Pasar Kayu Muntilan Salah Satu Tempat Syuting Serial Netflix Gadis Kretek

BNews-MAGELANG- Terlihat tersisa beberapa elemen properti film di lokasi Pasar Kayu Muntilan.

Terdapat poster Kretek Merah yang masih tergantung di dinding dan papan nama toko yang ditulis dengan ejaan lama.

Pada akhir Agustus 2022, tim produksi telah menyulap beberapa area di kompleks pasar ini menjadi pasar zaman dahulu pada era 1960-an.

Lapak pedagang kayu diubah menjadi warung, restoran kuno, dan gudang penyimpanan rokok kretek.

Evi Handayani (46), salah satu pemilik lapak di Pasar Kayu Muntilan, mengatakan bahwa lapaknya disewa selama satu minggu selama proses syuting. Dia menerima kompensasi sebesar Rp15 juta.

Selama periode sewa tersebut, bangunan tersebut dikelola oleh tim produksi untuk keperluan pembuatan film.

Hal ini mengakibatkan Evi tidak dapat berjualan seperti biasa. Kayu-kayu yang biasanya berada di lapaknya harus dipindahkan ke tempat lain.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Evi mengakui bahwa proses ini juga membutuhkan biaya tambahan. Namun, dia tidak terlalu mempermasalahkannya karena jumlah biaya sewa yang diterima cukup tinggi.

“Kami menyewa selama satu minggu, tetapi karena memerlukan pengosongan dan perubahan lokasi, jadi proses pengembalian membutuhkan waktu sekitar setengah bulan seperti ini,” jelasnya.

Dia menjelaskan bahwa jumlah biaya sewa yang diterima oleh pemilik lapak bervariasi tergantung pada lokasi lapak. Jumlahnya berkisar antara Rp12 juta, Rp10 juta, dan Rp5 juta.

Sementara itu, untuk lokasi yang berada di pojok bagian dalam, biaya sewanya jauh lebih murah, yaitu sekitar Rp500 ribu hingga Rp1 juta.

Evi menjelaskan bahwa pasar kayu sebenarnya sepi sebelumnya, dan ketika proses syuting berlangsung, tidak ada orang yang diizinkan masuk ke pasar. Oleh karena itu, kios yang tidak terlibat dalam syuting diberi kompensasi beragam.

Selain itu, Evi dan ratusan warga sekitar seperti pegawai toko, kuli, dan pengantar kayu juga berkesempatan menjadi pemain figuran dalam film Gadis Kretek yang diadaptasi dari novel karya Ratih Kumala.

Mereka menerima kompensasi sebesar Rp150 ribu per hari. Bahkan, Evi sendiri sempat menjadi pemain figuran selama satu minggu.

“Saya membawa kostum sendiri, menggunakan kebaya dan jarik kuno. Saya menggunakan kebaya, karena kebaya tersebut merupakan milik dari mbah saya. Namun, pada awalnya, kami menggunakan pakaian kuno dan rok yang disiapkan oleh tim produksi,” jelasnya. (*/tribun)

About The Author

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: