Tinggal 1 Pasien Covid-19, Kota Magelang Peringkat Ke-17 Reproduksi Efektif Se Jateng

BNews—MAGELANG—Kasus terkonfirmasi positif Covid-19 terakhir di Kota Magelang diketahui pada 13 Juni lalu. Hal tersebut pun membuat perkembangan kasusnya menunjukkan tren yang baik.

Menurut Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Magelang dr Majid Rohmawanto, berdasar data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah per 26 Juni 2020, angka Rt (Reproduksi efektif) Kota Magelang yakni 0,14. Diketahui jika angkanya di bawah satu, maka peluang penyakit itu menular ke orang lainnya lebih rendah.

Dapat diartikan, kasus Covid-19 di Kota Magelang sudah bisa dikendalikan setelah Pemkot memberlakukan sejumlah upaya percepatan penanganan. ”Dengan angka tersebut, kita peringkat 17 daerah di Jawa Tengah yang memiliki angka Rt kurang dari 1,” kata Majid, kemarin (30/6/2020)

Meskipun demikian, Kota Magelang masih masuk kategori daerah di Jawa Tengah dengan zona orange. Lanjut Majid, zonasi risiko dihitung berdasarkan indikator-indikator kesehatan masyarakat dengan menggunakan skoring dan pembobotan, meliputi indikator epidemiologi, indikator surveilans kesehatan masyarakat dan pelayanan masyarakat.

”Berdasarkan hitungan, Kota Magelang memiliki skor sebesar 1,93. Artinya, potensi penularan virus corona di Kota Magelang itu masih cukup tinggi,” imbuh Majid.

DPD PKS Magelang Ramadhan

Sedangkan potensi penularan dinilai masih tinggi disebabkan beberapa kendala. Antara lain laju insidensi (perbandingan suatu kejadian dengan jumlah penduduk) kasus positif per 100.000 penduduk.

”Akan selalu tinggi, karena jumlah penduduk Kota Magelang kurang dari 150.000 jiwa. Jadi mesti berat, begitu muncul 1 kasus, maka laju insidensi kita langsung tinggi,” jelasnya.

Faktor lainnya adalah banyaknya pendatang dari luar daerah yang berisiko. Kemudian kurangnya kedisiplinan masyarakat di area publik untuk menerapkan protokol kesehatan, selain itu juga masih adanya masyarakat yang belum menerima pasien dengan karantina mandiri.

Download Musik keren Disini

”Masih adanya masyarakat yang belum menerima pasien yang melakukan karantina mandiri sementara pasien sendiri sudah bosan di rumah sakit,” tutur Majid.

”Hal yang perlu dilakukan adalah salah satunya dengan kerjasama semua pihak dalam penegakan protokol kesehatan di semua lini, serta penguatan di masyarakat sehingga bisa menerima pasien dengan tanpa gejala,” pungkasnya. (mta)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: