Santri Magelang : Terimakasih Pak Jokowi Berkat Panjenengan Santri Diakui

BNews—TEGALREJO— Presiden Jokowi menggelar silaturahmi di sejumlah Pesantren di Kabupaten Magelang. Mulai dari Pondok Pesantren Watu Congol hingga di Ponpes API Tegalrejo.

Di kedua pondok pesantren tersebut, Jokowi disambut antusias oleh masyarakat sekitar. Juga oleh para kyai dan santri.

Pantuan BorobudurNews.com orang nomor satu di Indonesia tersebut memang cukup akrab dengan siapapun. Tidak canggung ketika harus bertemu masyarakat umum dan juga para santri.

Di Ponpes API Tegalrejo misalnya, Jokowi berdialog dengan para santri. Bahkan, ketika ada seorang santri yang memberikan tulisan di atas kertas biasa bertuliskan Jangan Lupa Bahagia.

“Ini tulisannya ‘Jangan lupa bahagia’. Kenapa nulis jangan lupa bahagia? Untuk siapa?” tanya Presiden.

“Untuk kita semua, Pak. Khususnya panjenengan karena berkat panjenengan santri diakui,” jawab Bisri lugas.

Pengakuan terhadap santri yang ia maksud adalah Hari Santri. Presiden pun memaparkan pada akhir tahun 2018, pemerintah telah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri.

Loading...

“Itu pengakuan negara terhadap peran ulama, peran santri atas semua pembangunan yang ada di negara ini,” ucap Presiden.

Masih penasaran dengan alasan Bisri menulis pesan “Jangan lupa bahagia”, Presiden kembali meminta Bisri untuk menjelaskannya. Presiden pun menuturkan bahwa dirinya selalu mensyukuri apa pun yang diberikan Allah kepadanya.

“Kita dilahirkan ibu kita. Hakikat kita dilahirkan di dunia untuk bahagia, Pak,” ungkap Bisri disambut tepuk tangan ratusan santri yang hadir.

“Bahagia itu apa?” tanya Presiden.

“Bahagia itu taat ibadah kepada Gusti Allah. Takzim kaleh pemerintah. Nderek kalih syekh. Selalu tersenyum dalam keadaan apapun,” tutur Bisri.

Pembawaan Bisri yang santai dan humoris pun membuat suasana pertemuan semakin hangat. Ia kemudian diminta untuk menjelaskan tulisan di sisi lain papan tersebut, yaitu “Ojo nesu”.

“Nesu itu sifat yang tidak baik. Ojo nesu berikan prinsip kabeh kuwi ojo nganggo emosi.Jadi semua sesuatu kalau pakai emosi akan tidak baik dan memberikan banyak mudharatbuat orang lain,” ungkap Bisri.

“Jadi ojo nesu itu kalau bahasa Indonesianya apa? Jangan marah, betul. Jadi segala sesuatu kalau dibawa emosi, dipikir dengan cara marah itu pasti menghasilkan sebuah hal yang tidak baik. Baik dalam memutuskan, baik dalam mengerjakan segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan kita nggih,” kata Presiden mengamini pernyataan Bisri.

Di penghujung dialog, Presiden memberikan Bisri sebuah kenang-kenangan berupa album foto berisi foto keduanya saat berdialog. Bisri pun spontan mengucapkan rasa syukurnya atas kenang-kenangan tersebut.

“Ini kalau ditukar sepeda insyaallah bisa dapat lebih dari 20 sepeda,” canda Presiden menutup dialog. (bn1)

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: