Pusaka Keraton Jogja Ini Pernah Keluar Saat Warga Diserang Wabah Penyakit

BNews—JOGJA— Sebuah pusaka milik keraton Jogjakarta ini akan dikeluarkan dalam kondisi tertentu. Terutma saat terjadi wabah besar besaran yang memakan korban rakyatnya.

Dikutip dari wikipedia, pusaka itu bernama Kangjeng Kyai Tunggul Wulung, Pusaka dalam wujud bendera ini juga dijadikan simbol (panji) Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan dikeramatkan sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Menurut para abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, bendera ini berasal dari kain kiswah Ka’bah dari Mekah. Menurut perkiraan, usia panji ini sudah sangat tua, bahkan lebih tua daripada Keraton Yogyakarta sendiri, yang berdiri tahun 1755.

Kiswah itu menurut pihak keraton didapatkan dari peninggalan kerajaan Demak yang diberikan kekhalifahan Turki kepada Raden Fatah. Penguasa Demak sebagai bukti adanya hubungan pada abad ke-14.

Kangjeng Kyai Tunggul Wulung diberi nama demikian karena benda pusaka tersebut berwarna dasar biru tua kehitam-hitaman, dalam bahasa Jawa warna tersebut disebut wulung. Di tengah bendera terdapat dekorasi berwarna emas, dan di tengah dekorasi terdapat kaligrafi Surat Al Kautsar, Asma’ul Husna, dan Syahadat.

Mengutip dari buku Kerajaan Nusantara; Bendera Kanjeng Kyai Tunggul Wulung, pada waktu tertentu, bendera ini pernah diarak keliling kota dan di beberapa perempatan jalan diserukan lafadz adzan. Prosesi ini dimaksudkan sebagai upaya untuk tolak bala dan memohon kesembuhan bagi seluruh rakyat di Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

“Pada zaman penjajahan Jepang, Kanjeng Kyai Tunggul Wulung pernah diarak keliling kota karena saat itu Yogyakarta pernah terkena wabah pes yang banyak memakan korban meninggal,” ujar mbah Darto sperti dikutip kr belum lama ini.

Saat diarak, pusaka ini yang wajib membawa adalah abdi dalem dengan pangkat bupati. Konon pembawa pusaka ini harus ikhlas, karena akan meninggal dunia setelah mengarak pusaka. Pusaka ini tidak boleh dilihat untuk umum meskipun saat diarak sekalipun. Hanya keluarga keraton dan abdi dalem saja diperkenankan melihatnya. (her/wan)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: