Perkutut Dianggap Burung Keramat Bagi Masyarakat Jawa, ini Penjelasannya

BNews–SEMARANG– Bagi lelaki Jawa, perkutut bukan burung sembarangan. Ia memiliki nilai filosofis tersendiri yang menjadi lambang ketenangan batin si pemiliknya.

Konon, burung perkutut juga merupakan lambang status sosial bagi pemiliknya. Bahkan sering disebut burung keramat bagi masyarakat jawa.

Dikutip dari Etnis.id, perkutut menjadi simbol status sosial yang tinggi. Hal ini karena dahulu hanya kalangan terpandang saja–seperti raja dan kaum priyayi–yang memilikinya, sehingga tak sembarang orang memeliharanya.

Hal itu juga terkait dengan konsep yang melambangkan kemapanan lelaki dalam budaya Jawa. Pangkat dan derajat laki-laki Jawa belumlah dianggap sukses jika hanya memiliki istri (wanita), rumah (wisma), keris (curiga),dan kendaraan (turangga). Ia juga harus melengkapi dirinya dengan memelihara burung (kukila).

Berkaitan dengan lima hal yang melambangkan kesuksesan lelaki Jawa tadi. Kurang lebih, begini penjelasannya, rumah (wisma) menyiratkan makna bahwa orang hidup harus mempunyai rumah atau tempat tinggal yang mapan.

Hal itu sebagai kebutuhan pokok yang kemudian bisa menciptakan terjadinya sosialisasi antar sesamanya.

Istri (wanita) merupakan sosok pendamping dan sebagai lambang keindahan. Keris (curiga) adalah simbol karisma yang melambangkan kepercayaan diri seseorang.

Loading...

Meminjam istilah budayawan Emha Ainun Najib, keris merupakan pusaka yang menjadi perwujudan dari kemuliaan masing-masing diri pemiliknya.

Sementara kendaraan (turangga) yang arti sebenarnya adalah kuda, merupakan lambang transportasi guna memudahkan dan memperlancar perjalanan seseorang. Terakhir, burung (kukila) adalah simbol ketentraman batin karena bentuknya yang indah dan suaranya yang bagus.

Alkisah Perkutut Sebagai Burung Keramat

Konon kepercayaan mengenai burung perkutut sebagai simbol ketentraman batin orang Jawa sudah ada sejak masa Kerajaan Majapahit. Di zaman itu, ada sepasang burung perkutut yang amat terkenal. Kedua burung itu diberi nama Kiai Jaka Mangu dan Nyai Martengsari.

Dalam Babad Galuh Mataram diceritakan bahwa Jaka Mangu merupakan putra dari Prabu Brawijaya. Sementara Martengsari adalah istri dari Jaka Mangu, menantu Raja Majapahit.

Jaka Mangu dan Martengsari dikabarkan tiba-tiba hilang tanpa diketahui keberadaannya. Peristiwa itu membuat hati sang prabu terpukul. Kemudian ia memerintahkan para punggawa kerajaan mencari putranya.

Akan tetapi, hingga beberapa tahun berselang, usaha pencarian itu tidak kunjung membuahkan hasil. Prabu Brawijaya kemudian bersemadi demi meminta petunjuk Hyang Widhi agar diberi tahu di mana keberadaan anaknya.

Semadinya membuahkan hasil, ia mendapat wangsit bahwa anaknya kini telah menjelma menjadi sepasang perkutut. Mengetahui hal itu, sang prabu langsung memerintahkan para bawahannya untuk membawa sepasang burung perkutut tersebut kembali ke keraton.

Anggung atau suara sepasang perkutut itu sangat merdu. Karenanya kedua perkutut tersebut lantas dijadikan pusaka Keraton Majapahit yang dikeramatkan dan diberi nama Kiai Jaka Mangu dan Nyai Martengsari.

Dalam konteks masa kini, cerita tersebut mungkin hanya dianggap sebagai sebuah mitos yang menyiratkan pesan tertentu melalui simbol-simbol. Namun, hal itu tidak begitu diindahkan, sebab kepercayaan masyarakat Jawa mengenai tuah memelihara burung perkutut toh masih menjadi budaya yang terjaga hingga kini.

Simbol Ketenangan Batin

Menurut Prof. Dr. Suwardi Endraswara, penulis buku Falsafah Hidup Jawa: Menggali Mutiara Kebijakan dari Intisari Filsafat Kejawen, jika keluarga Jawa telah memiliki burung perkutut di depan rumahnya hal itu menunjukkan status sosial tertentu.

Biasanya, orang Jawa yang memelihara burung perkutut hidupnya dianggap telah enak atau mapan. “Karena, burung adalah sebuah klangenan, sehingga asumsi orang awam orang tersebut telah tercukupi kebutuhan yang lain,’’ tulis Suwardi dalam bukunya.

Bagi orang yang kebutuhan dasarnya sudah tercukupi, lanjut Suwardi, mereka lazimnya tak memikirkan kebutuhan ekonomis. Hal itu membuat, memelihara burung yang sebenarnya lebih bersifat hiburan (sekunder) juga dapat terpenuhi dengan baik.

“Bagi mereka, memelihara burung merupakan seni hidup. Burung adalah bagian klangenan yang dinamakan kukila,” jelas ahli kebudayaan Jawa yang lahir di Kulon Progo, Yogyakarta, 3 April 1964 itu.

Suara merdu perkutut dipakai sebagai simbol suara manusia agar dalam berbicara setiap perkataan yang keluar dari mulutnya selalu enak didengar oleh sesamanya. Orang tersebut dituntut untuk menjauhi kata-kata yang akan menyakitkan hati orang lain.

“Bila sudah enak didengar, setiap kata juga hendaknya terdengar tegas berisi dan berwibawa, sehingga orang yang mendengar akan mengindahkannya,” tulis Budiono Herusatoto dalam Simbolisme dalam Budaya Jawa (1984).

Cara Orang Jawa Memperlakukan Perkutut

Burung perkutut yang menjadi simbol klangenan, biasanya dimasukan ke dalam sangkar yang dihiasi dengan cat warna-warni. Kemudian, digantungkan di langit-langit teras rumah atau sengaja dibuatkan tempat ngundha atau menaikan burung di halaman rumah.

Alat ngundha biasanya berupa kerekan seperti tiang untuk menaikan bendera yang dibuat dari bambu atau pipa besi. Burung-burung yang digantungkan lebih tinggi dari rumah, sesekali disapa dengan memetikan jari agar mengeluarkan suaranya yang merdu.

Dalam kondisi menikmati suara burung atau yang biasa disebut manggung, orang Jawa sering kali lupa waktu karena sangat terpesona dengan keindahannya.

“Itulah sebabnya, kalau orang Jawa telah terpesona terhadap kicauan burung maupun anggung kadang-kadang terlena. Mereka sering lupa waktu dan lengah melakukan pekerjaan yang lain,” tulis Prof. Suwardi.

Lanjutnya, yang penting ada kenikmatan batin ketika mendengar suara burung yang berdenting atau dalam istilah Jawa mbekur-mbekur. Karenanya, untuk membuat burung perkututnya mbekur-mbekur, orang Jawa kerap memancingnya dengan cara metheti atau mengajak burungnya bermain dengan menggunakan jari.

Selain metheti kadang-kadang juga dengan cara singsot atau bersiul. Seolah-olah mereka sedang berkomunikasi dengan bahasa yang saling dipahami. Kemudian, kalau burung tersebut telah peka terhadap tanda dari tuannya dan ada kontak ketika dipanggil dengan siulan maupun petikan jari, pemiliknya akan amat bangga dan sangat menikmatinya.

Menurut Suwardi, orang-orang yang memiliki apresiasi terhadap burung perkutut umumnya akan bersikap luwes, tak kaku, tak fanatik dan lentur dalam pemikirannya. Karena sikap dan perilaku orang tersebut akan terbentuk oleh kondisi burung yang selalu riang dan gemar bermain.

Kenikmatan memelihara burung perkutut akan merangsang daya auditif, visual, dan kejiwaan pemiliknya. Kenyaringan bunyi dan keindahan rupa burung, sedikit banyak akan mempengaruhi harmoni kejiwaan manusia.

“Suara burung perkutut yang ‘kung’ maksudnya benar-benar memiliki suara yang merdu, dapat mempengaruhi kegembiraan sanubari pemiliknya,’’ tulis Herusatoto. (GNFI/Lubis)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: