Cerita ‘Pewarang’ Pusaka saat Bulan Suro di Tengah Pandemi Covid-19

BNews—MAGELANG— Peringatan Tahun Baru Islam atau dikenal sebagai satu Suro telah membentuk tradisinya sendiri. Bagi sebagian masyarakat Jawa, kesempatan ini biasanya diikuti dengan tradisi “Ngumbah” benda pusaka atau dalam bahasa jawanya “Marangi”.

Tradisi ini ternyata membuka peluang usaha jasa marangi benda pusaka. Salah satu pelaku usaha marangi yakni Budiyono (45), warga Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang.

Dia mengaku, setiap mulai tanggal 1 suro sudah mendapat order minimal 10 pusaka yang harus diwaranginya. Namun ditengah pandemi Covid-19 tahun 2021 ini, belum ada yang menggunakan jasanya.

”Suro tahun ini berbeda mas, sepi peminat untuk masyarakat yang ingin marangi pusaka termasuk keris,” katanya, saat ditemui dirumahnya, Senin (16/08/2021).

Dia menceritakan, pernah melakukan pewarangan pusaka sebanyak 60 buah dari berbagai macam jenis seperti Keris, Tombak, Pedang dan lain sebagainya. Namun pada tahun 2021 ini hingga 1 suro kemarin belum ada satu orang pun yang menitipkan pusaka untuk diwarangi.

Budiyono menyebut, jika menjadi seorang pewarang pusaka adalah salah satu mata pencaharianya untuk menghidupi keluarga.

Dia pun berharap, walaupun situasi pandemi masih berlangsung dan membuat semuanya penuh dengan keterbatasan namun tidak melunturkan rasa hormat masyarakat kepada peninggalan adiluhung leluhur seperti pusaka.

Bahkan dirinya menginginkan, semakin banyak yang mencintai pusaka peninggalan sebagai benda budaya yang sudah semestinya harus dirawat dengan baik.

“Semoga semakin banyak yang cinta dengan benda peninggalan leluhur khususnya pusaka. Karena secara budaya terdapat nilai-nilai filosofi dan estetika budaya didalamnya yang bisa dipelajari,” harapnya. (mta)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: