Pohon Randu Alas Ikon Tuksongo Borobudur Batal Ditebang, Ini Alasannya
- calendar_month Sel, 13 Jan 2026

Pohon Randu Alas Ikon Tuksongo Borobudur Batal Ditebang, Ini Alasannya
BNews-MAGELANG – Pohon randu alas yang menjadi ikon Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang batal ditebang hari ini, Senin (12/1/2026).
Keputusan ini diambil karena pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magelang ingin terlebih dahulu meneliti kondisi pohon raksasa tersebut sebelum proses penebangan dilakukan.
Pagi tadi, rencana penebangan sempat dimulai dengan prosesi tradisi selamatan yang melibatkan 7 ingkung dan 9 jenang warna merah putih.
Pohon itu juga telah dipasangi tali tambang atau sling, dan ranting-ranting di bagian bawahnya telah dipangkas sebagai persiapan awal.
Namun pada siang harinya, saat tim dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) tiba di lokasi, para pekerja sudah beristirahat.
Bahkan, hujan deras mengguyur wilayah Kecamatan Borobudur, sehingga proses penebangan pun terhenti.
“Jadi sementara pemotongan randu alas ditunda. Karena dari tim Pak Bupati pengin mempelajari atau meneliti, apakah pohon randu masih bisa diselamatkan atau tidak,” kata Kepala Desa Tuksongo M Abdul Karim, Senin (12/1/2026).
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
Abdul Karim menyatakan bahwa jika penelitian menunjukkan pohon randu alas masih bisa diselamatkan, besar kemungkinan besok penebangan tidak akan dilakukan. Namun, jika pohon dinyatakan sudah mati, proses penebangan tetap akan dilanjutkan sesuai hasil kajian.
“Jadi, misalkan masih bisa diselamatkan, kemungkinan besar besok nggak jadi ditebang. Hanya saja, mungkin ranting-rantingnya yang rapuh dibersihkan,” tambah Karim.
Hasil pemeriksaan awal oleh DLH menunjukkan adanya tanda-tanda kehidupan pada bagian bawah pohon, berupa tunas baru.
Kendati demikian, tim ahli menyarankan agar *cabang-cabang pohon yang mengarah ke area ramai pengguna jalan atau wisatawan tetap diamankan lewat pemangkasan.
Perlu dicatat bahwa beberapa netizen sempat memperbincangkan tentang getah pohon yang terlihat merah dan mengira hal tersebut sebagai sesuatu yang mistis.
Menanggapi hal ini, Kepala Bidang Pengelolaan Keanekaragaman Hayati dan Kearifan Lokal DLH Kabupaten Magelang, Joni Budi Hermanto, menegaskan bahwa warna merah tersebut adalah getah alami dari pohon randu alas, bukan darah. (*/detik)
About The Author
- Penulis: BNews 2


Saat ini belum ada komentar