“Pang-Angen” Pentas Teater Magelang, Kisahkan Pembangunan Jalan Tol
- calendar_month Sen, 9 Okt 2023

Teater Magelang Pang Angen angkat isu Pembangunan Jalan Tol
BNews-MAGELANG– Pentas teater kolaborasi antara Sosial Teatrikal dan Teater Fajar dengan pertunjukan naskah berjudul “Pang-Angen” telah diadakan pada Sabtu malam yang lalu (7/10/2023). Tempatnya berlokasi di Auditorium Kampus 1 Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma) dan dimulai pukul 19.30 hingga selesai.
Pentas teater ini mengusung tema Kenduri Seni Nusantara (KSN) dan disutradarai oleh Gepeng Nugroho, dengan asisten sutradara Reza Teyeng.
Sebanyak 40 pemain dan kru terlibat dalam pementasan teater ini yang mengangkat isu antikorupsi.
Gepeng Nugroho, sang Sutradara, sebelum pertunjukan berlangsung menyatakan bahwa teater ini akan menceritakan sebuah kisah tentang sebuah kampung yang sebagian besar lahan mereka terkena proyek pembuatan jalan tol. Akibatnya, banyak lahan yang harus dibebaskan atau dibeli oleh pemerintah.
“Konflik dimulai ketika tidak semua warga setuju dengan pembebasan lahan ini, meskipun ada program ganti untung dari pemerintah. Salah satu alasannya adalah karena warga enggan pindah tempat, bahkan sampai berjuang mati-matian karena sebagian besar warga setuju,” ujarnya, pada Kamis (5/10) dikutip suaramerdeka.
Dia menjelaskan bahwa sebagian besar warga yang awalnya setuju kemudian memiliki berbagai impian ketika uang ganti untung diterima. Banyak impian dari mereka termasuk membangun rumah baru, membuka toko, menikahkan anak, membeli kendaraan, dan lain sebagainya.
“Namun, karena impian mereka yang tinggi, warga yang sebelumnya tidak setuju menjadi setuju untuk melepaskan tanah mereka kepada negara untuk dibangun jalan tol. Harapannya adalah mendapatkan banyak uang dan mewujudkan impian mereka,” tegasnya.
DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)
Seniman yang juga pendiri Padepokan Seni Gubug Kebon ini menjelaskan bahwa konflik kembali muncul ketika uang yang dijanjikan oleh pemerintah sebagai ganti untung tidak kunjung terealisasi. Lurah atau kepala desa pun dituduh sebagai penyebab mengapa uang tersebut tidak cair.
Lurah tersebut dituduh karena masyarakat terpengaruh oleh berita bohong yang menyebutkan bahwa lurah adalah yang bersalah. Padahal, ada tokoh carik atau sekretaris desa dan makelar tanah yang memainkan peran serta memanfaatkan situasi tersebut.
“Karena terdampak oleh berita bohong tersebut, warga melakukan protes kepada lurah hingga terjadi penganiayaan yang mengakibatkan lurah jatuh koma dan dirawat di rumah sakit. Sebenarnya, lurah tidak bersalah karena yang terlibat adalah tokoh carik dan makelar tanah,” jelasnya.
Plot akhir cerita…. (KLIK DISINI UNTUK LANJUT MEMBACA)
About The Author
- Penulis: BNews 2





Saat ini belum ada komentar