Zakat PNS Pemprov Jateng Terkumpul Rp 2,5 Miliar Perbulan, Ini Kegunaannya

0
165
SOSIAL: Ganjar Pranowo saat mengisi sambutan di acara Jateng Bersholawat do Alun Alun Wonosobo (1/3)--(Foto-ihr)
SOSIAL: Ganjar Pranowo saat mengisi sambutan di acara Jateng Bersholawat do Alun Alun Wonosobo (1/3)--(Foto-ihr)

BNews—WONOSOBO – Komitmen Pemerintah Jawa Tengah di bidang keagamaan layak diapresiasi. Perhatian terhadap sektor keumatan ini sangat baik di bawah kepemimpinan Ganjar Pranowo dan Taj Yasin.

Gubernur menegaskan jika Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tidak akan meninggalkan pembangunan di sektor agama. Pada periode kedua pemerintahannya, Ganjar bahkan telah mengeluarkan program bantuan untuk pengembangan pondok pesantren, guru agama, guru Madrasah Ibtidaiyah, Guru Taman Pendidikan Al-Quran serta pengembangan pendidikan keagamaan lainnya.

Hal itu disampaikan Ganjar di depan ribuan Syechermania dalam acara Jateng Bersholawat di alun-alun Wonosobo, Jumat (1/3/2019) malam. Menurut Ganjar, pembangunan sektor agama penting karena menjadi salah satu penentu kesuksesan pembangunan negara.

Ganjar juga mengatakan jika tengah mengoptimalkan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Saat ini, semua pendapatan dari Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemprov Jateng untuk membayar zakat sebesar 2,5 persen.

“Hasilnya sangat besar, dalam sebulan lebih dari Rp2,5 miliar hasil yang terkumpul. Uang tersebut dapat digunakan pula untuk berbagai program, seperti renovasi rumah tidak layak huni, pembangunan pondok pesantren, sekolah dan sebagainya,” tegasnya.

Ia terus berusaha mendorong optimalisasi Baznas di Jawa Tengah. Selain di Provinsi, pihaknya juga mendorong optimalisasi Baznas di seluruh Kabupaten/Kota.

“Di periode kedua ini, saya didampingi Gus Yasin yang paham sekali tentang agama. Bersama beliau, kami menyusun berbagai program untuk pengembangan pendidikan agama di Jawa Tengah,” kata Ganjar.

Salah satu program yang telah dilakukan adalah memberikan bantuan berupa insentif kepada guru ngaji, guru TPQ, guru Madin dan pembangunan pondok pesantren. Tak tanggung-tanggung, anggaran Rp200 miliar lebih telah disiapkan untuk membantu pengembangan pendidikan agama di Jawa Tengah.

“Maaf, memang tidak terlalu besar, namun ini upaya kongkret kami dalam memperhatikan pendidikan agama di Jawa Tengah,” tambahnya.

Di hadapan Habib Syech bin Abdul Qodir As-Segaf, Ganjar tak lupa mengajak seluruh masyarakat Jawa Tengah untuk tetap menjaga persatuan dan kerukunan. Apalagi, menjelang pesta demokrasi, masyarakat diminta tidak mudah termakan isu berita yang menyesatkan, hoaks, ujaran kebencian dan sebagainya.

“Mari tetap menjaga kerukunan dan persatuan. Jangan mudah terpancing isu hoaks. Kalau ada kabar yang menyesatkan dan belum tentu kebenarannya, tanya pada romo kyai untuk mengecek kebenarannya,” pungkasnya.

Selain dihadiri Gubernur Ganjar dan Habib Syech, acara itu juga dihadiri sejumlah pejabat. Seperti Bupati Wonosobo, Eko Purnomo, Ketua MUI Jateng KH Ahmad Darodji dan Rais Syuriyah PWNU Jateng, KH Ubaidillah Shodaqoh.

Dalam tausiahnya, KH Ubaidillah Shodaqoh mengajak seluruh masyarakat untuk terus bersholawat. Menurutnya, dengan bersholawat maka hati akan tenang dan pikiran tentram.

“Kalau hati dan pikiran tenang, maka kita tidak akan mudah termakan isu hoaks dan ujaran kebencian lainnya,” ucapnya.

Dirinya menerangkan, isu hoaks sebenarnya bukan hal baru. Sejak zaman Nabi Muhammad, berita bohong juga sudah berkembang.

“Jadi kalau mendapat informasi yang tidak jelas sumbernya, maka tabayyun. Harus dicari sumber kebenarannya, jangan tidak tahu malah ikut menyebarkan isu hoaks tersebut,” tutupnya. (lhr/bsn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here