Tolong…Kakek di Dukun ini Hidup Sebatang Kara dengan Penyakit Tumor Ganas

BNews-DUKUN—Namanya Ismail, pria umur 45 tahun ini hidup sebatang kara di lereng merapi. Mail sapaan akrabnya tinggal di sebuah rumah sederhana di Dusun Demo Desa Banyudono Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang tinggal seorang diri dengan penyakit ganas yang dideritanya.

 

Mail divonis menderita kangker ganas di bagian leher kanan dan pangkal antara kedua matanya sehingga penglihatanya 80 % tidak berfungsi. Bagian leher bawah telinga kanannya membengkak dan sering terasasakit.

 

Dengan didampingin Kepala Dusun Demi Rohmad widodo, 43, Borobudur News mendatangi rumah Ismail untuk menggali informasi lebih dalam lagi. Disebuah rumah belakang sebuah mushola Ismail tinggal seorang diri tanpa orang tua ataupun kerabat.

 

Saat kami datang, Ismail dengan mata yang hanya mampu terpejam saja, dengan bercelana pendek warna hijau duduk di depan rumah untuk mendapat sinar matahari langsung. Dengan dua lembar koyok dikeningnya, keluar getah bening dari hidungnya dan perawakannya tua tidak seperti pria seumuran 45 tahun.

MIRIS: Ismail, 45 dengan memejamkan mata karena memang sudah susah untuk membuka kelopak matanya duduk sendiri di depan rumah nya pagi tadi (24/4)--(Foto--bsn)
MIRIS: Ismail, 45 dengan memejamkan mata karena memang sudah susah untuk membuka kelopak matanya duduk sendiri di depan rumah nya pagi tadi (24/4)–(Foto–bsn)

Sebuah rumah peninggalan neneknya yang ada berkat bantuan dari tetangganya sehingga bisa memilik dinding dari sebuah batako. “Dulu sebelumnya nenek dan tantenya yang mengasuh Ismail meninggal dunia tahun 2016, rumah ini masih berdinding bambu dan hampir roboh,”ungkap Rohmad.

 

Ismail sebenarnya adalah seorang pendatang dari Kalimantan. Orang tuanya meninggal di Kalimantan sehingga ismail pada tahun 1990an datang kesini dan tinggal bersama tante dan neneknya dengan kondisi depresi berat dengan membawa beban mental.

 

Karena Ismail sedang dalam kondisi sakit, penglihatannya terganggu serta sudah sudah diajak komunikasi maka informasi dijabarkan luar oleh Kepala Dusun dan Ketua RT nya. “Semenjak ditinggal meninggal dunia tantenya tahun 2016 dan neneknya tahun 2011 silam, kondisi ismail semakin memprihatinkan,” jelas Rohmad.

 

Penyakit Ismail mulai kelihatan dan sering mengeluh sakit. Makanan sudah tidak bisa masuk dalam tubuhnya, setiap diberikan makanan pasti muntah dan disertai darah keluar dari hidungnya,mungkin dikarenakan kangker ganas yang dideritanya.

 

Dengan merintih kesakitan, Ismail menjawab saat ditanya mau minum susu? Dijawabnya mpun (sudah). Besok dipriksa lagi ke dokter ya, dijawab Ismail mboten mboten ( Tidak Tidak).

 

“Dulu dengan kondisi beban mental dan depresi Ismail sempat membantu warga sini yang sedang membangun rumah atau bersih-bersih walaupun tidak disuruh, namun warga tetap memberikan upah sewajarnya untuk bertahan hidup,” terang Rohmad.

 

Tapi ya begitulah semenjak sisa kelaurganya meninggal dunia dia semakin memprihatinkan. Saat ini kesehariannya dia menjagakan uluran masyarakat Dusun Demo, mulai dari memberinya asupan makanan berupa susu dan biaya pengobatan.

 

“Sebenarnya dia tidak mau diperiksakan ke Dokter, namun warga secara gotong royong iuran untuk pengobatannya,” imbuh Rochmad.

 

Belum lama ini Mail kami bawa ke RSUD Muntilan dan divonis kangker ganas tersebut. Namun pihak RSUD Muntilan angkat tangan tidak bisa mengatasinya karena terkendala peralatan.

 

Dari pihak RSUD Muntilan menyarankan untuk dirujuk ke RS Sardjito Yogyakarta yang alatnya lebih memadahi. “Meskipun Ismail sudah kami buatkan Kartu Indonesia Sehat (KIS) namun yang kami khawatirkan adalah biaya lain-lain diluar KIS termasuk yang menunggungnya, dimana rencana besok 25 April 2018 kami akan antar Ismail ke RS Sardjito Yogyakarta,” Ujarnya.

 

Rohmad juga menerangkan bahwa warga Demo bersepakat untuk melakukan iuran seikhlasnya untuk perawatan Ismail, dari Iuran yang terkumpul 2 juta rupiah ini akan dipergunakan untuk menyewa trasportasi dan membawayar salah satu warga untuk menjaga Ismail. “Nanti orang ini akan kami bayar harian menjaga Ismail sebesar Rp. 150.000 tiap harinya,” terangnya.

 

“Yang saya khawatirkan mau hingga kapan, karena anggaran donator dari warga pasti akan menipis dan terbatas, saya harap dari pohak terkait mau untuk membantu Ismail,” pungkasnya. (bsn)

1 Comment
  1. Turbo Choice Diet says

    Hello.This post was extremely fascinating, especially because I was searching for thoughts on this issue last
    Friday.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: