Mengenang Tragedi Bom di Candi Borobudur dan Pelaku yang Masih Misterius

BNews—BOROBUDUR—Objek wisata Candi Borobudur di Kabupaten Magelang ternyata pernah menjadi sasaran pengeboman di era orde baru. Tepatnya 21 Januari 1985, 34 tahun silam.

Oleh sejumlah ahli, tragedi itu ditetapkan sebagai kejadian terbesar di dunia kepurbakalaan. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam tragedy itu.

Dalam kejadian itu, sembilan bom meledak. Ledakan pertama terdengar pukul 01.30 dini hari. Sedangkan ledakkan kesembilan terdengar pukul 03.30 pagi. Sembilan stupa dan dua patung Buddha rusak.

 Ledakan itu terdengar 10 menit setelah Suyono dan Triyanto mulai berpatroli. Kedua anggota Satpam Candi Borobudur (pada saat itu berjumlah 56 orang) itu terhenyak.

Sumber ledakan tidak mereka ketahui. Cuaca gelap pukul 01.30 pada Senin, 21 Januari 36 tahun yang lalu itu menghalangi penglihatan mereka. Satu menit kemudian ledakan kedua terdengar. Kali ini terlihat kepulan putih di sisi timur candi Borobudur.

Bergegas kedua orang itu lari melapor ke pos induk. Secara beruntun, kemudian terdengar beberapa ledakan lagi. Ledakan terakhir (yang kesembilan) terdengar pada pukul 03.40, sepuluh menit setelah kepala Polres Magelang tiba di tempat kejadian. Tatkala para petugas naik ke candi, mereka menemukan pecahan batu berserakan di lantai dan tangga candi.

Di sana-sini terlihat tubuh-tubuh patung Budha tergeletak dengan kepala patah. Tujuh stupa yang rusak terkena ledakan terletak di sisi timur. Tiga stupa di lantai 8, dua stupa di lantai 9, dan empat di lantai 10. Pukul 05.30, tim Jihandak (Penjinak Bahan Peledak) dari Yon Zipur Magelang, yang terdiri dari tujuh orang dan dipimpin Kapten Mardjono, tiba di lokasi pengemboman candi

Husein Ali al-Habsyi dan saudaranya Abdulkadir Ali al-Habsyi kemudian ditangkap polisi. Keduanya dihukum sebagai pelaku pengeboman Candi Borobudur kala itu.

 Dari sejumlah sumber yang dihimpun borobudurnews, Abdul Kadir dihukum selama 20 tahun penjara oleh majelis hakim. Sementara Husein Ali dijatuhi hukuman seumur hidup. Meski keduanya akhirnya bebas di tahun 1994 dan 1999.

Dalam persidangan itu, kedua terpidana menyebut nama Muhammad Jawad sebagai otak pelaku bom Candi Borobudur. Namun, sampai sekarang belum ada titik terang dimana dia berada karena tak pernah terungkap. (bn1/jar)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: