IKLAN PARTAI HUT DEMOKRAT

Misteri Raja Kera di Bukit Menoreh yang Pernah Diburu Suku Badui

BNews—BOROBUDUR—Lereng perbukitan menorah yang membentang di Kabupaten Magelang hingga Jogjakarta menyimpan banyak misteri. Bahkan, konon ada seekor kera raksasa yang menjadi raja di Kawasan menoreh.

Cerita ini diungkapkan oleh kepala Suku badui yang diundang oleh masyarakat Kawasan Ngargogondo Kecamatan Borobudur untuk membasmi hama kera pada 2009 silam. Petani resah, kera-kera memakan semua hasil bumi siap panen di ladang.

Dalil, tokoh masyarakat Dusun Kemalang, Desa Ngargogondo mengatakan pada tahun 2009 warga dibantu perhutani bermaksud memusnahkan hama kera yang menganggu. Mereka kemudian mendatangkan tokoh dari suku badui yang dikenal lihai menaklukkan kera.

Percaya tidak percaya namun kenyataannya fenomena mistis ini terjadi dan membuktikan kera-kera di Kawasan Bukit Menoreh bukan kera biasa. Sekitar awal tahun 2009 warga, aparat desa dan Perhutani secara massal berupaya untuk membasmi kera dengan mendatangkan beberapa orang suku Badui untuk memburu kera di Bukit Menoreh.


ASRI : Kera menjadi penghuni utama di kawasan perbukitan menoreh (Foto : istimewa)

Secara khusus, pihak Perhutani yang kami kirimi proposal bantuan penanggulangan gangguan kera. Mereka kemudian secara khusus juga mengundang suku Badui yang terkenal dengan ketrampilan dan keahliannya sebagai pawang kera. Sebanyak 9 orang datang. Naik ke kawasan bukit Menoreh dan berkemah di sana,” kenang Dalil.

Sembilan orang suku Badui ini, setelah membangun tenda dan berkemah mengawali perburuan ratusan kera di kawasan Bukit Menoreh dengan ritual yang dipimpin oleh sang kepala suku Badui. Sebanyak tiga tenda mereka dirikan tiga titik yang dikenal warga sebagai sarang dan tempat beranaknya sang kera beranak pinak.

Loading...

Ketiga titik sarang yang menjadi sasaran itu adalah di lereng Bukit Menoreh yang dikenal warga sebagai Kawasan Watu Putih, di lereng Menoreh di Desa Ngargogondo dan lereng Bukit Menoreh di Desa Majak singi.

 “Ritual mereka cukup unik. Sambil memanjatkan doa-doa dan pujian, kepala suku dan delapan para anggota suku badui meminum kelapa muda dicampur dengan cabe digunakan untuk membasuh muka mereka. Kemudian perburuan kera-kera pun dimulai,” jelasnya.

Awalnya, warga merasa lega karena setiap harinya kesembilan orang dari suku Badui itu berhasil menangkap paling tidak sebanyak kurang lebih antara 60 sampai 75 ekor kera. Kera-kera mulai dari yang masih kecil, dewasa hingga tua serta baik yang berjenis kelamin jantan maupun betina berhasil ditangkap dengan alat jaring dimasukan ke dalam kotak besi kecil.



Ratusan kera yang ada di dalam kotak besi kecil itu kemudian ditata lalu dimasukan ke truk dan dikirim ke hutan tempat suku Badui tinggal. Kegiatan itu berlangsung selama satu bulan dan awalnya tidak menemui satu kendala apapun. (bersambung)

Kaos Deglang

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: