Usai Melahirkan, Guru Asal Windusari Tega Bunuh Bayinya

BNews—WINDUSARI—Seorang oknum guru honorer Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kecamatan Windusari tega membunuh bayi yang baru berusia beberapa menit. Pelaku Mamanita Rosita, 26, diketahui langsung membunuh bayinya lantaran malu melahirkan buah hati hasil hubungan gelap dengan sang pacar.

Waka Polres Magelang Kompol Eko Mardiyanto didampingi Kasat Reskrim AKP Bayu Puji Haryanto mengatakan, peristiwa terjadi pada hari Minggu, (24/3). Kasus kekerasan terhadap anak baru terbongkar setelah tetangga curiga dengan gundukan tanah menyerupai kuburan di belakang rumah pelaku.

”Tanggal 15 April kami mendapat laporan warga. Kami langsung terjun ke lokasi dan setelah dibongkar memang benar terdapat bayi dalam kondisi tidak bernyawa,” terang Eko dalam konferensi pers di Mapolres Magelang, sore ini (16/4).

Guna memudahkan proses identifikasi jasad bayi yang belum sempat diberi nama itu, polisi menggandeng Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Bid Dokkes) Polda Jawa Tengah. Hasil otopsi dokter polisi, korban berjenis kelamin perempuan.

”Juga terdapat bekas luka memar di bagian wajah,” imbuh Kasat Reskrim Bayu Puji Haryanto.

Kembali diutarakan Eko, modus yang digunakan pelaku adalah menganiaya korban dengan cara membekap bagian hidung dan mulut korban menggunakan tangannya. Penganiayaan dilakukan beberapa menit setelah korban lahir di kamar rumahnya.

”Setelah itu korban menyipakan cangkul serta serok untuk kemudian menguburkan sendiri bayinya di belakang rumah dengan kedalaman 50 sentimeter,” ungkapnya.

Jelas Eko, Mamanita yang masih bujang itu cukup lihai dalam menyembunyikan kehamilannya. Orang tua yang tinggal satu atap dengan pelaku pun diduga tidak mengetahui bila anaknya hamil hingga sembilan bulan.

”Jadi cukup rapi mulai menyembunyikan hubungan gelap dengan pacarnya, masa kehamilan, melahirkan, penganiayaan hingga menguburkan banyinya,” jelasnya.

Pelaku yang berstatus guru honorer itu dalam konferensi pers tidak dihadirkan. Polisi beralasan pelaku hingga sekarang masih dalam kondisi sakit. Eko mengaku, kondisi itu tidak mempengaruhi pihaknya untuk terus mengembangkan penyidikan lebih lanjut.

”Sekarang kami masih terus mengumpulkan barang bukti dan keterangan saksi yang cukup untuk mengejar ayah si bayi alias pacar pelaku,” tegasnya.

Akibat perbuatannya, polisi menjerat pelaku dengan Pasal 80 ayat (3) UU No 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UURI No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pelaku diancam pidana paling lama 15 tahun atau denda paling banyak Rp 3 miliar. (han)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: