Dahulu Sepeda Onthel Terkena Pajak, ini Nama dan Penjelasannya

BNews–SEJARAH– Banyak masyarakat yang belum tahu bahwa dahulunya sepeda onthel juga memiliki surat pajak. Berarti siapa yang memiliki sepeda onthel juga wajib membayar pajak.

Saat itu nama pajak sepeda onthel disebut ‘plembir’ sebagai plombir. Dimana para pemiliki sepeda onthel kala itu membayar pajak kepada pemerintah Indonesia.

Pada era delapanpuluhan plembir dikenal oleh sebagian masyarakat utamanya yang berdomisili di wilayah Jogjakarta ataupun Surakarta. Karena setiap warga yang memiliki kendaraan berujud sepeda onthel (sepeda kayuh) diwajibkan membeli plombir sebagai bagian dari kewajiban membayar pajak.

Jadi plembir ini adalah satu tanda bukti pembayaran pajak sepeda yang pada lembarannya tertuliskan tahun sesuai masa pembayaran. Keberadaan plembir ini bisa jadi serupa dengan STNK, yaitu setiap satu sepeda kayuh harus memiliki satu plembir, yang menjadi pembeda hanyalah wujud pun tempatnya.

Apabila wujud STNK adalah surat yang bisa dikantongi ataupun ditaruh pada dompet, maka plombir pada sepeda onthel tak boleh dibawa dalam kantong ataupun dompet, melainkan harus ditempelkan pada badan sepeda onthel. Sehingga bahan plembir berujud stiker ini adalah bahan yang tak mudah luntur dan kusam.

Besaran nominal plembir tiap tahun bermacam-macam, ada yang Rp. 50,- , ada yang sebesar Rp. 100,- dan ada pula sejumlah Rp. 250,-. Besaran harga yang harus dibayar bergantung pada jenis dan merk sepeda.

Sepeda jengki tak sama harganya dengan plembir untuk sepeda mini, begitu pula plembir sepeda kumbang tentulah berbeda dibanding keduanya. Sedangkan untuk merk sepeda, yang paling diingat adalah merk phoenix, ini adalah merk sepeda ternama pada jaman dahulu.

Loading...
DOWNLOAD MUSIK KESUKAANMU (KLIK DISINI)

Pada jaman penggunaan plembir ini juga sering terjadi “operasi” sebagaimana yang sekarang acap terjadi pada ‘operasi kelengkapan kendaraan bermotor.’ Bahwa dulu acap terjadi operasi pengecekan plombir yang sering kita sebut dengan istilah momen plembir ataupun cegatan plembir, selain di ruas-ruas jalan, operasi plembir ini juga sering dilakukan di kompleks parkiran pasar.

Dan petugas yang merazia juga cukup galak, karena bagi pemilik yang sepedanya tak ada plembir maka diwajibkan membeli di tempat, dan jika tak memiliki uang maka sepedanya disita. Lebih malang nasibnya apabila tetap masih ‘ngeyel’ dengan berbagai alasan, bukan disita sepedanya saja, tapi pèntil ban akan dibuang oleh petugas operasi, dan pengendaranya disuruh pulang jalan kaki.

Selain pada sepeda, plembir juga diberlakukan pada becak, kereta kuda (andong dan dokar), bahkan anjing juga dikenakan pembayaran plombir, utamanya untuk anjing ras. (*/Lubis)

Kaos Deglang
2 Comments
  1. Tri Akbar Mustopa says

    Bodoh

  2. gunawan wahyudi says

    sekarang sudah beda jaman

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: