Subsidi Gas Melon Bakal Dicabut, Ini Penjelasannya

BNews–NASIONAL– Tabung Gas LPG 3 kg kedepan tidak bisa dibeli sembarangan orang. Pemerintah memastikan akan mencabut subsidi elpiji 3 Kg alias gas melon tersebut.

Kebijakan tersebut direncanakan akan dilakukan mulai awal semester II-2020. Dimana nanti akan diterapkan pembelian elpiji secara tertutup.

Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM, Djoko Siswanto, mengatakan kedepan akan ada beberapa skema yang telah diajukan. Skema tersebut antaranya adalah pembelian menggunakan sistem kode batang (barcode) atau menggunakan mekanisme biometri.

“Jika menggunakan kode batang, nantinya Kelompok Penerima Manfaat (KPM) akan diberikan kartu yang terhubung langsung dengan perbankan. Pembelian elpiji akan otomatis terekam,” katanya (14/1/2020).

Disebutkanya, bahwa skeman ini sudah melalui uji coba. “Uji coba di beberapa tempat pakai kartu, Pertamina pakai QR code. Nanti yang beli elpiji 3 kg langsung terekam. Misal, beli tiga tabung Rp100.000, nanti langsung transfer ke QR ini. Data sudah ada, kebijakan seperti apa, belum diputuskan,” paparnya.

Sementara itu, Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) mengusulkan mekanisme biometri, agar penerapan penyaluran subsidi Elpiji lebih tepat sasaran. Kepala Unit Komunikasi dan Pengelolaan Pengetahuan TNP2K Ruddy Gobel pun mengatakan, TNP2K telah menyelesaikan uji coba penyaluran subsidi Elpiji ‎tertutup.

“Secara teknis sudah siap, pakai teknologi biometrik,” ungkap Ruddy.

Menurutnya, penerapan mekanisme biometri untuk penyaluran subsidi Elpiji akan lebih tepat sasaran. KPM yang ingin mengisi Elpiji bersubsidi bisa datang ke agen atau toko, kemudian KPM diverifikasi biometrik dengan aplikasi Linkaja dengan memotret KPM. Langkah berikutnya memasukkan NIK KPM.

“Setelah NIK dimasukan, akan muncul data KPM dan saldo bantuan. Dalam aplikasi tersebut ada juga fitur histori transaksi bantuan. Setelah transaksi pembayaran selesai KPM bisa mengambil Elpiji,” terangnya.

DOWLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Mekanisme ini membuat subsidi elpiji diberikan langsung kepada rumah tangga, bukan pada harga elpijinya. “Untuk menerapkan penyaluran subsidi Elpiji tertutup ini perlu adanya perubahan regulasi. Perbuhannya yaitu Peraturan Presiden Nomor 104 Tahun 2007 tentang penyediaan, pendistribusian dan penerapan harga Liquified Petroleum Gas (LPG) 3 Kg,” tegasnya.

Kendati telah menguji coba dua skema, tapi hingga saat ini pemerintah belum menentukan pilihan. “Pemerintah akan terus memantau volume elpiji bersubsidi yang disalurkan meski hanya dari Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE) hingga ke pangkalan,” tambah Direktur Pembinaan Usaha Hilir Minyak dan Gas Kementerian Energi, Mohammad Hidayat.

“Begitu sudah ke pengecer, sudah susah untuk dipantau,”imbuhnya.

Metode pembelian tertutup juga diharapkan dapat menekan angka pembeli elpiji bersubsidi yang tak semestinya, serta memenuhi kebutuhan keluarga yang membutuhkan. “Yang ingin kita pastikan masyarakat benar-benar terpenuhi kebutuhannya dalam sebulan. Apakah cukup 9 kilogram artinya cukup tiga tabung atau empat kali itu juga kita hitung,” jelasnya.

“Hal ini kebutuhannya real-nya berapa juga harus jelas perkiraanya. Kalau bisa dirumuskan, harga bisa dirumuskan, nanti mekanismenya setiap bulan si penerima ini akan diberikan jumlah uang sekian,” pungkasnya. (*/bsn)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: