Cerita Pengrajin Batok Kelapa di Borobudur Magelang, Tetap Bertahan Di Tengah Pandemi

BNews–MAGELANG– Arif Dianto, warga Desa Wringin Putih, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang memanfaatkan batok kelapa menjadi berbagai kreasi. Mulai dari pipa rokok, teko, cangkir hingga hiasan lampu.

Dia pun menceritakan awal mula dirinya membuat berbagai karya tersebut.

“Sekitar tahun 2019 sebelum pandemi. Awal mulanya coba-coba memanfaatkan limbah. Batok kelapa milik tetangga itu kok mau dibuang terus saya ambil kemudian bikin kerajinan. Awalnya cuma bikin pipa aja,” katanya, disela-sela pembuatan pipa rokok dari batok kelapa, Selasa (10/8/2021).

Setelah jadi pipa rokok dan digunakan sendiri, lanjut Arif, banyak teman-teman tertarik kemudian memesan. Bahkan ada pedagang di wisata religi di Muntilan yang turut memesan dan hal tersebut berlanjut hingga sekarang.

“Untuk harga pipa rokok, harga mulai Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu. Teko itu Rp 75 ribu, hiasan lampu Rp 55 ribu – Rp 75 ribu, gelas/cangkir itu satu bijinya harga Rp 15 ribu,” imbuhnya.

Arif menjelaskan, sebelum pandemi dirinya mampu memproduksi sekitar 500 buah tiap item dalam satu bulan. Sedangkan pandemi ini, dalam satu bulan hanya bisa membuat maksimal 50 buah.

“Saat pandemi ini ya hanya kalau ada pesanan, baru saya buat. Turunnya banyak, sekitar 60 persen. Sebelum pandemi, perbulan bisa mendapat Rp 15 juta – Rp 20 juta. Sedangkan pandemi ini, sekitar Rp 3 juta – Rp 5 juta perbulan,” jelasnya.

Arif pun berharap, pandemi Covid-19 segera berakhir dan dapat beraktivitas seperti semula. (mta)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: