Belajar Sejarah Untuk Tameng Generasi Penerus Bangsa

BNews–BOROBUDUR – Sejarah tak seharusnya ditumpangi muatan politik ataupun kepenting lainnya yang akan merusak akan arti sejarah. Maka dari itu generasi muda saat ini harus mengetahui sejarah bangsanya sendiri agar bisa menjadi acuan kedepannya.

 

Dengan alasan tersebut maka digelar Diskusi dan Sarasehan Sejarah, penguatan karakter bangsa melalui kearifan sejarah di SMP Muhamadiyah Boarding School Borobudur (27/4). Acara yang diselenggarakan Young Leader Forum Jakarta diikuti peserta siswa-siswi sekolahan tersebut.

 

Ketua Panitia sekaligus perwakilan dari Young Leader Forum Jakarta, Rahmatullah Basri mengatakan bahwa saat ini banyak sejarah diselewengkan ditumpangi kepentingan, sehingga menjadi tidak jelas. “Hal ini tentu saja menjad permasalahan bagi generasi muda tentunya,” katanya.

 

“Masa depan bangsa kita sedikit banyak dipengaruhi sejarah masa lalu, dan kita ketahui bersama bahwa bangsa kita ini bangsa yang besar yang harus kita rawat dan jaga tanpa ada rekayasa sejarah,” imbuhnya.

 

Rahmatullah Basri juga menambahkan merawat sejarah dengan pendekatan kearifan lokal, yaitu masyarakat setempat sebagai pemilik budaya dan sejarah setempat. “Meskipun diskusi ini sifatnya masih hanya sebatas membuka kesadaran kepada masyarakat untuk terus merawat sejarah daerahnya sendiri,” tandasnya.

 

DPD PKS Magelang Ramadhan

Sementara Sekwilcam Borobudur, Subiyanto yang turut hadir pada kesempatan tersebut menyampaikan, kemajuan dan kesejahteraan suatu bangsa tidak ditentukan secara signifikan  oleh usia negara atau kekayaan negara. “Namun secara signifikan yang menentukan adalah  sumber daya manusia suatu negara, dan SDM suatu negara sangat ditentukan karakter SDM utamanya generasi muda,” katanya.

 

Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah Boarding School Borobudur, Ahmad Sudjati, menuturkan, dengan adanya kegiatan tersebut, dapat menjadi benteng kepada generasi muda atas serangan budaya luar yang kurang cocok dengan budaya bangsa. “Saya harap dengan acara ini dapat membuka mata terkait sejarah kebudayaan local yang masih harus dibenahi, karena hal ini mampu menjadi tameng bagi generasi muda atas budaya asing yang rawan merusak moral generasi penerus bangsa kita,” pungkasnya. (bsn)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: