Pohon Randu Alas Berusia Ratusan Tahun di Tuksongo Borobudur Segera Ditebang
- calendar_month Kam, 8 Jan 2026

Pohon Randu Alas di Tuksongo Borobudur Magelang
BNews-MAGELANG – Pohon randu alas yang diperkirakan telah berusia ratusan tahun di Lapangan Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang; rencananya akan ditebang dalam waktu dekat.
Keputusan ini diambil lantaran kondisi pohon yang telah mati dan mengering, sehingga dikhawatirkan dapat roboh dan membahayakan keselamatan warga maupun wisatawan.
Perlu diketahui, Pohon randu alas tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu ikon Desa Wisata Tuksongo.
Keberadaannya menjadi daya tarik tersendiri, terutama karena Lapangan Tuksongo kerap menjadi tujuan wisata rombongan VW, Jeep, ATV, serta kendaraan wisata lainnya.
Tak sedikit wisatawan yang berhenti untuk berfoto atau berswafoto di lapangan dengan latar belakang perbukitan Menoreh.
Pohon randu alas yang berada di sisi pojok utara lapangan itu bahkan sudah terlihat dari kejauhan karena menjulang tinggi meski tak lagi berdaun.
Secara fisik, batang pohon dari bagian bawah hingga atas terlihat mengelupas dan kering. Kondisi serupa juga tampak pada bagian ranting.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
Di bawah pohon randu alas tersebut sebelumnya juga dimanfaatkan sebagai tempat berteduh, dengan bangunan peneduh yang dibuat melingkar separuh bagian pohon.
Kepala Desa Tuksongo, M Abdul Karim, membenarkan rencana penebangan pohon randu alas yang telah lama menjadi simbol desa tersebut.
“Sebetulnya kami dari desa sangat menyayangkan. Karena pohon randu itu sebagai ikon desa kami, tetapi berhubung pohon randu itu usianya sudah ratusan tahun,” kata Karim saat ditemui, Rabu (7/1/2026).
Menurut Karim, usia pohon randu alas tersebut diperkirakan telah melampaui dua abad.
“Wong itu (pohon randu) dari simbah saya berada, pohon itu sudah besar. Jadi, kemungkinan sudah lebih dari 200 tahunan. Tetapi, berhubung pohon randu itu kebetulan di Lapangan Randu Alas,” jelas Karim.
Ia menjelaskan, Lapangan Randu Alas hingga kini masih aktif digunakan sebagai salah satu spot foto favorit bagi wisatawan yang berkunjung ke Desa Tuksongo.
“Wisata VW, jeep, ATV. Rata-rata tetap masuk ke dalam (lapangan) untuk mengabadikan atau foto di lapangan. Dan, rencana penebangan itu bentuk kita antisipasi sebelum terjadi apa-apa,” lanjutnya.
Karim mengungkapkan, kondisi pohon yang rapuh menjadi alasan utama penebangan dilakukan demi keselamatan pengunjung.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
“Karena pohon randu itu tidak ada galihe, jadi mudah patang. Yang kami takutkan bilamana pohon tidak ditebang, nantinya ada salah satu ranting ataupun pohon yang menimpa para wisatawan,” ungkap Karim.
Sebelum memutuskan penebangan, pemerintah desa bersama BPD dan Bumdes telah berupaya menyelamatkan pohon tersebut dengan menggandeng Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
“Kita sudah ke DLH (Dinas Lingkungan Hidup) minta pengupayaan agar pohon bisa disembuhkan dari pengeringan. Tetapi, kita sudah berusaha pohon itu sudah diobati ternyata tidak mandhi (tetap kering). Mungkin, memang itu sudah waktunya (mati), karena usia dan upaya kami termasuk gagal tidak bisa menyelamatkan,” terang Karim.
Ia menambahkan, penebangan direncanakan akan dilakukan dalam bulan ini setelah pohon dinyatakan mati.
“Rencana penebangan mungkin segera di bulan ini. Insya Allah, kami tebang karena memang pohon sudah dinyatakan mati,” katanya.
Karim juga menyampaikan bahwa lahan tempat tumbuhnya pohon randu alas merupakan gabungan milik warga dan desa. Untuk proses penebangan, pihak desa berencana mendatangkan tenaga ahli dari Wonosobo.
“Desa serta warga sudah sepakat. Kemarin, kita sudah ke PU dan DLH (minta bantuan saat penebangan). Valid belum tahu (penebangannya), penebangan nggak mudah karena besar. Jadi, harus matang persiapannya agar tidak terjadi apa-apa,” tambahnya.
Terkait ukuran pohon, Karim menyebut diameter batangnya sangat besar.
“Diameter (nggak tahu). Pernah dicakup orang 8 nggak nyakup,” tuturnya.
Sementara itu, salah satu warga Desa Tuksongo, Atmojo, mengakui bahwa pohon randu alas tersebut memiliki nilai simbolis dan historis bagi desa.
“Karena barometernya wisata di Lapangan Tuksongo, salah satunya randu alas. Ya memang karena kondisi alam,” katanya.
Atmojo berharap penebangan tidak dilakukan hingga ke bagian bawah pohon agar tetap menyisakan penanda sejarah.
“Kalau saya nggak usah dipotong semua (dari bawah), tapi disisakan paling nggak 5 meter. Di sini akan menjadi penanda. Secara historis, kalau orang bertanya masih ada sisanya karena sudah menjadi ikon,” ujar Atmojo.
Ia menegaskan, apabila pohon ditebang hingga habis, maka nilai ceritanya akan hilang.
“Kalau saya pengennya jangan dipotong semua. Tapi, disisakan sebagai penanda,” pungkas Admojo. (*)
About The Author
- Penulis: BNews 2





Saat ini belum ada komentar