Cerita Pemilik Usaha Ampyang di Magelang Bertahan Selama Pandemi Covid-19

BNews—MAGELANG— Ditengah pandemi Covid-19, pemilik usaha Sarita Ampyang terus berusaha bertahan memproduksi ampyang kacang gula jawa. Diketahui usaha ini bertempat di Desa Paremono, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang.

Pemilik usaha Sarita Ampyang, Ita Syarifah (42) mengatakan, pemasaran ampyang sebelumnya lebih banyak ke toko oleh-oleh di beberapa daerah. Namun dengan adanya pandemi, membuat beberapa toko oleh-oleh itu tidak mengorder ampyang.

”Karena tidak ada order, jadi kami jual melalui reseller, medsos/online maupun pasar tradisional. Mengubah segmen pasar. Sekitar bulan Maret 2020 lalu, awal pandemi itu, tidak ada orderan dari toko oleh-oleh. Ada pun ya sedikit, tidak seperti biasanya,” kata Ita, Rabu (7/7/2021).

Dia menjelaskan, dalam satu hari, dirinya mampu memproduksi 200 bungkus ampyang. Dengan satu bungkus seberat 2 ons dan harganya Rp 10.000. Untuk yang bungkus kecil ini disebut ‘Ampyang Rasa Manis Ibu Siti’.

”Sedangkan untuk yang menggunakan toples disebut ‘Sarita Ampyang’, seharga Rp 25.000 dengan berat sekitar 4 ons. Kemudian, untuk berat 1 kilogram itu seharga Rp 50.000,” jelasnya.

Terkait pelaksanaan PPKM Darurat, Ita menyebut bahwa pengiriman pesanan ampyang ke luar daerah terhambat. ”Harusnya, kita (mengirim) ke Kudus dan Semarang, tapi ya di pending dulu. Kita mengantar kesana karena ada beberapa toko. Sekali kita mengirimi itu biasanya 500 bungkus,” ujar dia.

Selain pandemi, Ita menyebut kendala yang dihadapinya saat ini adalah bahan baku ampyang. Sebab dirinya menggunakan bahan baku kacang, yang mana kacang itu musiman.

”Karena kami tidak menggunakan sembarang kacang, biasanya kacang itu dari daerah Jawa Timur. Kemudian bahan baku gula jawa, sekarang untuk mendapatkan gula jawa yang original itu sedikit susah,” ujarnya.

Ita pun menceritakan saat ampyang produksinya diendorse Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno

”(Setelah diendorse) itu ada kenaikan permintaan, khususnya saat Ramadan. Kita menjual sekitar 1 ton ampyang,” ceritanya. (mta)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: