Perpanjangan PPKM Covid-19, Banyak Pengusaha Wisata di Magelang Terpuruk

BNews–MAGELANG– Ganjar Pranowo telah memutuskan masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) diperpanjang sampai 8 Februari 2021 mendatang. Hal ini setelah menindaklanjuti instruksi Mendagri No 2/2021 tentang perpanjangan PPKM. Dan di seluruh wilayah Jawa Tengah untuk menerapkannya.

Hal tersebut membuat para pelaku wisata outdor maupun jasa travel di wilayah Magelang mengeluh. Pasalnya mereka mengaku sudah hampir satu tahun dunia pariwisata terpuruk.

“Perpanjangan PPKM ini bikin remuk redam,” ungkap Tora salah satu agent travel wisata di Magelang (26/1/2021).

Ia juga mengungkapkan, selama pandemi ini pariwisata di Magelang khususnya sangat terpuruk. “Banyak teman-teman sudah pada gulung tikar,” imbuhnya.

Ditanya soal harapannya, Tora mengaku memang hampir tidak mungkin kami berharap akan ada banyak orang untuk mendatangi tempat wisata pada saat PPKM seperti saat ini. Yang terpenting, lanjutnya saat ini adalah pemerintah daerah mulai dari Kabupaten – Provinsi dan terutama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) fokus pada penyelamatan sektor pariwisata.

“Sebenarnya ada tiga langkah yang harus dilalui untuk mencapai tujuan itu, yakni survival, recovery, dan development. Saat ini, jangan dulu fokus pada pemulihan apalagi membangun, yang paling utama biarkan kami pelaku wisata di berikan sedikit ruang untuk bertahan dulu,” tandasnya.

Hal senada disampaikan oleh Agent Travel Wisata di Magelang, Supriyadi yang merasa keberatan dengan perpanjangan PPKM ini. “Jujur berat selaku pelaku usaha kecil menengah seperti kita mas, Apalagi kuliner. Kita jual tempat dan suasana selain menu makan,” ujarnya.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Menurutnya jika pengunjung hanya take away, pihaknya tidak mampu bertahan. “Kita jelas akan kalah dengan industri rumahan yang cost nya ringan. Sehingga bisa jual di bawah harga standar,” tegasnya.

Menurutnya, sudah banyak usaha wisata atau kuliner di Magelang yang tutup. “Sudah banyak yang collapse, dan apa seperti ini akan diteruskan? Kita secara protokol lebih siap, Karena karyawan kita sudah lebih dulu mengikuti dan menjalankan program CHSE yang dicanangkan pemerintah,” ungkapnya.

Supriyadi bahkan beranggapan program CHSE yang diterapkan hanya sia-sia. “Saya berharap pemerintah mau mendengar ini.. Sudah setahun kita di buat tak menentu dengan arah kebijakannya,” harapnya.

Sementara salah satu pelaku wisata outdoor di Magelang , Sahrodin menyampaikan dengan adanya PPKM, pihaknya semakin terjepit. “Sebenarnya kita tetap mendukung pemberantasan covid, tetapi butuh cara tertentu agar usaha pariwisata bisa berjalan. Kita sdh siap melayani pengunjung dengan protokol kesehatan dan CHSE. Pariwisata paling siap menjalankan usaha  selaras dengan penanggulangan covid,” tambahnya.

Sebelumnya diberitakan, seluruh wilayah di Jawa Tengah ditetapkan PPKM oleh Gubernur Ganjar Pranowo. Dimana surat pemberitahuan diterbitakan pada tanggal 25 Januari 2021 kemarin.

Isinya bahwa seluruh daerah di Jawa Tengah diminta menerapkan PPKM jilid 2 mulai 26 Januari 2021 sampai 8 Februari 2021.

Selain itu, terdapat perbedaan pada pembatasan jam operasional. Tempat makan  yang sebelumnya harus tutup pukul 19.00 WIB, sekarang diperbolehkan hingga pukul 20.00 WIB, setelah itu sampai satu jam berikutnya dengan sistem take away.

“Pusat perbelanjaan atau mall juga sampai jam 20.00 WIB, naik satu jam dari sebelumnya. Destinasi wisata melakukan pembatasan maksimal 30 persen dan jam operasional dibatasi sampai pukul 15.00 WIB. Tidak ada piknik malam,” kata Ganjar Pranowo.

Ganjar juga menegaskan bahwa tempat wisata malam seperti karaoke, warnet, game online dibatasi maksimal pukul 20.00 WIB dan maksimal 50 persen. Pihaknya juga menegaskan akan terus melakukan operasi yustisi untuk melakukan pengetatan. (bsn)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: