakarta tempat para wakil rakyat berhasil diduduki massa. Aparat keamanan yang pasang posisi siaga, bertindak tegas siap menggulung mereka yang anarkis.

Suasana ibu kota saat itu tidak kondusif. Darurat. Penjarahan dan pembakaran toko dan mall dilakukan orang tak dikenal. Teror dilaporkan terjadi di berbagai daerah.

Bahkan teror dan kerusuhan menjalar hingga daerah. Di Muntilan, mayoritas toko memilih tidak beroperasi. Mereka menutup toko untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Pemandangan vandalisme di pintu toko di kawasan Muntilan marak dijumpai.

Pascakerusuhan, banyak beredar kabar bila aksi besar-besaran mahasiswa dan masyarakat yang turun ke jalan ditunggangi kepentingan politik dan kalangan tertentu. Sampai sekarang, aksi protes termasuk menguak peristiwa penghilangan paksa aktivias pro-demokrasi 1997/1998 oleh kelompok tertentu terus digelar.

Mereka yang lahir ditahun 90-an mungkin menjadi saksi dan mengalami suasana peristiwa tersebut. Namun, generasi millenial atau yang belum lahir juga perlu tahu bahwa Indonesia pernah berada dititik kelam.

Baca juga: Sejarah Hari Ini Pesawat Garuda Terbakar di Jogja dan Tewaskan 21 Penumpang

Berdasarkan data yang dirangkum Borobudur News, tragedi Kerusuhan Mei ’98 yang bermula pada tahun 1997. Pada tahun tersebut, terjadi krisis ekonomi di negara-negara Asia yang berdampak juga pada perekonomian Indonesia. Kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok membuat rakyat golongan bawah makin tercekik.

Harga BBM dari Rp700 melonjak menjadi 1200 permangkuk. Mie ayam Rp500 naik jadi Rp1.000 permangkuk. Jananan anak-anak di warung seperti mi lidi semula Rp100 menjadi Rp500 perbungkus.

Sejumlah kebutuhan pokok yang ikut terkerek naik saat krismon membuat rakyat golongan bawah makin tercekik. Aksi protes di daerah mulai bermunculan, hingga puncaknya para demonstran yang didominasi mahasiswa Universitas Trisakti turun ke jalan pada 12 Mei 1998.

Mereka menggelar long march ke Gedung Senayan, menghampiri para wakil rakyat yang duduk nyaman di kursi kekuasaan. Aksi mereka dihalau hingga digembosi petugas.

Puncaknya terjadi bentrokan antarmahasiswa dan petugas keamanan. Empat mahasiswa Trisakti tertembus peluru ’asli’ aparat. Tetapi petugas menyangkal bila mereka menggunakan peluru karet, senapan air dan tembakan gas air mata.

Selain demonstrasi yang merenggut empat nyawa di pusat ibu kota, Tragedi Mei ’98 merembet ke daerah. Pada tanggal 13 Mei 1998, kericuhan bertambah parah dengan aksi penjarahan dan penganiayaan sebagian warga minoritas.

Toko dan tempat usaha mereka menjadi sasaran empuk untuk diserbu. Perempuan dilecehkan. Ada juga yang dikabarkan kehormatannya direnggut secara biadab.

Di Muntilan, kawasan pertokoan terpaksa tutup. Banyak coretan dengan pilox bernada rasis dan tidak terpuji. Aksi vandalism itu dibiarkan saja. Tidak ada yang berani menghapus tulisan bernada sarkas.

Sebelum harga kebutuhan pokok melonjak tinggi, pelantikan Presiden Soeharto untuk kali ketujuh sudah memicu ketegangan rakyat. Setelah terjadi kekacauan yang semakin parah dan tak terkendali, Soeharto memutuskan mengundurkan diri dari jabatan presiden pada 20 Mei 1998. (han)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: